Kurengkuh Anakku | Tebuireng Online
Aku adalah ibu dari seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun, bernama Zaki Ahmad. Ia duduk di kelas 4 di sebuah SD negeri di tengah kota metropolitan yang sibuk dan bising. Kota ini seolah tidak pernah tidur, selalu berlari dengan kecepatan yang tak sanggup diikuti oleh anakku.
Zaki bukan anak yang seperti kebanyakan. Sejak kecil, dokter mendiagnosisnya mengalami keterlambatan dalam memahami, membaca, dan berbicara. Saat anak-anak seusianya sudah bisa merangkai kalimat, Zaki masih berjuang menyebut satu kata dengan jelas. Saat anak lain cepat menghafal, Zaki memerlukan waktu berhari-hari untuk mengingat tiga kata baru.
Tapi bagiku, Zaki adalah hadiah terindah yang Allah titipkan.
Setiap pagi, sebelum fajar, aku selalu membangunkannya dengan lembut.
“Zaki… bangun, Nak. Kita siap-siap sekolah.”

Dia akan mengucek matanya, lalu memandangku dengan senyum kecil yang seperti cahaya di hatiku.
Pagi itu, seperti biasa, aku menyiapkan sarapan roti tawar dan susu hangat. Sambil makan, aku mencoba mengulang hafalan perkalian yang kemarin dia pelajari.
“Dua kali tiga… berapa?” tanyaku pelan.
Ia mengerutkan dahi, mencoba mengingat. Lama sekali ia terdiam, lalu berkata pelan, “Enam?”
“Ya, betul!” kataku cepat, memberi semangat, meskipun aku tahu jawaban itu mungkin hanya kebetulan ia ingat.
Setiap keberhasilan kecil baginya adalah kemenangan besar untukku.
****
Sekolah Zaki berada tak jauh dari rumah, hanya butuh naik angkot lima belas menit. Tapi perjalanan ke sekolah sering kali membuatku cemas. Di kelasnya, anak-anak sudah mulai lancar membaca buku cerita dan berhitung cepat, sementara Zaki masih mengeja kata demi kata dengan terbata.
Guru kelasnya, Bu Ratna, adalah sosok yang sabar. Aku sering menemui beliau sepulang sekolah untuk berdiskusi.
“Bu Aini,” kata Bu Ratna suatu hari, “Zaki memang butuh waktu lebih banyak. Saya akan mencoba metode berbeda, dengan banyak visual dan permainan. Kita tidak akan memaksanya, tapi kita akan terus membimbing.”
Mendengar itu, hatiku sedikit lega. Aku tahu, tak semua guru mau sabar menghadapi anak seperti Zaki di tengah tuntutan kurikulum yang ketat.
Kadang Zaki pulang sekolah dengan wajah murung.
“Teman-teman bilang aku lambat,” bisiknya suatu sore.
Aku memeluknya erat. “Nak, setiap orang punya waktu yang berbeda untuk belajar. Ada yang seperti berlari, ada yang berjalan, ada yang melangkah pelan. Yang penting, kamu terus maju.”
Di dalam hati, aku menangis. Betapa sulitnya baginya bertahan di dunia yang serba cepat ini.
****
Belajar di rumah pun bukan perkara mudah. Zaki mudah lelah, mudah lupa, dan mudah kehilangan fokus. Ada kalanya ia menatap buku tanpa membaca, pikirannya entah ke mana.
Suatu malam, aku menemaninya mengerjakan PR membaca. Hanya satu paragraf pendek, tapi ia memerlukan hampir setengah jam untuk menuntaskannya. Setiap kali salah, ia menggigit bibir, frustrasi.
“Tidak apa-apa, kita ulangi,” kataku lembut.
Aku tahu, jika aku ikut marah, semangatnya akan patah.
Ayahnya, meskipun sibuk bekerja, selalu meluangkan waktu untuk duduk bersama Zaki di malam hari. Mereka sering mengulang hafalan bersama atau bermain teka-teki sederhana.
“Kalau capek, istirahat sebentar, Nak,” kata ayahnya. Zaki akan tersenyum, lalu melanjutkan mencoba, seolah ia tahu kedua orang tuanya berdiri teguh di belakangnya.
****
Ada satu kejadian yang masih membekas di hatiku.
Hari itu, sekolah mengadakan lomba membaca puisi antar kelas. Bu Ratna mendorong Zaki untuk ikut, meskipun aku sempat ragu. “Saya ingin dia merasakan berdiri di depan teman-temannya, Bu,” kata Bu Ratna. “Tidak untuk menang, tapi untuk percaya diri.”
Selama seminggu, kami berlatih setiap malam. Zaki sering lupa bait kedua, lidahnya kadang terbelit di kata-kata sulit. Tapi setiap kali ia berhasil mengucapkan satu baris dengan lancar, aku tepuk tangannya.
Hari lomba tiba. Aku duduk di deretan kursi orang tua, jantungku berdegup. Zaki maju dengan langkah ragu, memegang kertas puisi erat-erat. Di awal, suaranya bergetar. Beberapa anak di belakang terkikik pelan, dan dadaku sesak. Tapi Bu Ratna memberi isyarat dengan senyum dan anggukan, dan Zaki melanjutkan.
Meskipun tersendat di beberapa kata, ia menuntaskan puisinya. Tepuk tangan pun terdengar, sebagian mungkin karena iba, tapi bagiku itu adalah tepuk tangan kemenangan. Zaki tersenyum kecil saat turun panggung, dan aku memeluknya erat.
Hari itu aku sadar, perjuangan ini bukan tentang membuatnya sama seperti anak lain, tapi membuatnya percaya bahwa ia mampu.
****
Namun, tak semua hari berjalan manis. Ada hari-hari penuh air mata. Pernah suatu malam, setelah gagal mengerjakan soal perkalian yang sama berulang kali, Zaki menutup bukunya dan berkata, “Aku bodoh, Bu.”
Kata itu seperti pisau menusuk hatiku. Aku memeluknya erat dan berbisik, “Kamu tidak bodoh. Kamu hanya punya cara belajar yang berbeda. Dan itu tidak membuatmu kurang berharga.”
Kadang aku merasa lelah. Ada saat-saat aku ingin menyerah, membiarkannya berhenti berusaha. Tapi setiap kali melihat matanya yang penuh harap, aku tahu aku tidak boleh menyerah.
Bu Ratna pun mengajarkanku strategi belajar untuk anak seperti Zaki: gunakan gambar, ulangi pelajaran dengan cara yang menyenangkan, dan beri jeda istirahat lebih sering. Kami mencoba metode itu di rumah.
Saat belajar perkalian, aku membuat kartu angka warna-warni. Saat membaca, kami gunakan buku bergambar besar. Perlahan, Zaki mulai lebih bersemangat.
Peran orang tua dalam hidupnya terasa seperti tali yang terus menariknya agar tidak tenggelam. Ayahnya adalah jangkar yang membuatnya merasa aman, sementara aku menjadi dayung yang mendorongnya terus maju, walau arus melawan.
****
Kini, meskipun Zaki belum bisa membaca secepat teman-temannya, ia sudah mampu memahami cerita sederhana. Ia masih kesulitan menghafal, tapi ia sudah bisa mengingat perkalian satu sampai lima dengan bantuan nyanyian yang kami ciptakan bersama.
Perjalanannya panjang dan berat. Tapi aku selalu percaya, suatu hari nanti, ia akan menemukan kecepatannya sendiri. Dunia mungkin tak akan pernah melambat untuk menunggunya, tapi kami, keluarganya, akan selalu berjalan di sampingnya.
Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu mengusap kepalanya dan berdoa.
“Ya Allah, berikan Zaki kekuatan untuk terus belajar. Jadikan dia anak yang sabar, percaya diri, dan bahagia, meskipun jalannya berbeda.”
Zaki biasanya menjawab pelan, “Amin,” lalu memelukku. Di pelukan itu, aku tahu perjuangan ini belum selesai, tapi kami akan melaluinya bersama. Di setiap langkah kecilnya, aku akan selalu menjadi saksi.
Penulis: Ummu Masrurah
Game Center
Game News
Review Film
Rumus Matematika
Anime Batch
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime