Perempuan dan Industri Kecantikan | Tebuireng Online
3 mins read

Perempuan dan Industri Kecantikan | Tebuireng Online


Ilustrasi kecantikan (sumber: samsaranews)

Di mata banyak orang, keberhasilan seorang perempuan seolah hanya diukur dari standar yang itu-itu saja: wajah yang elok, tubuh yang ideal, menikah di usia muda, segera punya anak, lalu hidup dalam limpahan materi. Di luar itu semua, perjuangan, pencapaian, dan perjalanan hidup seorang perempuan kerap dipandang sebelah mata bahkan kerap dihujat habis-habisan jika tidak sesuai standar masyarakat.

Lihat saja bagaimana dunia hiburan memperlihatkan wajah nyata dari pola pikir ini. Dulu, ketika beberapa artis belum tampil dengan wajah yang “cantik versi industri”, mereka diabaikan atau jadi bahan ejekan. Namun seiring perubahan fisik yang notabene dibantu oleh uang dan akses medis pujian dan tepuk tangan mulai datang. Bukan karena talentanya, bukan karena kerja kerasnya, tapi karena “akhirnya cantik juga”.

Lalu, ada juga artis cantik yang memilih berhijab, hidup mandiri, sukses dalam karier, tapi belum menikah. Apa yang didapat? Bukan apresiasi atas pencapaian, tapi komentar menyakitkan: “Kasihan, cantik-cantik tapi belum laku.” “Sayang, udah umur segitu masih sendiri.” Seolah-olah cinta dan jodoh bisa dibeli seperti barang diskonan. Padahal, rezeki, jodoh, dan ajal adalah urusan mutlak Tuhan. Tapi tetap saja, perempuan dianggap gagal hanya karena belum punya pasangan.

Baca Juga: Mitos atau Fakta! Pelabelan antara Laki-laki dan Perempuan

Dan ketika akhirnya menikah, tekanan tak berhenti. Jika belum dikaruniai anak, lagi-lagi perempuan yang disalahkan. Label “mandul” dilempar tanpa belas kasihan. Orang tak pernah bertanya apa yang dirasakan oleh perempuan yang terus dicekoki pertanyaan “kapan punya anak?” seolah hidupnya tak lengkap jika tidak mengandung. Padahal mereka juga berjuang, menanti, berharap, dan berdoa. Tapi rasa sakitnya tak pernah jadi bagian dari empati sosial.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lebih menyedihkan lagi, kini muncul fakta sosial yang mencengangkan. Di berbagai obrolan liar, muncul anggapan bahwa hamil di luar nikah lebih “baik” ketimbang menikah tapi tak kunjung hamil. Betapa ironis. Norma yang dulu dijaga kini dikacaukan oleh logika aneh yang menyudutkan perempuan dari dua sisi: kalau menikah tapi tak punya anak, dianggap gagal. Tapi kalau hamil duluan, malah dibela dengan dalih “yang penting bisa punya anak.”

Dari semua ini, kita harus bertanya: kenapa perempuan selalu harus jadi pihak yang dibenarkan hanya jika sesuai dengan ekspektasi orang? Kenapa keberhasilan perempuan harus diukur dari urusan rahim, rias wajah, dan cincin di jari?

Perempuan seharusnya tak perlu membuktikan eksistensinya dengan cara-cara yang disusun oleh standar sosial yang sempit. Kecantikan bukanlah satu-satunya nilai. Pernikahan bukanlah satu-satunya jalan hidup. Kehamilan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Baca Juga: “Kecantikan” Seperti yang Tampil di Layar Kaca

Namun, dalam masyarakat kita, perempuan yang melangkah dengan prinsip, memilih sendiri jalannya, dan hidup dengan bijak jika tidak sesuai dengan “peta” umum mereka dianggap keliru, tersesat, bahkan gagal. Padahal bisa jadi mereka jauh lebih bahagia, lebih kuat, dan lebih penuh makna daripada mereka yang hanya menjalani hidup demi validasi sosial.

Saatnya kita berhenti menuntut perempuan untuk terus memenuhi daftar periksa yang disusun oleh orang lain. Berhenti menjadikan pernikahan sebagai simbol keberhasilan, dan berhenti menganggap rahim sebagai tolok ukur nilai perempuan. Perempuan tidak diciptakan hanya untuk menikah, melahirkan, dan dihias. Perempuan diciptakan untuk hidup, untuk tumbuh, untuk berkarya, dan untuk dihargai apa pun pilihan hidupnya.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary





Game Center

Game News

Review Film
Rumus Matematika
Anime Batch
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime

Gaming Center