Ikhtiyar Muslimah dalam Menjaga Diri
Ada masa dalam hidup seorang muslimah ketika kata-kata orang lain terasa seperti pisau yang tak terlihat, namun menusuk paling dalam. Luka karena hinaan tidak selalu tampak dari luar, tetapi ia merayap pelan-pelan, menghancurkan kepercayaan diri, menggerogoti kebahagiaan, mengusik malam yang seharusnya tenang, dan meninggalkan bayangan pahit yang sulit dihapus.
Banyak yang tidak mengerti bahwa satu kalimat saja bisa membuat seorang perempuan mempertanyakan seluruh dirinya. Dan ketika luka itu sudah terlalu dalam, kita pun mengambil langkah yang sering disalahpahami: menjauh, memutus jarak, tidak ingin lagi berada terlalu dekat. Bukan karena sombong. Bukan karena benci. Melainkan karena ingin hidup tanpa harus menahan sakit hati setiap hari.
Baca Juga: Menjadi Muslimah yang Tenang di Tengah Tekanan
Sejak hinaan itu datang, dunia terasa seperti pecah menjadi dua: dunia di mana kita tampak baik-baik saja, dan dunia di mana hati sebenarnya remuk dalam diam. Kita masih tersenyum, masih bersosialisasi, namun jauh di dalam dada ada keinginan kuat untuk menjaga jarak. Bukan hanya dari pelaku, tetapi dari kemungkinan disakiti lagi oleh ucapan yang tak disaring.
Ironisnya, justru saat kita memilih menjauh demi menjaga hati, muncul rasa bersalah. Seolah-olah keputusan itu tanda kurang iman, kurang sabar, atau tidak sekuat perempuan lain. Padahal tidak demikian. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang mukmin tidak akan disengat dari lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini seperti pelukan hangat bagi mereka yang pernah disakiti. Bahwa menjauh dari sumber luka bukanlah tanda kelemahan. Ia bukan hanya boleh, tetapi dianjurkan. Sebab kesabaran bukan berarti membiarkan diri terus diinjak. Kesabaran adalah kebijaksanaan, tahu kapan harus bertahan dan kapan harus menjaga jarak.
Menjauh pun bukan berarti menumpuk kebencian. Justru sebaliknya, menjauh sering kali menjadi cara paling halus agar kita tidak membenci. Jika kita memaksa diri tetap dekat sementara hati masih perih, luka itu bisa berubah menjadi dendam. Dan dendam adalah racun yang perlahan merusak jiwa.
Baca Juga: Menguatkan Peran Muslimah di Setiap Keadaan
Maka mengambil jarak adalah ikhtiar agar hati tetap bersih, agar amarah tidak membesar, dan agar kebaikan dalam diri tidak pudar. Allah mengajarkan bahwa ketika harus berpaling, berpalinglah dengan cara yang baik. Tanpa kebencian, tanpa menjelekkan, tanpa menyimpan dendam yang membahayakan. Pergi dengan tenang. Diam-diam memperbaiki diri. Diam-diam menjaga hati agar kembali bersih.
Sering kali orang berkata, “Kalau sudah memaafkan, seharusnya tetap dekat seperti dulu.” Padahal memaafkan dan mendekat adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa memaafkan, namun tetap menjaga jarak, dan itu tidak salah. Kita bisa melupakan, namun memilih tidak kembali, dan itu juga tidak berdosa.
Sebab memaafkan terjadi di dalam hati, sementara menjauh adalah bentuk perlindungan terhadap hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, menjaga hati adalah ibadah. Jika sebuah hubungan membuat kita merasa kerdil, terhina, atau tidak dihargai, maka menjauh adalah cara merawat bagian paling berharga dalam diri, hati yang ingin tetap lembut, tetap tenang, dan tetap dekat dengan Allah. Jarak sering kali memberi ruang untuk sembuh. Hening mengajarkan kita kembali bernapas. Sepi membantu kita mengenal diri dengan lebih jujur.
Baca Juga: Menjadi Muslimah Tangguh yang Dirindukan Surga
Di sanalah kita belajar bahwa harga diri tidak ditentukan oleh ucapan manusia, melainkan oleh nilai yang Allah tanamkan dalam diri kita. Kita belajar bahwa menjadi muslimah tidak selalu berarti tampak kuat di hadapan manusia. Terkadang, menjadi muslimah justru berarti berani pergi dari tempat yang merusak dan menyakiti jiwa.
Pada akhirnya, keputusan untuk menjauh bukanlah kelemahan. Ia adalah tanda kedewasaan. Tanda bahwa kita tidak ingin menjadikan luka sebagai alasan untuk terus membenci. Tanda bahwa kita ingin tetap menjadi perempuan yang lembut, bukan perempuan yang keras karena terlalu sering disakiti.
Maka teruslah menjaga diri. Teruslah menjaga hati. Agar kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang, tanpa overthinking yang melelahkan, tanpa hinaan yang melukai jiwa yang mendambakan damai. Teruslah menjadi muslimah yang pandai menempatkan diri, dalam situasi apa pun dan masalah apa pun.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.