
Menjadi Layak Dicintai | Tebuireng Online
Haruskah wanita menjadi cantik parasnya baru dapat jodoh? pertanyaan ini mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tapi bagi perempuan terutama yang tumbuh dalam bayang-bayang standar kecantikan sosial pertanyaan ini bisa menjadi sumber luka yang terus menganga. Dari kecil, perempuan sudah dijejali dengan pemahaman bahwa nilai dirinya ada pada wajahnya. Bahwa semakin cantik parasnya, semakin besar peluangnya untuk dicintai, dilamar, dan akhirnya mendapatkan jodoh.
Padahal, cinta yang sejati tidak mengenal ukuran pipi, bentuk hidung, atau warna kulit. Tapi sayangnya, masyarakat kita masih terlalu sibuk mengukur cinta dengan kriteria fisik. Seakan-akan jodoh hanya akan datang kepada mereka yang memenuhi “syarat visual” yang ditentukan dunia: kulit putih, badan langsing, tinggi semampai, dan wajah tirus berstandar selebgram.
Baca Juga: Teka-teki Hidup Perempuan
Akibatnya, banyak perempuan yang tumbuh dengan rasa takut, takut tidak cukup cantik, takut tidak cukup menarik, takut ditinggalkan hanya karena tidak tampil sempurna setiap waktu. Kita bisa lihat sendiri bagaimana industri kosmetik dan klinik kecantikan terus berkembang. Bukan karena perempuan terlalu dangkal, tapi karena dunia terlalu keras pada mereka yang tidak memenuhi standar.
Banyak perempuan menghabiskan waktu, tenaga, dan uang hanya untuk membuat dirinya “layak dicintai”. Mereka membentuk tubuh, memutihkan kulit, mempermak wajah semua demi mendapatkan validasi dari luar: bahwa mereka pantas mendapatkan pasangan. Ini bukan salah mereka. Ini adalah efek dari dunia yang seolah memberi pesan bahwa cinta hanya milik yang cantik.

Padahal jika kita mau jujur, apakah cinta yang tulus itu benar-benar membutuhkan kecantikan fisik sebagai syarat utama? Banyak kisah nyata yang membuktikan bahwa paras rupawan tidak menjamin kebahagiaan dalam hubungan. Ada yang menikah dengan lelaki tampan dan perempuan cantik, tapi rumah tangganya penuh konflik. Ada pula yang hidup sederhana, bahkan jauh dari ideal fisik, tapi langgeng dan saling mencintai seumur hidup.
Cinta, sejatinya, adalah tentang rasa. Tentang kenyamanan, kesetiaan, komunikasi, dan saling menghargai. Dan itu tidak bisa ditakar dari bentuk wajah atau berat badan. Tapi tetap saja, realita di luar sering berkata sebaliknya.
Lihat saja media sosial. Postingan pernikahan yang viral biasanya karena “pengantin perempuannya cantik banget” atau “cowoknya ganteng banget, mirip artis”. Jarang ada yang mengangkat cerita tentang perjuangan cinta mereka, kesetiaan yang dibangun bertahun-tahun, atau sifat-sifat baik yang dimiliki. Lagi-lagi, fisik jadi sorotan utama. Seolah-olah cinta hanya pantas untuk mereka yang tampak indah di kamera.
Bahkan tidak sedikit perempuan yang secara terang-terangan dinasihati oleh lingkungannya: “Makanya dandan biar cepat dapat jodoh.” “Perawatan dong, biar nggak kalah saing sama cewek lain.” Alih-alih mengajarkan perempuan untuk memperbaiki karakter, meningkatkan kualitas diri, atau memperluas wawasan, mereka malah didorong untuk fokus pada penampilan semata.
Baca Juga: Di Mana Tempat Paling Aman untuk Perempuan?
Sungguh menyedihkan ketika nilai seorang perempuan hanya dilihat dari cermin, bukan dari dalam dirinya. Seakan-akan cinta itu buta terhadap kebaikan hati, dan hanya melihat riasan wajah.
Dan dari semua ini, yang paling memprihatinkan adalah: perempuan mulai mempercayai bahwa dirinya memang harus cantik agar bisa mendapatkan cinta. Mereka merasa tidak cukup layak dicintai jika tidak sesuai dengan standar cantik umum. Mereka merasa jodoh mereka tertunda karena tubuh mereka tidak langsing, kulit mereka tidak mulus, atau karena mereka tidak memakai make up.
Ini adalah jebakan sosial yang sangat merugikan. Karena cinta bukan kompetisi kecantikan. Dan jodoh bukan hadiah untuk yang menang dalam lomba merias diri. Jodoh adalah takdir, yang datang pada waktu yang tepat, kepada orang yang tepat, dengan alasan yang mungkin tak bisa ditebak oleh akal manusia.
Kita harus mulai membebaskan perempuan dari tekanan ini. Perempuan tidak harus cantik untuk dicintai. Yang perlu adalah menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Karena perempuan yang mencintai dirinya, yang percaya pada kemampuannya, dan yang yakin bahwa dirinya layak mendapatkan cinta yang tulus, jauh lebih mempesona dari sekadar wajah cantik.
Baca Juga: Alasan Mengapa Perempuan Cerdas Membuat Laki-laki Minder
Kita perlu mendidik anak-anak perempuan kita bahwa nilai mereka tidak ditentukan oleh likes di Instagram, atau komentar tentang wajah di TikTok. Kita perlu mengajarkan bahwa cinta sejati tidak pernah melihat fisik sebagai syarat utama. Kita perlu membangun dunia yang bisa menghargai perempuan bukan karena cantik, tapi karena karakter dan keberanian mereka.
Jadi, haruskah perempuan menjadi cantik parasnya baru dapat jodoh? jawabannya: tidak.
Karena jodoh bukan tentang cantik atau tidak cantik. Tapi tentang siapa yang mampu menerima, memahami, dan mencintai kita tanpa syarat. Dan cinta yang sejati, tidak akan pernah datang karena wajah, tapi karena hati.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Game Center
Game News
Review Film
Rumus Matematika
Anime Batch
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime