Apakah Hatimu Merasakan Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala? – KonsultasiSyariah.com
Oleh:
Lubna Syaraf
Manusia dengan fitrahnya mencintai dirinya sendiri, eksistensinya, dan kesempurnaannya, dan sesuai tabiatnya menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Hal ini seharusnya menjadi sebab kecintaannya yang tertinggi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai dirinya sendiri, tapi justru tidak mencintai Tuhannya yang menjadi sumber eksistensinya, keberadaannya, kelangsungannya, dan kesempurnaannya?. Bagaimana bisa dibayangkan seseorang mencintai manusia lain yang telah berbuat baik kepadanya, tapi tidak mencintai Zat yang telah melimpahkan segala bentuk kebaikan tanpa batas kepadanya?. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka (semuanya) adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53).
Imam Al-Ghazali berkata: “Penjelasannya, kita misalkan ada orang yang memberimu seluruh harta dan kekayaannya, dan memberimu izin untuk membelanjakannya sesuka hatimu, kamu pasti mengira itu adalah kebaikan dari dirinya, padahal itu keliru. Sebenarnya, kebaikan orang itu hanya melalui hartanya, penguasaannya terhadap harta itu, dan dorongan hatinya untuk memberikannya kepadamu. Namun, siapa sebenarnya yang telah menciptakan orang itu, menciptakan hartanya, dan menciptakan keinginan dan dorongan hatinya untuk memberi?. Dan sebenarnya siapa yang membuatmu mencintainya, menjadikanmu condong kepadanya, dan menanamkan dalam dirinya bahwa suatu kebaikan dunia dan agama jika dia berbuat kebaikan kepadamu?. Yang kalaulah bukan karena dorongan itu, dia tidak akan memberi harta itu kepadamu, sehingga (karena dorongan itu) seakan-akan dia terpaksa untuk menyerahkan harta itu kepadamu tanpa mampu melawannya. Dengan demikian, yang berbuat kebaikan sesungguhnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memaksanya (dengan dorongan hati itu) dan menundukkannya untukmu.”
Lalu apakah hatimu telah merasakan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?.
Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan kuat dalam hati seseorang kecuali dia mengosongkannya dari selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan memutus segala hubungan dengan dunia dan para makhluk. Karena bagaimana mungkin cintamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu kuat, sedangkan hatimu masih tergantung pada dunia dan isinya, atau tergantung kepada makhluk-Nya?. Bagaimana mungkin kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hatimu sejajar dengan kecintaan kepada para makhluk?.
Padahal jika kamu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia mengabulkanmu, jika kamu meminta kepada-Nya, Dia memberimu. Sedangkan jika kamu meminta sesuatu kepada manusia, ia justru marah, membuang muka darimu, dan berpaling darimu seakan-akan ia tidak pernah mengenalmu! Allahlah Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi, dan Maha Pengasih. Bahkan Dia sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam:
هُوَ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Al-Bukhari. Hadis shahih, disebutkan dalam Al-Jami ash-Shahih No. 5999).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengampuni, Memaafkan, Menghapus dosa, dan Menutupi aib. Namun manusia seandainya kuasa ada di tangannya, niscaya tidak sudi memasukkan saudaranya ke dalam surga, karena manusia itu pelit, bahkan dalam memberi kasih sayang. Ini sudah menjadi tabiatnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا
“Dan manusia itu sangat kikir.” (QS. Al-Isra: 100).
Dan ayat ini disebutkan dalam konteks pembahasan tentang rahmat.
Oleh sebab itu, orang yang hendak menunaikan haji harus meminta maaf kepada sesama manusia, karena hak-hak manusia terbangun di atas kekikiran. Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia Maha Pengampun, Maha Luas ampunan-Nya, Maha Penerima taubat, melipatgandakan amal kebaikan, dan memaafkan kekeliruan. Dialah yang menyingkap musibah setelah menimpa kita, Dialah asa dan harapan kita. Duhai Tuhan kami, segala puji hanya bagi Engkau, pujian yang layak bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kuasa-Mu, pujian yang melimpah, baik, dan penuh berkah.
يَا مَنْ إِذَا قُلْتُ يَا مَوْلاَيَ لَبَّانِي يَا وَاحِدًا مَا لَهُ فِي مُلْكِهِ ثَانِي
Wahai Zat yang jika aku berseru, “Ya Tuhanku!”, Dia menjawabku. Wahai Yang Maha Esa, tidak punya di kerajaan-Nya sekutu
أَعْصِي وَتَسْتُرُنِي أَنْسَى وَتَذْكُرُنِي فَكَيْفَ أَنْسَاكَ يَا مَنْ لَسْتَ تَنْسَانِي
Aku bermaksiat, tapi Engkau menutupi aibku, aku lupa, tapi Engkau mengingatku. Bagaimana aku bisa melupakan Engkau, wahai Dzat yang tak pernah melupakanku
Setelah semua ini, apakah hatimu belum juga dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?.
Kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga tidak akan kuat kecuali dengan mengenal-Nya, karena kenikmatan dalam hati tidak akan muncul kecuali melalui pengetahuan tentang-Nya. Lalu tidak ada yang dapat mengantarkan seorang hamba pada pengetahuan ini kecuali – seperti yang dikatakan Imam Al-Ghazali –: “Pikiran yang jernih, zikir yang konsisten, kesungguhan dalam mencari-Nya, dan mencari petunjuk-petunjuknya melalui perbuatan-perbuatan-Nya. Dan perbuatan-Nya yang paling sederhana adalah bumi dan seisinya, dan kerajaan langit.
Keberadaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan seluruh sifat-Nya yang lain telah disaksikan secara pasti oleh segala sesuatu yang kita lihat, batu, pohon, tanah, tumbuhan, hewan, bumi, langit, bintang-bintang, daratan, dan lautan, bahkan saksi pertama kita adalah jiwa dan raga kita, pergantian keadaan kita, perubahan kondisi hati kita, dan seluruh gerak-gerik kita.”
Apabila pengetahuan telah tercapai, maka akan diikuti dengan kecintaan. Andai saja aku tahu, apakah di alam semesta ini ada yang lebih agung, tinggi, mulia, sempurna, dan besar daripada Yang Menciptakan, Menghadirkan, Menampakkan, Mengulangi penciptaan, dan Mengatur alam semesta ini?.
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya orang yang mengetahui Tuhannya pasti mencintai-Nya, dan orang yang mengetahui hakikat dunia pasti bersikap zuhud terhadapnya.”
Beliau juga berkata: “Orang yang mengenal Tuhannya pasti mencintai-Nya. Adapun orang yang mencintai selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan atas dasar kecintaan kepada-Nya, maka itu karena kejahilan dan kerendahan pengetahuannya tentang-Nya. Sedangkan kecintaan kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam, itu tidak akan terwujud kecuali atas dasar kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, begitu juga kecintaan kepada para ulama dan orang-orang bertakwa. Karena orang yang dicintai kekasih adalah orang yang kita cintai juga, dan ini semua kembali ke cinta yang utama, dan pada hakikatnya tidak ada kekasih bagi orang-orang yang berakal kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tidak ada yang berhak mendapat cinta kecuali Dia.”
Orang yang mencintai Penciptanya, pasti akan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan, ibadah, dan pendekatan diri kepada-Nya, tanpa lelah dan bosan. Mungkin badan bisa lelah, tapi hati tidak ada lelahnya.
Farqad As-Sabakhi berkata: “Saya pernah membaca dalam salah satu buku: Siapa yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada apa yang diinginkan-Nya. Dan siapa yang mencintai dunia, tidak ada apa pun yang lebih ia utamakan daripada hawa nafsunya. Orang yang mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pemimpin yang dipatuhi para pemimpin, golongannya akan menjadi golongan pertama pada Hari Kiamat, dan majelisnya adalah majelis yang paling dekat di sana. Kecintaan merupakan puncak kedekatan dan kesungguhan.
Para pencinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada bosan-bosannya untuk terus beramal untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka mencintai-Nya, suka menyebut-Nya, berusaha membuat orang lain mencintai-Nya, senantiasa menebar nasihat bagi para hamba-Nya, dan mengkhawatirkan nasib mereka atas amalan mereka pada Hari Kiamat, hari tersingkapnya segala keburukan. Merekalah para wali, kekasih, dan orang-orang pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Merekalah orang-orang yang tidak merasa tenang kecuali dengan berjumpa dengan-Nya.”
Imam Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa manusia paling bahagia dan paling bagus keadaannya di akhirat adalah orang yang paling kuat rasa cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena akhirat artinya datang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meraih bahagianya perjumpaan dengan-Nya. Betapa besar kenikmatan pencinta ketika ia datang menemui kekasihnya setelah kerinduan yang panjang! Ia dapat memandangnya tanpa gangguan dan halangan! Hanya saja, besarnya kenikmatan ini sesuai kadar cintanya, semakin besar cintanya, semakin bertambah kenikmatannya.”
Di antara buah dari rasa cinta adalah mendapatkan kedamaian hati saat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, munajat kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, memanfaatkan ketenangan malam tanpa gangguan untuk menghadap kepada-Nya, karena tingkat terendah rasa cinta adalah merasakan kenikmatan saat berdua-duaan dengan kekasih dan menyukai obrolan dengannya.
يَا غَافِلاً وَالجَلِيلُ يَحْرُسُهُ مِنْ كُلِّ سُوءٍ يَدِبُّ فِي الظُّلَمِ
Wahai orang yang lalai, ketika Sang Kuasa menjaganya. Dari segala keburukan yang merayap dalam kegelapan
كَيْفَ تَنَامُ العُيُونُ عَنْ مَلِكٍ تَأْتِيهِ مِنْهُ فَوَائِدُ النِّعَمِ
Bagaimana mata dapat terpejam dari Sang Maha Raja. Yang dari-Nya segala bentuk kenikmatan
Al-Hasan berkata: “Siapa yang ridha dengan rezeki yang diberikan kepadanya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melapangkan dan memberkahi rezeki itu untuknya. Dan siapa yang tidak ridha, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melapangkan dan memberkahinya.”
Makhul berkata: “Aku pernah mendengar Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: Ada orang yang beristikharah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi pilihan untuknya, tapi kemudian ia justru tidak puas dengan pilihan itu. Tidak lama setelah itu ia melihat hasil dari urusan tersebut, dan ternyata Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilihkan yang terbaik baginya.”
Ini memang nyata terjadi, seandainya kita memahami Allah Subhanahu Wa Ta’ala, betapa banyak urusan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan yang sebenarnya mengandung kelembutan, rahmat, dan segala kebaikan bagi kita!
Betapa banyak ujian dan musibah yang di baliknya terkandung karunia dan keuntungan! Betapa banyak cobaan yang mengandung peningkatan derajat! Ya Allah, betapa mulianya Engkau, betapa lembutnya Engkau, dan betapa luas karunia Engkau!
Wahai Zat yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, wahai Dzat yang lebih penyayang daripada ibu yang telah melahirkan kami! Wahai Zat yang apabila cara telah habis, jalan telah buntu, harapan telah pupus, pertolongan telah terputus, dada menjadi begitu sempit, urusan menjadi amat sulit, dan pintu-pintu di tutup di hadapan kita, lalu kami berseru, “Ya Allah!” maka turunlah kelembutan, perhatian, pertolongan, bantuan, kecintaan, dan kebaikan dari-Mu.
Kepada Allah dibentangkan telapak tangan di akhir-akhir malam, dijulurkan tangan-tangan di saat kebutuhan menghujam, ditundukkan mata-mata saat dalam kesulitan, dan dihaturkan doa-doa ketika musibah datang. Dengan nama-Nya tiada henti diucapkan lisan, dimintai pertolongan, disebut dan diseru. Dengan menyebut-Nya hati menjadi tenang, jiwa menjadi tenteram, perasaan menjadi damai, dan urat saraf menjadi renggang, lalu keyakinan semakin teguh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Lembut kepada para hamba-Nya.
Apakah setelah ini semua, hatimu belum juga merasakan cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?.
Dikisahkan oleh beberapa orang yang mendapat siksaan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa mereka berkata: “Seandainya kami dimutilasi potongan demi potongan, niscaya tidak ada yang bertambah dalam diri kami kecuali rasa cinta kepada-Nya.”
Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keridhaan setelah turun ketetapan-Mu, kedamaian hidup setelah kematian, kenikmatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu. Amin. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Sumber:
Sumber artikel PDF
🔍 Cara Menghilangkan Santet Secara Islam, Tidak Akan Masuk Surga Orang Yang, Berapa Ayat Surat Al Kahfi Yang Dibaca Pada Hari Jumat, Doa Agar Terhindar Dari Syirik, Kifarah Dalam Islam
Visited 113 times, 1 visit(s) today
Post Views: 111

News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.