Bagaimana Syiah, Sunni, dan Mu’tazilah Menafsirkan Sifat Allah dalam Al-Quran?
6 mins read

Bagaimana Syiah, Sunni, dan Mu’tazilah Menafsirkan Sifat Allah dalam Al-Quran?


ilustrasi

Ayat-ayat al-Quran yang membahas Sifat Tuhan (seperti Tangan Allah, Wajah Allah, atau Allah bersemayam di atas ‘Arsy) telah menjadi medan pertempuran intelektual paling sengit dalam sejarah Islam. Di titik inilah, perbedaan antara mazhab Sunni, Syiah, dan Mu’tazilah tampak paling jelas. Pertanyaan mendasarnya: Apakah kita harus memahami teks nash ini secara harfiah (seperti melihat tangan fisik) atau menggunakan akal dan takwil (interpretasi) untuk menyucikan Tuhan dari penyerupaan dengan makhluk?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak seragam. Mu’tazilah menolak mentah-mentah makna literal, sementara sebagian Sunni berupaya menyeimbangkan. Syiah, di sisi lain, menempatkan riwayat dari keluarga Nabi (Ahlul Bait) sebagai otoritas tertinggi dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyābihāt (yang samar maknanya).

Berikut adalah gambaran bagaimana tiga aliran pemikiran besar ini merumuskan konsep Ketuhanan melalui kacamata tafsir:

Tafsir Syiah Imamiyah

Dalam tradisi Syiah Itsnā ‘Asyariyyah (Imamiyah), tafsir harus berjalan di bawah bimbingan riwayat para Imam suci, namun tetap teguh menolak tajsīm (menganggap Tuhan berfisik).

Abū al-Ḥasan al-Qummī (Tafsir al-Qummī)

Al-Qummī, yang sangat berbasis pada riwayat Imam, menunjukkan kehati-hatian ekstrem terhadap potensi penyerupaan. Beliau bahkan menyatakan penolakan terhadap tajsīm dengan tegas: وَيَبْقَى الْوَجْه؟ اللهُ أَعْظَمُ مِنْ أَنْ يُوْصَف ( Wayabqal wajh? Allāhu a’ẓam min an yūṣif – “Dan kekallah Wajah-Nya? Allah Mahabesar dari disifati dengan itu”).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketika menafsirkan ayat yang mengandung unsur seperti وجاء ربك والملك صفًا صفًا (QS. Al-Fajr: 20), beliau memilih untuk melewatkan frasa jā’a rabbuka (Tuhanmu datang) dan hanya menafsirkan kata malak (malaikat). Pendekatan serupa terlihat pada yadullāh (Tangan Allah) dan istawā ‘ala al-‘Arsy (Bersemayam di atas ‘Arsy); beliau mengabaikan bagian yang berpotensi antropomorfis dan beralih ke pembahasan fiqih atau hukum.

Namun, dalam ayat lain seperti يُدْرِكُ الْأَبْصَار (QS. Al-An’am: 103), al-Qummī melakukan ta’wīl dengan memaknai kata yuhīṭ (menemukan dengan melihat) menjadi yuhīṭ (meliputi). Terlihat bahwa al-Qummī sangat selektif dalam menggunakan takwil, utamanya untuk menjaga kemurnian tauhid.[1]

Muḥsin al-Kāshānī (Tafsir al-Ṣāfī)

Al-Kāshānī juga menggunakan riwayat Imam sebagai rujukan otoritatif, namun lebih terbuka pada takwil simbolis. Frasa seperti ثم استوى على العرش (QS. Al-A’rāf: 54) ditakwil sebagai pengaturan dan dominasi Allah atas alam semesta, bukan posisi fisik.

Istilah yad (tangan) dijelaskan sebagai kekuasaan, dan wajh (wajah) sebagai Dzat yang abadi. Cara ini memungkinkan al-Kāshānī menghormati teks Al-Qur’an dan riwayat Imam tanpa jatuh ke dalam tasybīh (penyerupaan).[2]

Imam al-Syaukānī (Fath al-Qadīr) – Syiah Zaidiyyah

Al-Syaukānī, yang berafiliasi dengan Syiah Zaidiyyah, menunjukkan pendekatan yang unik, mirip dengan pandangan Salaf dalam Sunni. Ketika membahas وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض (QS. Al-Baqarah: 255), beliau menampilkan beragam pendapat (literal, majazi sebagai ilmu/kekuasaan).

Al-Syaukānī akhirnya memilih prinsip bilā kayf (tanpa menanyakan bagaimana/hakikatnya) yang populer di kalangan Salaf. Prinsip ini juga beliau terapkan pada ثم استوى على العرش (QS. Al-A’rāf: 54). Dengan bilā kayf, beliau menolak ekstrem tasybīh sekaligus ta’wīl berlebihan, dan menegaskan bahwa hakikat sifat Ketuhanan hanya Allah yang tahu.[3]

Tafsir Sunni

Mazhab Sunni menunjukkan spektrum penafsiran yang luas, bergerak dari takwil simbolis hingga penyerahan makna hakiki kepada Allah.

Abū Isḥāq al-Ṡa’labī (Al-Kashf wa al-Bayān)

Al-Ṡa’labī cenderung menekankan makna majazi (simbolis) dari istilah seperti wajhullāh (Wajah Allah) dalam ayat فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ (QS. Al-Baqarah: 115). Beliau menjelaskan bahwa “wajah” tidak merujuk pada bentuk fisik, melainkan kedekatan, perhatian, dan pengetahuan Allah.

Bahkan, beliau mengutip pendapat ulama yang menafsirkan wajhullāh sebagai arah kiblat sebuah simbol pemuliaan syariat yang menunjukkan bahwa Allah tidak terikat pada batasan fisik.[4]

Fakhr al-Dīn al-Rāzī (Al-Tafsīr al-Kabīr)

Al-Rāzī, tokoh besar Asy’ariyyah, menggunakan pendekatan rasionalitas teologis yang ketat dalam menafsirkan ayat sifat. Setelah mempertimbangkan konteks naqlī (riwayat), ia menawarkan empat kemungkinan makna untuk wajhullāh pada QS. Al-Baqarah: 115, termasuk “tujuan,” “keridaan Allah,” atau “Dzat Allah non-fisik.”

Semua kemungkinan ini disaring melalui prinsip tanzīh (menyucikan Allah dari kemiripan makhluk). Al-Rāzī secara tegas menolak penafsiran literal yang berpotensi menjurus pada tajsīm (fisikalisasi), sehingga ia memilih makna metaforis seperti “tujuan” atau “niat”.[5]

Tafsir Mu’tazilah

Bagi Mu’tazilah, Tauhid (keesaan Tuhan) menuntut penolakan total terhadap segala bentuk keserupaan Tuhan dengan makhluk (tanzīh).

Qāḍī ‘Abd al-Jabbār (Tanzīh Al-Qur’an ‘an al-Maṭā’in)

Qāḍī ‘Abd al-Jabbār adalah representasi paling kuat dari teologi Mu’tazilah. Menafsirkan وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (QS. Al-Qiyāmah: 22-23 – Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat), beliau menolak makna harfiah.

Alasannya jelas: Allah tidak memiliki bentuk fisik dan tidak terikat ruang.

Ayat tersebut di-ta’wīl sebagai wajah-wajah orang beriman bersinar karena mengharapkan rahmat dan pahala Allah, bukan melihat Dzat-Nya. Penafsiran ini menegaskan bahwa akal wajib menjadi hakim utama untuk melindungi kemurnian konsep Tauhid.

Kesimpulan: Tujuan yang Sama, Jalan yang Berbeda

Meskipun menggunakan metode yang berbeda dari takwil simbolis, penyerahan makna bilā kayf, hingga takwil rasional yang ketat semua mazhab ini tiba pada satu kesimpulan mendasar: Ayat-ayat sifat tidak menunjukkan Tuhan secara fisik.

Tujuan akhir mereka sama: menjaga kemurnian tauhid dan menegaskan transendensi Allah (bahwa Allah Mahasuci, tidak menyerupai makhluk), sambil tetap menunjukkan bahwa Allah Mahadekat dan menerima ibadah hamba-Nya.[6]

Baca Juga: Memahami Sifat Jaiz Allah


[1]Abu al-Hasan ’Ali bin Ibrahim al-Qummi, Tafsir Al-Qummi, Edisi Ketiga, vols. 1–2 (Qom, Iran: Dar al-Kitab li al- Tiba‘ah wa al-Nashr, 1404).

[2]Mulla Muhsin Fayd al-Kashani, Al-Safi Fi Tafsir al-Qur’an (Tehran, Iran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1419), 3:186- 187.

[3]Imam al-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir (pustaka azzam, n.d.), 2:93 dan 4:100-101.

[4]Abu Ishaq Ahmad ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Tha‘labi, Al-Kashf Wa al-Bayān ʿan Tafsīr al-Qurʾān (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2004).

[5]Fakhr al-Din Muhammad ibn Umar al-Razi, Al-Tafsir al-Kabir Aw Mafatih al-Ghaib (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990).

[6]al-Qadi ’Abd al-Jabbar, Tanzih Al-Qur’an ’an al-Mata’in, Edisi Pertama (Maktabat al-Nafidza, 2006).


Penulis: Siti Nafisatul Qurba

Editor: Sutan


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film

Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.