Disiplin Lingkungan sebagai Pendidikan Karakter Santri
Isu lingkungan kerap dipahami sebatas urusan teknis, dari pengelolaan sampah, penghijauan, atau pemenuhan indikator program tertentu. Di banyak lembaga pendidikan, kepedulian lingkungan bahkan diposisikan sebagai kegiatan tambahan, sekadar proyek musiman yang hidup ketika ada lomba atau penilaian. Cara pandang semacam ini sesungguhnya mereduksi makna menjaga lingkungan itu sendiri. Terlebih di pesantren, ruang pendidikan yang sejak awal dibangun di atas fondasi nilai, adab, dan amanah.
Dalam tradisi pesantren, kebersihan bukan perkara kosmetik. Ia adalah bagian dari disiplin moral. Santri diajarkan untuk menjaga kebersihan diri, kamar, masjid, dan lingkungan sekitar sebagai latihan tanggung jawab, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Karena itu, persoalan sampah sejatinya bukan hanya soal limbah fisik, melainkan cermin dari cara santri memaknai amanah, kedisiplinan, dan relasinya dengan ruang bersama.
Baca Juga: Ngaji Ekologi di Kamar Nomor 13
Sebagai contoh, prestasi yang diraih oleh SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng yang meraih predikat Adiwiyata Mandiri dengan nilai sempurna 100 pada 14 Desember 2025 patut dibaca dalam kerangka ini. Hal ini tidak semestinya berhenti sebagai kabar baik atau kebanggaan institusi. Lebih dari itu, prestasi tersebut menjadi pengingat bahwa kesadaran lingkungan tidak lahir dari jargon, melainkan dari proses panjang pembiasaan yang konsisten, bahkan melelahkan.
Sebagaimana pernyataan Kepala SMP A. Wahid Hasyim, Dwi Rahmat Siswoyo, yang mengungkapkan bahwa pengajuan Adiwiyata Mandiri dilakukan hingga tiga kali—dua kali ditolak meski memperoleh nilai 98—menunjukkan satu hal penting: menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah. Nilai sempurna hanya bisa dicapai melalui kesungguhan, ketekunan, dan disiplin harian yang dijalankan bersama. Di titik inilah pendidikan lingkungan bertemu dengan pendidikan karakter.

Disiplin dalam pesantren bukan sekadar mekanisme kontrol. Ia adalah latihan jiwa. Santri dibiasakan bangun tepat waktu, antre dengan tertib, menjaga kebersihan kamar, dan menghormati ruang bersama. Namun dalam praktiknya, persoalan sampah masih sering dipandang remeh. Plastik sekali pakai dengan mudah masuk ke lingkungan pesantren, sampah dibuang tanpa rasa bersalah, dan kebersihan dianggap sepenuhnya sebagai tugas petugas kebersihan. Ironi ini menunjukkan adanya celah antara nilai yang diajarkan dan kebiasaan yang dijalankan.
Baca Juga: Khataman Hadis Ekologi, Pesan Mudir: Ilmu Harus Berbuah Aksi Nyata Jaga Lingkungan
Padahal, dalam Islam, kebersihan adalah bagian dari iman. Prinsip ini menegaskan bahwa membuang sampah sembarangan bukan hanya pelanggaran tata tertib, melainkan kelalaian dalam menjaga amanah. Jika santri tidak dibiasakan bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri sejak dini, maka sulit berharap mereka akan menjadi agen perubahan lingkungan ketika kelak kembali ke masyarakat.
Apa yang dilakukan SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng memperlihatkan bahwa kedisiplinan mampu membentuk budaya. Pembatasan sampah, pelarangan plastik sekali pakai, serta pembiasaan membawa tumbler bukan sekadar kebijakan administratif. Ia adalah pendidikan karakter dalam bentuk paling konkret. Santri tidak hanya diingatkan untuk “peduli”, tetapi dipaksa secara halus untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka konsumsi dan hasilkan.
Di sinilah pesantren memiliki posisi strategis. Pesantren bukan hanya lembaga transmisi ilmu keislaman, tetapi juga ruang pembentukan etika sosial. Menjaga lingkungan seharusnya dipahami sebagai bagian dari ibadah dan manifestasi syukur atas ciptaan Allah. Disiplin terhadap sampah adalah latihan kecil untuk menumbuhkan kesadaran besar: bahwa manusia adalah khalifah yang bertugas merawat, bukan merusak.
Baca Juga: Santri Soroti Hilirisasi dan UU Cipta Kerja dalam Bahtsul Masail Ekologi MUTUN Tebuireng
Jika pesantren sungguh-sungguh menanamkan nilai kepedulian lingkungan sebagai bagian dari adab, maka santri akan tumbuh bukan hanya sebagai individu yang alim secara intelektual, tetapi juga peka secara sosial dan ekologis. Mereka akan membawa nilai itu ke rumah, ke masyarakat, bahkan ke ruang publik yang lebih luas.
Menjaga lingkungan bukanlah tambahan dalam pendidikan pesantren. Ia adalah inti dari pendidikan itu sendiri. Sebab adab, sebagaimana selalu ditekankan para kiai, selalu lebih tinggi daripada ilmu. Dan adab terhadap lingkungan adalah salah satu bentuk paling nyata dari kesadaran moral seorang santri di tengah krisis ekologi yang kian mendesak.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.