Kenikmatan Terbesar dari Allah dalam Hidupku – KonsultasiSyariah.com
10 mins read

Kenikmatan Terbesar dari Allah dalam Hidupku – KonsultasiSyariah.com

Oleh:

Abdullah bin Abduh Nu’man al-Awadhi

Seandainya manusia berpikir tentang dirinya, pasti dia tidak akan mendapatkan alasan yang dapat mendorongnya untuk bersikap sombong, angkuh, takjub pada diri sendiri, dan berbangga diri. Sebab, asal usulnya dari tanah dan dia sendiri tercipta dari air mani. Dia tidak tercipta dari cahaya atau batu mulia yang membuatnya istimewa dari manusia lainnya. Dia sepenuhnya sama seperti manusia lain dari sisi asal usulnya. Lalu mengapa dia sombong, sedangkan ayahnya terbuat dari air mani dan kakek moyangnya terbuat dari tanah! Seandainya dia mencermati hal ini, pasti ini dapat membuatnya rendah hati dan tahu diri. 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim).” (QS. Al-Mu’minun: 12-13).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ

“Hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang memancar.” (QS. Ath-Thariq: 5-6).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia menciptakan (leluhur) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang bertebaran.” (QS. Ar-Rum: 20).

Yakni di antara ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menunjukkan keagungan, kesempurnaan, dan kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan leluhur kalian, Adam dari tanah. Kemudian kalian menjadi manusia yang berkembang biak dan tersebar di muka bumi untuk mencari karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Kitab At-Tafsir al-Muyassar karya tim dari para ulama, jilid 7/203).

Seandainya seseorang memikirkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang ada padanya, yang menurutnya membuat dirinya lebih baik daripada orang lain, baik itu berupa ketampanan, harta, kekuatan, kedudukan, atau ilmu, niscaya dia akan mendapati bahwa nikmat-nikmat itu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak datang karena kemampuan, kekuatan, dan kecerdasannya, tapi Allahlah yang memberi dan mengaruniakan itu padanya, dan Dia Maha Kuasa untuk mengambil apa yang telah Dia karuniakan. Allah Subhanahu Wa Ta’alaa berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudharatan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53).

Maka setelah ini, tidak ada lagi alasan untuk membanggakan diri dan sombong terhadap orang lain.

Seorang penyair berkata:

وَلَا تَمْشِ فَوقَ الْأَرْضِ إِلَّا تَوَاضُعًا فَكَمْ تَحْتَهَا قَوْمٌ هُمُ مِنْكَ أَرْفَعُ

Jangan berjalan di muka bumi kecuali dengan rendah hati. Karena betapa banyak kaum yang sudah di bawah tanah, mereka jauh lebih mulia darimu.

فَإِنْ كُنْتَ فِي عِزٍّ وَخَيْرٍ وَمَنْعَةٍ فَكَمْ مَاتَ مِنْ قَوْمٍ هُمُ مِنْكَ أَمْنَعُ

Jika kamu memang hidup mulia, penuh harta, dan kekuatan. Betapa banyak kaum yang sudah mati yang dulu lebih kuat darimu.

(Kitab Raudhah al-Uqala wa Nuzhah al-Fudhala karya Abu Hatim Al-Bisti, hlm. 41).

Seorang anak Al-Mulahhab pernah berjalan dengan angkuh di hadapan Malik bin Dinar. Lalu Malik bin Dinar berkata kepadanya, “Wahai anakku, kalaulah kamu tinggalkan sikap sombong ini, pasti lebih baik.” Anak itu menanggapi, “Kamu tidak mengenal aku siapa?” Malik bin Dinar menjawab, “Aku mengenalmu dengan baik. Awalmu hanya setetes mani yang hina, akhir hidupmu hanya bangkai busuk, dan di antara itu (semasa hidup) kamu membawa kotoran (di perutmu).” Akhirnya anak muda itu menundukkan kepalanya dan berhenti dari kesombongannya.

Manshur Al-Faqih berkata: 

تَتِيهُ وَجِسْمُك مِنْ نُطْفَةٍ   وَأَنْتَ وِعَاءٌ لِمَا تَعْلَمُ

Kamu merasa sombong padahal tubuhmu berasal dari air mani. Dan kamu hanya wadah bagi sesuatu (kotoran) yang kamu tahu sendiri.

Ada juga penyair yang berkata:

وَأَحْسَنُ أَخْلَاقِ الْفَتَى وَأَتَمُّهَا تَوَاضُعُهُ لِلنَّاسِ وَهُوَ رَفِيعُ 

Akhlak paling baik dan sempurna seorang pemuda. Rendah hatinya kepada orang lain meskipun ia mulia.

وَأَقْبَحُ شَيْءٍ أَنْ يَرَى الْمَرْءُ نَفْسَهُ رَفِيعًا وَعِنْدَ الْعَالَمِينَ وَضِيعُ

Sedangkan hal terburuk adalah ketika seseorang menganggap dirinya mulia. Padahal menurut seluruh alam semesta ia orang yang hina.

Al-Hakim menyebutkan dalam kitabnya At-Tarikh bahwa Yasar pernah menulis risalah kepada seorang Gubernurnya yang berisi bait-bait ini:

لَا تَشْرَهَنَّ فَإِنَّ الذُّلَّ فِي الشَّرَهِ وَالْعِزَّ فِي الْحِلْمِ لَا فِي الطَّيْشِ وَالسَّفَهِ 

Jangan rakus, karena kehinaan itu ada pada sifat rakus. Sedangkan kemuliaan itu ada pada kesantunan, bukan pada ketergesaan dan kepandiran.

وَقُلْ لِمُغْتَبِطٍ فِي التِّيهِ مِنْ حَمَقٍ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا فِي التِّيهِ لَمْ تَتِهِ 

Katakanlah kepada orang yang sombong karena tidak tahu diri. Seandainya engkau tahu bahaya kesombongan, niscaya kamu tidak akan sombong.

التِّيهُ مَفْسَدَةٌ لِلدِّينِ مَنْقَصَةٌ لِلْعَقْلِ مَهْلَكَةٌ لِلْعِرْضِ فَانْتَبِهِ

Kesombongan itu merusak agama, mengurangi akal. dan menghancurkan kehormatan, maka waspadalah.

Siapa yang memahami ini, niscaya akan berendah hati kepada orang lain, mengetahui kadar dirinya sehingga tenang hatinya dan dekat dengan orang lain. Siapa yang menghayati Al-Qur’an, niscaya akan mendapatkan sesuatu yang dapat menyokongnya untuk mengamalkan akhlak mulia ini, meskipun yang menghayati Al-Qur’an itu masih kafir, seperti yang terjadi ada Profesor dari Jepang, Okuda.

Siapa itu Okuda? Ayat apa yang beliau tadaburi hingga menjadi kunci keislamannya?

Beliau adalah Profesor Okuda Atsushi, Profesor Sistem Politik di Universitas Keio, Kampus Shonan Fujisawa. Beliau bercerita bahwa sebelum memeluk Islam, beliau hidup dalam jahiliah, tidak mengenal kebenaran. Dulu sebelum belajar, gambaran tentang Islam di mata pelajar Jepang ini tidak bagus. Namun, beliau mulai mempelajari agama Islam pada tahun ketiga di Universitas. Dulu pernah diadakan beberapa seminar tentang Syariat Islam di sana, dan beliau hadir dan ikut serta dalam seminar-seminar itu. Beliau berkata, “Dulu ketika itu saya hanya mengetahui sekelumit tentang Islam.”

Beliau bercerita tentang kehidupannya: Dulu saya tidak bagus dalam bergaul dengan orang lain, dan cukup kesulitan dalam menjalankannya. Suatu hari saya menemukan penelitian di atas meja, kemudian aku membacanya sekilas, tapi mata saya tertuju kepada satu ayat dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa semua manusia tercipta dari tanah.

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia menciptakan (leluhur) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang bertebaran.” (QS. Ar-Rum: 20).

Saat itu, hubunganku dengan orang lain tidak baik. Saya pernah bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa hubunganku dengan orang lain tidak baik, padahal kita tercipta dari tanah yang sama?” Ternyata sebabnya adalah karena dulu saya agak sombong. Setelah saya membaca ayat ini, hatiku menjadi damai. Alhamdulillah. Sebelum membaca ayat ini, saya hanya melihat diri sendiri di dunia ini, tapi setelahnya, pandanganku tentang alam semesta, orang-orang, dan diri sendiri berubah. Saya merasa damai sepenuhnya.

Perubahan inilah yang menjadi perjumpaan awal antara diriku dengan Al-Qur’an dan ayat-ayatnya. Namun, pada waktu itu saya belum berpikir sama sekali untuk masuk Islam. Kendati demikian, saya sangat antusias dalam mempelajari perbandingan antara Syariat Islam dan hukum-hukum lainnya. 

Karena begitu besarnya antusias Okuda dengan Syariat Islam, beliau berpindah ke Aleppo untuk melanjutkan pendidikannya dan mempelajari Bahasa Arab. Beliau pun mendapat pengaruh positif dari gurunya di sana. Beliau pernah bercerita tentang gurunya, “Saya melihat dalam diri beliau contoh nyata penerapan Islam dalam pribadi seseorang. Beliau pernah berkata kepadaku, ‘Islam merupakan agama yang sempurna dan komprehensif.’ Dari situ, saya mulai berpikir untuk masuk Islam. Saat saya memikirkan itu, diriku seakan berbicara kepadaku, ‘Kamu orang Jepang, sangat aneh jika kamu masuk Islam!’ Tapi saya bertanya-tanya, ‘Apakah akan mudah bagiku untuk menjadi sosok orang Jepang sekaligus muslim dalam waktu yang sama?’”

Beliau juga bercerita tentang perjalanannya hingga bersyahadat, “Suatu hari di Aleppo, saya ada janji bertemu seseorang di masjid untuk menyelesaikan penelitian. Ketika kami berbincang, tiba waktu salat dan muazin mengumandangkan azan. Saya berpikir harus keluar dari masjid hingga orang-orang selesai salat, maka saya pun keluar. Saya pun bertanya dalam diri, ‘Sungguh aneh, saya bukan muslim, padahal saya mempelajari Islam!’ Lalu saya berpikir ulang (untuk masuk Islam). Ketika itulah saya kemudian masuk Islam. Saya yakin bahwa itu merupakan nikmat terbesar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hidupku!’”

Dr. Okuda tidak hanya berhenti pada dirinya, tapi juga mulai memberi pengaruh kepada para muridnya. Beliau menjadi teladan yang baik bagi mereka dalam berinteraksi. Oleh karena itu, ada lebih dari sepuluh orang dari murid beliau yang kemudian masuk Islam melalui perantaranya. Ini berlangsung ketika beliau mengajar Bahasa Arab di Universitas. 

Beliau berkata tentang Bahasa Arab, “Bahasa Arab adalah bahasa yang sulit sekali, dan saya iri kalian lahir dan tumbuh dengan Bahasa Arab.” 

Beliau juga pernah berkata tentang Al-Qur’an Al-Karim, “Saya harus mengatakan kepada kalian bahwa kalimat yang paling saya sukai dalam Al-Qur’an adalah (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) ‘Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6).

Ini merupakan kalimat yang sangat sangat penting, bukan hanya bagi kaum Muslimin tapi juga bagi seluruh manusia. Apabila kita telah berjalan di atas jalan yang lurus, maka hidup kita di dunia dan akhirat akan bahagia.”

Beliau juga berkata, “Al-Qur’an mendorong dan memerintahkan kita untuk memahami dan menghayati ayat-ayat seperti ini. Al-Qur’an yang akan menuntun kita pada ayat-ayat itu dan membuat kita merasakan maknanya. Al-Qur’an memberi kita dasar untuk beraksi. Kita harus meneliti dan menadaburi sendiri ayat-ayat ini. Al-Qur’an merupakan sebab hidayah bagiku, dan ia merupakan jalan hidayah bagi seluruh manusia. Saya ingin kalian membacanya dengan metode membaca yang benar-benar berbeda. Saya tidak mengetahui apakah kita telah membacanya dengan bacaan yang membuat Allah ridha atau tidak.” (Kisah ini saya sarikan dari salah satu sesi dalam program “Bil-Qur’an Ihtadaitu”). 

Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah mendapat petunjuk ini:

  1. Belajar Bahasa Arab punya pengaruh besar dalam menadaburi Al-Qur’an dan untuk mendapat petunjuk darinya.
  2. Tadabbur Al-Qur’an merupakan jalan untuk mendapat hidayah, meskipun yang menadabburinya orang kafir.
  3. Membanggakan diri sendiri dan sombong di hadapan orang lain menimbulkan kesempitan jiwa dan kegelisahan, dan menjauhkan pelakunya dari orang lain dan interaksi dengan mereka.
  4. Penerapan Islam sepenuhnya oleh seorang muslim dalam kehidupan nyata merupakan salah satu cara paling ampuh dalam berdakwah kepada orang-orang non-Muslim. Setiap muslim hendaknya menjadi duta Islam di manapun ia berada, berdakwah dengan amalan, sikap, dan akhlaknya.

Sumber:

Sumber artikel PDF

🔍 Qurban Kambing Untuk Berapa Orang, Arti Mimpi Ngupil, Sejarah Peringatan Isra Mi’raj, Kumpulan Doa Islam, Imunisasi Rubella Menurut Islam

Visited 23 times, 20 visit(s) today


Post Views: 2

QRIS donasi Yufid

Berita Terkini

Berita Terbaru

Daftar Terbaru

News

Jasa Impor China

Berita Terbaru

Flash News

RuangJP

Pemilu

Berita Terkini

Prediksi Bola

Technology

Otomotif

Berita Terbaru

Teknologi

Berita terkini

Berita Pemilu

Berita Teknologi

Hiburan

master Slote

Berita Terkini

Pendidikan

Resep

Jasa Backlink

Slot gacor terpercaya

Anime Batch