Menguji Niat di Tengah Ramainya Tren Hijrah
Beberapa tahun yang lalu muncul sebuah trend yang ramai diperbincangkan oleh khalayak publik, yakni sebuah fenomena agama yang cukup dapat dikatakan sebagai fomo, yaitu trend hijrah.
Fenomena tersebut memicu pro dan kontra, ada yang mencibir bahwa hijrah hanya sebuah berpindahnya tampilan seseorang dari busana yang sebelumnya tidak agamis, berubah menjadi sangat agamis dengan pakaiannya yang serba tertutup. Adapula yang mengapresiasi bahwa tren hijrah adalah sebuah langkah awal untuk berubah menjadi lebih baik.
Sejatinya, ungkapan hijrah sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Nabi Muhammad saat bersama para sahabat-sahabat kala itu berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Hal itu sebagaimana sejarah Islam mencatat bahwa tujuan utama hijrah nabi bersama sahabat untuk menyelamatkan agama Islam dari kebencian para kaum kafir quraisy yang membenci Islam di kota Mekkah.
Pada perjalanan hijrah tersebut pula, muncul sebuah cerita menarik tentang sebuah ikatan percintaan di zaman nabi. Kala itu, ada seorang perempuan muslimah dari kalangan bangsawan yang masuk daftar rombongan sahabat yang hijrah. Di satu sisi, wanita tersebut dicintai oleh seorang lelaki yang statusnya adalah seorang kafir. Mendengar perintah hijrah yang hendak berangkat, lelaki tersebut mengatakan akan masuk Islam dan hendak turut hijrah.
Mendengar ihwal tersebut, Sayyidina Umar langsung menegur sang lelaki tersebut dengan mengatakan;

هَاجِرُوْا وَلَا تُهَجِرُوا
Artinya: “Hijralah karena Allah, jangan pura-pura Hijrah”
Singkat cerita Ummu Qais menerima lamaran lelaki tersebut yang akhirnya memeluk agama Islam dan turut hijrah pada kloter hijrah selanjutnya. Kisah tersebut tidak berhenti di situ saja, justru kisah tersebut sampai terdengar di telinga Nabi Muhammad, sehingga beliau bersabda;
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى : فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ هَاجَرَ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Artinya: “Semua perbuatan tergantung niat. Setiap orang memperoleh (kadar) pahala sesuai dengan niatnya. Barangsiapa hijrah karena Allah dan rasul nya, maka hijrahnya (akan mendapatkan ridho) Allah dan Rasulnya. Barang siapa hijrah karena mengejar harta dunia, atau mengejar wanita yang ingin dinikahinya, maka ia hanya memperoleh apa yang diinginkan (harta atau wanita saja)”
Berangkat dari hadis tersebutlah para ulama fikih, menjadikan hadis ini sebagai dalil diwajibkannya niat dalam segala jenis ibadah, baik ibadah yang bersifat mahdlah (seperti shalat, dan puasa) maupun ibadah yang berbentuk ghaira mahdlah (seperti wudhu dan mandi). Bahkan menurut Imam Syafi’i hadis ini merupakan dalil dari 70% hukum-hukum syariat.
Lalu apa yang dinamakan hijrah pada hari ini? Apa hanya sebuah perubahan penampilan dari luarnya saja, yang semula tidak berhijab lalu berhijab panjang saja. Atau yang sebelumnya tidak berjanggut tiba-tiba memilihara janggut agar seakan-akan menghidupkan sunnah nabi.
Pada buku Aku dan Hijrah, karya Lia Yogiantoro berjudul “Aku dan Hijrah” mencoba menerangkan makna hijrah yang sesungguhnya. Bahwa “hijrah” apabila seseoramg telah memenuhi dua syarat. Syarat pertama adalah sesuatu yang ditinggalkan, sedangkan syarat kedua adalah sesuatu yang akan dituju atau tujuan. Kedua syarat tersebut harus dipenuhi apabila seseorang ingin berhijrah (hlm. 9)
Buku ini juga memberikan tips bagimana untuk dapat menjalankan hijrah dengan istikamah, karena menurutnya hal yang sulit dalam hijrah adalah istiqimah. Istikamah harus diusahakan, selain tentunya dengan berdoa dan memohon kepada Allah SWT. Karena pada dasarnya kunci sukses dalam hijrah adalah ketika kita dapat melakukan amal terbaik yakni ihsanul ‘amal (hlm.158)
Buku ini tidak hanya berisikan tentang makna dan hakikat hijrah, tetapi juga dilengkapi dengan kisah-kisah hijrah serta kumpulan tips, tantangan dan doa hijrah. Buku ini menjadi rekomendasi kepada siapapun yang hendak menggapai hidayah Allah dengan berhijrah.
Baca Juga: Tidak Ada Hijrah Setelah Fathu Makkah, Lalu Apa Itu Hijrah?
Buku: Aku dan Hijrah
Penulis: Lia Yogiantoro
Penerbit: Gema Insani
ISBN: 9786022508823
Halaman: xx+188 hlm
Peresensi: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Sutan
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.