Lookism: Penampilan Menentukan Segalanya? | Tebuireng Online
4 mins read

Lookism: Penampilan Menentukan Segalanya? | Tebuireng Online


ilustrasi

Ketika ingin menulis, saya tiba-tiba teringat webtoon berjudul Lookism yang saya tonton kemarin. Serial asal Korea Selatan ini sangat populer, dirilis tahun 2023 dengan menyentuh isu sosial yang jarang dibahas secara terbuka: diskriminasi berdasarkan penampilan fisik. Lookism sendiri menceritakan tentang seorang anak laki-laki bernama Park Hyung-seok,  siswa SMA yang gemuk dan kerap mengalami perundungan di sekolah.

Ia hidup sederhana bersama ibunya yang selalu bekerja keras. Suatu hari, ibunya melihat Hyung-seok dipukuli oleh teman-temannya di sekolah. Hal tersebut membuat ibunya sedih dan memutuskan untuk memindahkannya ke sekolah baru di kota lain. Namun, sehari sebelum sekolah dimulai, Hyung-seok mengalami kejadian aneh: ia terbangun dalam tubuh yang tampan dan atletis. Ia bisa berpindah antara tubuh lama dengan tubuh barunya. 

Sejak itu, hidupnya berubah drastis. Ia diperlakukan dengan baik, dipuji, bahkan dielu-elukan. Perubahan ini sontak membuatnya mendapatkan banyak perhatian positif di sekolah. Menjadikannya populer, dan mendapatkan banyak kemudahan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Sebaliknya, saat ia kembali ke tubuh lamanya, hinaan dan pengucilan kembali datang.

Istilah lookism sendiri merujuk pada bentuk diskriminasi terhadap seseorang berdasarkan penampilan fisik. Kisah Hyung-seok menjadi cermin nyata bahwa di masyarakat modern, standar fisik kerap menjadi tolok ukur perlakuan. Mereka yang dianggap “kurang menarik” bisa dikucilkan, di-bully, atau disepelekan. Sebaliknya, mereka yang dianggap tampan atau cantik menikmati berbagai kemudahan sosial mulai dari penerimaan lingkungan hingga peluang karier. 

Fenomena ini makin diperparah oleh media sosial dan budaya digital saat ini. Membanjiri kita dengan iklan produk kecantikan dengan jargon standar kecantikan: kulit putih, tubuh langsing, wajah tirus, dan lainnya. Narasi semacam ini tidak hanya membentuk standar yang sempit, tapi juga bisa menciptakan tekanan psikologis. Banyak orang akhirnya membenci diri sendiri dan merasa tidak cukup hanya karena tidak sesuai dengan standar tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dilansir dari Kompas, studi yang dilakukan Djilzaran Nurul Suhada yang dipublikasikan di KnE Social Sciences pada 21 Desember 2022, menemukan bahwa standar kecantikan di Indonesia masih didominasi oleh kulit putih, rambut lurus, dan hidung mancung. Studi ini dilakukan terhadap perempuan pengguna Instagram berusia 23–26 tahun dari sepuluh suku berbeda, mulai Sumatra hingga Papua.

Standar ini ternyata bukanlah hal baru. Ia memiliki akar sejarah panjang dan sudah ada sejak masa kolonialisme. Orang cantik identik dengan kulit putih bangsawan, semakin pucat kulitmu maka semakin tinggilah status sosial yang di miliki. Hal ini terjadi karena di masa lalu, orang kaya jarang keluar rumah dan terkena sinar matahari. Sementara seorang budak, selalu bekerja di luar sehingga kulitnya menjadi lebih gelap. Suka tidak suka, sejarah kelam itu masih memiliki pengaruh kuat hingga hari ini.

Dalam banyak kasus, penampilan fisik bisa menjadi faktor dominan apakah seseorang layak diberikan kesempatan di dunia kerja atau tidak. Terlebih di dalam industri yang bergerak di sektor jasa dan pelayanan publik. Selain itu, individu yang secara fisik dianggap lebih menarik, bisa memberikan kesan kepada atasan atau perekrut yang dapat mengarah pada peluang pekerjaan yang lebih baik.

Adanya gap ini tentunya bisa membuat diskriminasi dalam pekerjaan semakin tak terelakkan. Misalkan saja, ketika seseorang yang dianggap menarik secara fisik dan yang tidak menarik sama-sama membuat kesalahan, orang akan lebih memaklumi orang yang berpenampilan menarik. Inilah yang dinamakan beauty privilege–ketika mereka yang dianggap menarik secara fisik mendapat berbagai keuntungan dalam interaksi sosial. Hal tersebut masih nyata adanya. Penampilan yang dianggap good looking bisa menjadi faktor keuntungan di lingkup pekerjaan.

Namun bagaimana pun juga, diskriminasi terhadap penampilan fisik sudah sepatutnya untuk diatasi. Sebab, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa memilih untuk dilahirkan di mana–yang membuatnya memiliki gen tertentu dari lingkungan tersebut. Kualitas seseorang tidak dapat hanya dinilai dari penampilan fisik semata. Karena tak ada hubungannya antara penampilan fisik dengan kompetensi dan kinerja seseorang. Penting sekali untuk menghargai dan menilai seseorang berdasarkan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan yang mereka miliki.

Untuk itu, diperlukan adanya  perubahan pola pikir pada masing-masing individu untuk bisa mengatasi hal tersebut. Dibutuhkan kesadaran penuh bagi kita semua untuk tetap menjunjung tinggi rasionalitas. Jangan sampai terjerumus pada pemahaman sempit dan dangkal, atas hidup yang lebih mementingkan penampilan semata ketimbang kualitas hidup secara mendalam. Jika seseorang terus mengukur manusia dari apa yang tampak di luar, dia sedang menciptakan dunia yang dangkal dan membenarkan ketidakadilan yang seharusnya tak diwariskan.

Baca Juga: Simak Alasan Mengapa Orang Lain Suka Mengomentari Penampilanmu


Penulis: Lusa Indrawati, seorang penulis yang berdomisili di Lamongan, Jawa Timur. Tergabung dalam komunitas Literasi Competer Indonesia, Kepul, Negeri Kertas dan Pucukmera. Beberapa karyanya termuat dalam antologi dan media.

Editor: Muh. Sutan





Game Center

Game News

Review Film
Rumus Matematika
Anime Batch
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime

Gaming Center