Meneladani Ukhuwah dan Perjuangan Para Masyayikh
Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (1926–2026) bukan sekadar momentum seremonial untuk mengenang masa lalu. Lebih dari itu, ia menjadi kesempatan berharga untuk merefleksikan kembali jejak perjuangan para ulama dan masyayikh yang telah meletakkan fondasi kokoh bagi lahirnya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini.
Baca Juga: Isra Mikraj, Momentum Memperbaiki Shalat Menjelang Ramadan
Kegiatan napak tilas yang dimulai dari Bangkalan, Surabaya, hingga berakhir di Tebuireng pada 4 Januari 2026 menghadirkan pengalaman batin yang mendalam. Perjalanan tersebut tidak hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi juga mengajak peserta untuk merasakan kembali semangat perjuangan para pendahulu yang hidup dalam masa penuh keterbatasan dan tekanan penjajahan.
Ketika menempuh perjalanan tersebut, kita seakan diajak kembali ke awal abad ke-20, masa ketika bangsa Indonesia masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Pada masa itu, memperjuangkan kemerdekaan bukanlah perkara mudah. Tidak ada ruang yang longgar untuk menyuarakan kebebasan, tidak ada toleransi bagi upaya-upaya membangun kekuatan bangsa. Namun justru dalam situasi yang sulit itulah para ulama, kiai, dan masyayikh menunjukkan keteguhan dan visi perjuangan yang luar biasa.
Apa yang dilakukan oleh para pendiri dan leluhur Nahdlatul Ulama jauh lebih berat dibandingkan apa yang kita lakukan hari ini. Jika saat ini sebuah perjalanan membutuhkan energi, biaya, dan perencanaan yang matang, maka perjuangan para pendahulu menuntut pengorbanan yang jauh lebih besar. Mereka menghadapi tekanan politik, pengawasan kolonial, dan berbagai keterbatasan sarana. Namun semua itu tidak menghalangi mereka untuk terus berikhtiar membangun kekuatan umat.

Baca Juga: Menjaga Ukhuwah dan Merawat Tradisi
Sejarah mencatat bahwa sebelum Nahdlatul Ulama resmi berdiri pada tahun 1926, para ulama Ahlussunnah wal Jamaah telah melakukan berbagai konsolidasi antarpesantren dan antartokoh. Mereka membangun kebersamaan, memperkuat ukhuwah, dan menyatukan visi perjuangan. Bahkan sejak awal dekade 1920-an, para masyayikh telah memikirkan bagaimana membentuk wadah yang mampu mengonsolidasikan kekuatan umat Islam Indonesia.
Semua dilakukan dengan kesungguhan lahir dan batin. Para ulama tidak hanya bermusyawarah, tetapi juga bermujahadah, memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT agar mampu membangun kekuatan yang membawa maslahat bagi umat dan bangsa. Dari proses panjang itulah lahir persatuan yang semakin kokoh, yang kemudian turut menjadi bagian penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Dalam konteks inilah sosok para masyayikh pendiri Nahdlatul Ulama menjadi sangat penting untuk dikenang. Salah satu figur sentral yang memiliki pengaruh besar adalah Syaikhona Muhammad Khalil Bangkalan. Beliau dikenal sebagai ulama besar yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan adab. Dari tangan beliau lahir banyak murid yang kemudian menjadi tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam Indonesia, termasuk para pendiri Nahdlatul Ulama.
Warisan terbesar para ulama tersebut bukan hanya berupa lembaga atau organisasi, tetapi juga nilai-nilai luhur yang mereka tanamkan. Keilmuan, adab, persatuan, dan ukhuwah menjadi modal utama yang memungkinkan bangsa ini membangun kebersamaan dan pada akhirnya melepaskan diri dari penjajahan.
Karena itu, napak tilas ini bukan hanya perjalanan mengenang masa lalu, melainkan juga upaya menyerap keberkahan dan keteladanan para pendahulu. Harapannya, seluruh peserta dapat mengambil hikmah dari perjuangan para muassis Nahdlatul Ulama dan menjadikannya sebagai inspirasi dalam kehidupan berbangsa dan beragama.
Baca Juga: Fitrah Manusia dan Tantangan Menjaga Persatuan
Namun perjalanan Nahdlatul Ulama belum selesai. Tantangan zaman terus berubah dan membutuhkan respons yang bijaksana. Jika para pendiri NU dahulu mampu membangun persatuan di tengah tekanan penjajahan, maka generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan warisan tersebut dalam menghadapi tantangan masa depan.
Keteladanan para muassis Nahdlatul Ulama hendaknya menjadi pedoman bagi kita semua. Semangat kebersamaan, persatuan, ukhuwah, dan pengabdian kepada umat perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, NU tidak hanya menjadi organisasi yang besar secara jumlah, tetapi juga menjadi kekuatan moral dan spiritual yang terus memberikan manfaat bagi bangsa dan agama.
Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar umat bukanlah pada banyaknya sumber daya yang dimiliki, melainkan pada kemampuan membangun persatuan dan menjaga ukhuwah. Nilai-nilai itulah yang diwariskan para masyayikh kepada kita, dan nilai-nilai itulah yang harus terus dijaga demi masa depan yang lebih baik.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan kepada para pendiri Nahdlatul Ulama, para ulama, kiai, dan seluruh penerus perjuangannya. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk melanjutkan amanah mereka serta kelak dikumpulkan bersama para masyayikh dan Rasulullah Muhammad. Wallahu a’lam bish-shawab.
*Pesan ini disampaikan saat Napak Tilas 1 Abad NU, pada 4 Januari 2026.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.