Comoros, Negara Mayoritas Muslim yang Hampir Terlupakan
Di sudut terpencil Samudera Hindia, tersembunyi sebuah negeri kecil yang tak banyak disebut di pelajaran geografi sekolah maupun berita internasional. Namanya adalah Comoros, atau dalam bahasa lokal disebut Komori. Meski tak seterkenal negara-negara mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Mesir atau Indonesia, Comoros menyimpan kekayaan spiritual yang besar, yakni lebih dari 98% penduduknya adalah Muslim. Suatu angka yang membuatnya masuk ke dalam daftar negara dengan persentase Muslim tertinggi di dunia. Namun mengapa Comoros seolah tak pernah terdengar gaungnya? Apa yang membuat negeri kecil ini begitu menarik, terutama dari sisi keislaman dan identitas budayanya?
Comoros sendiri adalah negara kepulauan yang terdiri dari tiga pulau utama, yakni Grande Comore (Ngazidja), Mohèli (Mwali) dan Anjouan (Ndzuwani) – yang terletak di antara pantai timur Afrika dan utara Madagaskar. Satu pulau lainnya, Mayotte, secara administratif masih dikuasai oleh Prancis meskipun secara geografis dan historis merupakan bagian dari Comoros. Sejak dahulu, kepulauan ini menjadi persinggahan para pedagang Arab, Persia, India, dan Afrika. Hal ini menjadikan Comoros sebagai melting pot (metafora yang menggambarkan masyarakat dimana berbagai kelompok budaya, etnis atau ras bercampur dan berasimilasi menjadi satu kesatuan budaya yang baru) budaya dan bahasa. Bahkan, bahasa resmi mereka adalah tiga Arab, Perancis dan Comorian (Shikomor), yang merupakan campuran antara bahasa Bantu dan Arab.
Baca Juga: Surga Wisata yang Wajib Dikenal sebagai Negara 100% Muslim
Islam masuk ke Comoros sejak abad ke-9 melalui pedagang Arab dan Persia. Islam tidak datang lewat perang, melainkan lewat perdagangan, pernikahan dan pendidikan. Seiring waktu, Comoros menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang menganut Islam sebagai identitas nasional, dengan mayoritas penduduknya bermazhab Syafi’i, sama seperti Indonesia. Meskipun berukuran kecil, Islam sangat terasa dalam kehidupan masyarakat Comoros, Adzan berkumandang lima kali sehari dari masjid-masjid kecil yang tersebar di seluruh negeri. Anak-anak diajarkan membaca al Quran sejak dini. Bahkan di banyak desa, madrasah dan halaqah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas sore mereka.
Pakaian tradisional mereka juga kental dengan nuansa Islami. Kaum pria mengenakan kanzu (semacam jubah panjang putih) dan peci bordir khas yang disebut kofia, sementara perempuan memakai shiromani, pakaian panjang yang menutup aurat. Nilai-nilai seperti menghormati orang tua, menjauhi zina dan menjaga waktu shalat menjadi prinsip utama masyarakat. Pemerintah Comoros sendiri secara resmi menyatakan bahwa Islam adalah agama negara, dan banyak hukum sosial berakar pada nilai-nilai syariah. Misalkan alkohol, sangat dibatasi dan pernikahan di luar jalur agama hampir tidak terjadi.

Salah satu sektor yang masih menjadi tantangan di Comoros adalah pendidikan Islam yang formal dan terstruktur. Banyak madrasah berdiri secara swadaya, dengan kurikulum yang sederhana. Namun, semangat masyarakat dalam menjaga tradisi keislaman tetap kuat. Pemerintah dan lembaga-lembaga Islam dari Timur Tengah kerap membantu mengembangkan infrastruktur keislaman di sana. Beberapa anak muda Comoros juga dikirim belajar ke luar negeri, seperti Mesir, Sudan dan bahkan Indonesia, untuk memperdalam ilmu agama. Dalam beberapa tahun terakhir, Comoros bahkan memulai membuka kerjasama dengan negara-negara Muslim di Asia, termasuk dalam pendidikan dan pengembangan pesantren.
Baca Juga: Muslim Tidak Membatasi dalam Berbangsa & Bernegara
Meskipun miskin secara ekonomi, masyarakat Comoros sangat dermawan. Zakat dan sedekah menjadi budaya sosial yang mengakar, apalagi di bulan Ramadhan. Tradisi buka puasa bersama di masjid, berbagi makanan dengan tetangga, dan tadarus al Quran massal menjadi pemandangan umum setiap tahun. Islam di Comoros juga memiliki sentuhan sufistik yang kuat. Tarekat seperti Qadiriyah dan Shadhiliyah berkembang luas di sana. Upacara keagamaan seperti maulid nabi, dzikir bersama, dan penghormatan kepada para wali masih hidup, meskipun dengan pendekatan yang modera dan tidak berlebihan. Seperti Indonesia, masyarakat Comoros mampu menggabungkan antara ajaran Islam dan budaya lokal secara harmonis. Hal ini menjadikan Islam di Comoros terasa lembut, damai dan inklusif.
Melihat Comoros, kita belajar bawa kemuliaan suatu bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan dan kekuasaan, tetapi oleh nilai dan iman yang dijunjung tinggi. Meskipun kecil dan jauh dari perhatian dunia, Comoros tetap memegang teguh Islam sebagai nafas kehidupan mereka. Di tengah gempuran modernisasi dan sekularisasi global, negara ini tetap berpegang pada nilai-nilai Islam yang murni, tanpa kehilangan identitas budaya mereka. Ini bisa menjadi cermin bagi umat Muslim Indonesia khususnya generasi muda, bahwa menjadi Muslim bukan soal penampilan luar atau klaim mayoritas, tapi tentang bagaimana Islam dihidupkan dalam keseharian– dalam pendidikan, ekonomi, budaya dan relasi sosial.
Baca Juga: Yuk Kenali Traveler Muslim Dunia
Comoros memang bukan negara yang kaya sumber daya atau canggih teknologinya. Namun, dalam kesederhanaannya negeri ini menyimpan kekayaan spiritual yang luar biasa. Ia adalah contoh nyata dari bagaimana sebuah bangsa kecil bisa tetap teguh menjaga cahaya Islam di tengah arus zaman. Sebagai umat Muslim Indonesia, mari membuka mata lebih luas. Dunia Islam bukan hanya tentang Timur Tengah atau Asia Selatan. Ada negeri-negeri kecil yang mungkin tak pernah kita dengar di berita. Tapi mereka menjaga Islam dengan istimewa, Comoros adalah salah satunya.
Penulis: Anik Wulansari, M.Med.Kom
Game Center
Game News
Review Film
Rumus Matematika
Anime Batch
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime