Bakti yang Terseret Realitas Ekonomi
Generasi Z hari ini hidup di persimpangan yang tidak mudah. Banyak dari mereka telah bekerja, namun belum benar-benar mapan. Penghasilan ada, tetapi belum cukup untuk disebut sejahtera. Ironisnya, pada usia yang relatif muda, tanggungan hidup justru datang lebih cepat: orang tua yang harus dibantu, kebutuhan rumah tangga, hingga beban ekonomi keluarga yang tak bisa ditunda.
Di tengah kondisi tersebut, nilai bakti kepada orang tua tetap menjadi tuntunan moral yang kuat. Membahagiakan orang tua diyakini sebagai kunci rezeki dan pintu keberkahan hidup. Nilai ini tidak keliru, bahkan menjadi fondasi penting dalam kehidupan sosial dan spiritual. Namun persoalan muncul ketika makna bakti direduksi menjadi ukuran tunggal: kemampuan finansial.
Baca Juga: KUA Makin Keren, Gen Z Makin Panik?
Dalam realitas sosial hari ini, bakti sering kali diukur dari seberapa besar seseorang mampu memberi secara materi. Ukuran keberhasilan anak bergeser dari sikap, tanggung jawab, dan kesungguhan menjadi nominal. Akibatnya, banyak Gen Z yang memiliki niat besar dan etos kerja tinggi justru merasa gagal, semata karena kondisi ekonomi belum memungkinkan. Kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan penghasilan yang layak, sementara sistem kerja kerap menormalisasi upah rendah atas nama “proses” dan “pembelajaran”.
Pertanyaan kritis pun muncul, apakah bakti kepada orang tua harus selalu dibayar dengan uang?

Idealnya, bakti adalah sikap hidup, kesungguhan merawat, kepedulian, dan komitmen untuk bertanggung jawab sesuai kemampuan. Namun realitas ekonomi memaksa nilai luhur ini berbenturan dengan kebutuhan praktis. Hidup hari ini hampir mustahil dijalani tanpa uang. Biaya kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar terus meningkat. Nasihat tentang keikhlasan sering terdengar indah, tetapi terasa timpang ketika berhadapan dengan kenyataan hidup yang keras dan tidak ramah.
Meski demikian, hidup yang sepenuhnya diukur dengan uang juga tidak menyelesaikan persoalan. Banyak orang yang berkecukupan secara materi, tetapi rapuh secara batin. Di sinilah doa dan barokah tetap memiliki tempat penting—bukan sekadar simbol religius, melainkan penopang mental di tengah ketidakpastian hidup. Ridho orang tua memberi kekuatan psikologis yang tak selalu bisa digantikan oleh angka.
Masalahnya, generasi muda kerap dipaksa memilih antara realisme ekonomi dan nilai spiritual, seolah keduanya tak mungkin berjalan beriringan. Padahal, tekanan ini lahir dari sistem sosial yang kontradiktif. Di satu sisi, generasi muda diminta sabar, berproses, dan berbakti. Di sisi lain, mereka dituntut cepat mapan, mandiri secara finansial, dan mampu menopang keluarga.
Kondisi ini menciptakan kelelahan kolektif. Gen Z bukan generasi yang menolak tanggung jawab, tetapi generasi yang dibebani terlalu banyak tuntutan dalam waktu yang terlalu singkat. Mereka berada di fase membangun, namun dipaksa bertindak seolah sudah sampai.
Baca Juga: Generasi Scroll dan Lunturnya Semangat Amal Shalih
Karena itu, kritik seharusnya diarahkan pada cara masyarakat menilai keberhasilan hidup. Selama bakti hanya diukur dari materi, generasi muda akan terus hidup dalam rasa bersalah. Selama kerja keras tidak dihargai secara layak, nasihat tentang kesabaran akan terdengar seperti pembenaran atas ketimpangan. Dan selama doa dijadikan pelarian tanpa dibarengi keadilan struktural, keberkahan justru terasa sebagai beban moral, bukan harapan.
Bakti kepada orang tua seharusnya tidak memiskinkan anak secara sistemik. Doa dan barokah seharusnya menguatkan perjuangan, bukan menggantikan tanggung jawab sosial. Dan uang, meski penting, tidak layak dijadikan satu-satunya ukuran nilai manusia.
Generasi Z membutuhkan ruang untuk tumbuh, bukan sekadar dihakimi. Mereka membutuhkan sistem yang adil, bukan hanya nasihat normatif. Hidup memang tak bisa berjalan tanpa uang, tetapi hidup yang kehilangan makna juga akan kehilangan arah.
Baca Juga: Guru di Era Gen Z
Di antara tuntutan ekonomi dan nilai spiritual, Gen Z terus berjalan, bukan karena lemah, melainkan karena tidak diberi banyak pilihan. Maka yang perlu dibenahi bukan hanya mental generasi muda, melainkan cara masyarakat dan sistem memaknai bakti, rezeki, dan keberhasilan hidup.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.