Surga di Mata Ayah | Tebuireng Online
6 mins read

Surga di Mata Ayah | Tebuireng Online


Ilustrasi ayah dan anak melalui hidup (sumber: tasanaksekolah)

“Man, sudah berangkat sekolah?” suara serak itu memecah keheningan pagi di rumah sederhana di ujung gang kecil.

“Iya, Yah. Sebentar lagi,” jawab Firman sambil merapikan seragam SMP-nya.

Pak Darma, ayah Firman, duduk di kursi kayu dekat pintu, menatap kosong ke arah jendela yang sudah lama tidak dibersihkannya. Matanya yang buta sejak kecelakaan bertahun lalu tidak lagi mampu melihat dunia, tapi hatinya, seolah memiliki mata sendiri yang lebih tajam dari siapa pun.

“Bawa bekal roti itu saja, ya. Jangan lupa minum teh sebelum berangkat.”

Firman tersenyum kecil. “Iya, Yah.” Dia tahu, meski ayahnya tak melihat, beliau hafal setiap sudut rumah, setiap letak barang, bahkan suara napasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Setelah menyeruput teh hangat, Firman berdiri di depan ayahnya. “Yah, nanti siang aku langsung ke warung bakso, ya. Pulangnya agak malam.”

Pak Darma mengangguk pelan. “Jangan lupa sholat di sela kerja. Ingat, Man, kita ini boleh kurang di banyak hal, tapi jangan sampai kurang syukur.”

Firman menunduk, menahan rasa sesak yang sering datang tiap kali mendengar nasihat itu. Syukur? Baginya, hidup seperti ini kadang terasa terlalu berat untuk disyukuri. Tapi ia tak pernah berani membantah ayahnya.

****

Siang itu, setelah sekolah selesai, Firman berganti baju di kamar mandi sekolah. Seragamnya ia lipat rapi, dimasukkan ke tas, lalu ia kayuh sepeda menuju warung bakso tempat ia bekerja sebagai pelayan.

Di warung, ia mengantar pesanan, mencuci gelas, dan membereskan meja hingga malam. Pemilik warung, Pak Suyono, kadang memberinya seporsi bakso gratis sebelum pulang. “Makan dulu, Man. Perut kenyang, hati tenang,” katanya.

Firman hanya tersenyum, meski dalam hati ia ingin menjawab, “Perut kenyang belum tentu hati tenang, Pak.” Tapi ia tahan. Ia sudah belajar bahwa diam adalah cara terbaik untuk menyimpan luka.

Di rumah, Pak Darma duduk di tikar, jemari tangannya meraba butiran tasbih. Ketika mendengar suara sepeda, ia tersenyum.

“Sudah pulang, Man?”

“Iya, Yah.”

Firman langsung duduk di sebelah ayahnya. Ia letakkan uang hasil kerjanya di atas meja kecil. “Ini untuk beli beras besok.”

Pak Darma meraba uang itu, lalu menghela napas. “Man, kalau capek, bilang. Ayah nggak mau kamu terlalu memaksakan diri.”

“Kalau aku nggak kerja, kita makan apa, Yah?”

Sunyi. Hanya bunyi jam dinding yang terdengar.

Lalu suara lirih Pak Darma mengalun, “Kadang kita nggak perlu menjawab semua pertanyaan dengan logika. Ada saatnya kita menjawab dengan keyakinan. Allah itu cukup untuk hamba-Nya, Man.”

Firman terdiam. Kadang ia merasa ayahnya terlalu pasrah. Namun di sisi lain, ia tahu, pasrah itulah yang membuat mereka masih bisa tersenyum meski keadaan kerap menghimpit.

Hari-hari mereka berjalan seperti itu. Firman sekolah pagi, bekerja siang hingga malam. Pagi hari sebelum berangkat, ia selalu menyiapkan sarapan untuk ayahnya: teh manis hangat dan roti atau nasi sisa semalam. Ia juga mencuci pakaian ayahnya dan menyapu rumah.

Kadang, lelah membuatnya ingin berhenti. Pernah suatu malam, ia pulang dengan langkah gontai, lalu duduk di lantai dan menangis diam-diam. Tapi ayahnya seakan merasakan.

“Man… kamu menangis?” tanya ayahnya pelan.

Firman mengusap cepat matanya. “Nggak, Yah. Cuma kecapekan.”

Pak Darma mengulurkan tangan, meraba kepala anaknya. “Kamu kuat, Nak. Tapi ingat, kekuatan itu bukan berarti nggak pernah lelah. Kekuatan adalah tetap berjalan meski lelah.”

Di sekolah, Firman dikenal pendiam. Teman-temannya jarang tahu kisah hidupnya. Ia sengaja menyembunyikannya, takut jadi bahan kasihan atau ejekan. Tapi guru Bahasa Indonesia-nya, Bu Rini, pernah memanggilnya usai kelas.

“Firman, ibu dengar kamu bekerja sepulang sekolah. Apa itu benar?”

Firman menunduk. “Iya, Bu.”

“Untuk biaya hidup?”

Ia hanya mengangguk.

Bu Rini tersenyum hangat. “Nak, hidup itu bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling kuat bertahan. Kamu sudah melakukannya. Ibu bangga.”

Ucapan itu ia bawa pulang seperti hadiah. Malamnya, ia bercerita pada ayahnya.

Pak Darma menepuk bahunya. “Lihat, Man? Allah kirimkan orang untuk menguatkanmu.”

Meski sering bersyukur, Firman tak memungkiri ada saat ia kesal. Pernah suatu hari, ia pulang dan menemukan rumah berantakan karena tikus mengobrak-abrik laci. Ia memungut serpihan kertas tabungan mereka yang dimakan tikus.

“Yah! Kenapa siang tadi nggak dengar suara tikus?!”

Pak Darma terdiam. Wajahnya tertunduk. “Maaf, Man. Ayah nggak bisa—”

“Iya, Ayah nggak bisa lihat! Ayah nggak bisa apa-apa! Semua harus aku yang urus!”

Kata-kata itu meluncur begitu saja. Begitu selesai mengucapkannya, Firman langsung menyesal.

Pak Darma hanya tersenyum tipis. “Kalau itu membuatmu lega, marahlah, Nak. Tapi jangan biarkan kemarahan itu menetap di hatimu. Berat kalau dibawa tidur.”

Malam itu, Firman menangis diam-diam di kamarnya. Esok paginya, ia meminta maaf. Dan seperti biasa, ayahnya hanya menjawab, “Sudah, Man. Ayah nggak pernah simpan marah untuk anak sendiri.”

****

Suatu sore, di tengah gerimis, Firman pulang lebih awal karena warung bakso sepi. Ia mendapati ayahnya sedang duduk menghadap kiblat, berdoa dengan suara pelan.

“Ya Allah… jaga anakku. Kuatkan hatinya, sehatkan raganya, lapangkan rezekinya. Jika Engkau berkehendak, ambil saja sisa umurku untuk menambah umurnya…”

Firman berdiri terpaku di pintu. Tiba-tiba, segala lelah, marah, dan kecewanya seperti luruh bersama rintik hujan. Ia melangkah mendekat, memeluk ayahnya dari belakang.

“Yah… jangan ngomong gitu.”

Pak Darma tersenyum. “Ayah cuma mau pastikan kamu nggak sendirian di dunia ini, Man. Kalau Ayah nggak bisa menuntunmu dengan mata, biarlah doa Ayah yang menuntun langkahmu.”

Waktu berjalan, Firman tumbuh menjadi remaja yang matang sebelum waktunya. Ia belajar bahwa kekuatan bukan hanya soal otot, tapi juga hati yang ikhlas menerima dan tetap berusaha.

Ia mulai menabung sedikit demi sedikit. Mimpinya sederhana: ingin bisa melanjutkan sekolah hingga SMA, lalu bekerja dengan gaji yang cukup untuk membahagiakan ayahnya.

Meski perjalanan mereka penuh liku, satu hal yang tak pernah hilang adalah kebersyukuran. Di tengah keterbatasan, mereka tetap punya atap untuk berteduh, makanan untuk dimakan, dan hati untuk saling menguatkan.

Kadang, Firman berpikir, mungkin benar kata ayahnya: “Kita ini nggak miskin, Man. Kita cuma sedang diuji. Miskin itu kalau hati sudah berhenti berharap sama Allah.” Setiap malam, sebelum tidur, ia selalu mendengar suara ayahnya merapal doa. Suara itu, entah bagaimana, membuat dunia yang berat ini terasa sedikit lebih ringan.



Penulis: Ummu Masrurah





Game Center

Game News

Review Film
Rumus Matematika
Anime Batch
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime

Gaming Center