Apa Rasanya Merdeka, Nek? | Tebuireng Online
5 mins read

Apa Rasanya Merdeka, Nek? | Tebuireng Online


Ilustrasi cucu dan nenek bercerita di teras rumah (sumber: merumpawordpress)

“Apa rasanya jadi orang merdeka, Nek?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Ratna, bocah kelas 4 SD, saat mereka duduk di beranda rumah panggung tua peninggalan kakeknya. Malam itu, langit penuh bintang, dan suara jangkrik bersahutan seperti lagu pengantar cerita. Di tangannya, Ratna masih memegang kertas fotokopian lusuh berisi lagu kebangsaan yang akan ia nyanyikan esok pagi saat upacara di sekolah.

Nenek Mawir, yang biasa dipanggil “Nek Wir”, menghentikan gerakan tangannya yang tengah menambal sarung lusuh. Ia menatap cucunya dalam-dalam. Cahaya lampu minyak menyinari wajah keriputnya, seolah setiap garis di sana punya cerita panjang tentang hidup dan kehilangan.

“Ratna tanya apa tadi, Nak?” tanyanya pelan, memastikan ia tak salah dengar.

“Apa rasanya… jadi orang merdeka?” ulang Ratna, matanya menatap langit.

Nenek Wir menarik napas panjang. “Merdeka itu… bukan cuma soal perang dan mengangkat senjata. Bagi kita, orang kecil yang hidup pas-pasan di ujung desa ini, merdeka adalah ketika kita bisa bebas bernapas dan mensyukuri hidup ini.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ratna terdiam. Kata-kata itu menggantung di kepalanya, seperti layang-layang yang tersangkut di dahan pohon mangga. Dalam usianya yang belum genap sepuluh tahun, ia belum paham betul makna kemerdekaan yang sering disebut-sebut dalam pelajaran PPKn. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa ingin tahu lebih dari apa pun.

“Nek, dulu waktu kecil, nenek pernah lihat pesawat?” tanyanya tiba-tiba.

Nenek tertawa kecil, suaranya parau. “Tidak, Nak. Bahkan sampai sekarang, pesawat cuma aku dengar dari radio. Di langit desa ini, burung pun jarang singgah.”

“Terus, naik bus kota pernah?”

“Tidak juga. Jalan ke kota itu masih tanah waktu nenek seumur kamu. Sekarang pun, siapa yang mau ke kota? Di sini saja, kita sudah cukup.”

Ratna mengangguk pelan. Ia teringat gurunya pernah bilang, kemerdekaan itu artinya kita bebas memilih, bebas berpendapat, bebas belajar dan meraih cita-cita. Tapi, Ratna bingung. Sekolahnya saja, atapnya bocor. Ketika hujan, mereka pindah duduk ke bagian yang tak basah. Seragamnya sudah sempit, sepatu sobek di ujung, dan makanan favoritnya adalah tempe goreng yang dibeli dua hari sekali kalau nenek punya uang lebih.

“Dulu… nenek pernah punya cita-cita?” tanyanya lagi, semakin dalam.

Nenek Wir tersenyum. “Dulu nenek ingin jadi guru. Tapi zaman dulu, perempuan tak semua bisa sekolah. Keluarga nenek miskin, dan sejak kecil sudah ikut ke sawah.”

“Kalau sekarang, Ratna boleh sekolah. Tapi sekolah Ratna… jelek, Nek,” ucap Ratna lirih, matanya mulai berkaca-kaca. “Kemarin tembok kelas hampir roboh. Buku-buku udah sobek semua. Tapi ibu guru tetap bilang besok kita upacara. Kenapa kita harus upacara, kalau semuanya masih susah, Nek?”

Malam itu, angin desa bertiup lebih pelan. Seolah ingin mendengar lebih jelas.

Nenek Wir memegang tangan cucunya dengan lembut. “Ratna, tahu nggak, banyak orang dulu mati supaya kita bisa hidup sekarang. Mereka bukan pejuang dengan senjata, tapi petani, ibu rumah tangga, pemuda desa, seperti kita. Mereka berjuang dengan mempertahankan tanah, menjaga adat, memberi makan para tentara, bahkan hanya dengan tidak menyerah.”

“Mereka miskin juga?” tanya Ratna cepat.

Nenek mengangguk. “Miskin. Tapi semangat mereka kaya. Hati mereka penuh harapan. Seperti kamu, yang walau sekolahnya rusak, tetap semangat ingin belajar. Itu juga namanya perjuangan.”

Ratna memeluk lututnya, bersandar ke bahu nenek. “Berarti… Ratna juga pejuang?”

“Tentu. Kamu pejuang kecil. Pejuang yang belajar dengan sepatu bolong, tapi hati penuh mimpi.”

Malam semakin larut. Tapi cerita nenek terus mengalir. Tentang kakeknya yang dulu diam-diam membantu laskar rakyat membawa logistik ke medan pertempuran. Tentang ibunya yang menjahit bendera merah putih dari kain bekas. Tentang teman-temannya yang hilang entah ke mana saat tentara Belanda menyisir desa mereka.

Ratna mendengarkan dengan mata membelalak dan hati penuh kagum. Baginya, cerita nenek lebih seru dari film kartun di televisi yang hanya bisa ia tonton saat singgah ke rumah Pak RT yang punya listrik dari genset.

“Nek,” kata Ratna pelan. “Besok Ratna mau nyanyi lagu Indonesia Raya paling keras. Biar atap kelas kita yang roboh itu dengar.”

Nenek tertawa kecil, matanya berkaca. “Nyanyikan dari hati, Ratna. Karena kamu sedang menyanyikan harapan.”

Dan malam itu, mereka tertidur di dipan kayu, di bawah bintang-bintang, dengan pelita yang menyala redup.

*****

Pagi pun tiba. Desa Karangrawa mulai hidup. Ayam berkokok, embun menggelantung di ujung daun, dan aroma tanah basah menguar dari sawah. Ratna bangun lebih awal, mengenakan seragam sekolah yang disetrika nenek semalam dengan setrika arang.

Sepatunya yang sobek dilap bersih. Rambutnya dikepang dua, pita merah agak luntur tetap diikat dengan bangga. Di tangan, ia menggenggam bendera kecil dari bambu dan plastik yang sobek di ujungnya.

Sekolahnya hanya berjarak setengah kilometer dari rumah. Jalan tanah yang dipenuhi batu dan genangan air itu dilaluinya dengan semangat yang berbeda. Di matanya, ia bukan hanya bocah desa. Ia adalah pejuang kecil. Seorang anak yang mengerti bahwa kemerdekaan bukanlah soal makanan bermerk atau mall besar. Tapi soal bisa bangun pagi dengan harapan, belajar meski berat, dan terus mencintai tanah di mana ia berpijak.

Saat lagu kebangsaan dikumandangkan, suara Ratna terdengar paling nyaring. Matanya menatap tiang bendera yang karatan, tapi hatinya membayangkan merah putih berkibar tinggi di langit paling biru. Di rumah, Nenek Wir menatap ke kejauhan. Ia tahu, cucunya telah tumbuh menjadi anak merdeka, dalam caranya sendiri.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary





Game Center

Game News

Review Film
Rumus Matematika
Anime Batch
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime

Gaming Center