Jenis-Jenis Muhasabah Diri – KonsultasiSyariah.com
6 mins read

Jenis-Jenis Muhasabah Diri – KonsultasiSyariah.com


أنواع محاسبة النفس

Oleh: 

Syaikh Abdul Aziz as-Salman

الشيخ عبدالعزيز السلمان

وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ نَوْعَانِ:

أَمَّا الأَولُ: فَيقِفْ عِنْدَ أَوَّلِ هِمَّتِهِ وَإرَادَتِهِ وَلا يُبَادِرُ بالْعملِ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُجْحَانُهُ على تركِهِ، قَالَ الْحسنُ: رَحِمَ اللهُ عَبْدًا وَقفَ عندَ هَمِّهِ فَإِنْ كانَ للهِ مَضَى وَإِنْ كَانَ لَغَيْرِهِ تَأخَّرَ.

Muhasabah diri terbagi menjadi dua jenis:

Pertama:

Bermuhasabah sebelum menjalankan tekad dan keinginannya, tidak terburu-buru menjalankannya sebelum jelas baginya bahwa itu lebih baik dijalankan daripada tidak. Al-Hasan berkata, “Semoga Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam merahmati seorang hamba yang merenung terlebih dahulu sebelum menjalankan amalan yang ia inginkan, apabila keinginan itu bertujuan karena Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia menjalankannya dan jika karena selain Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia mengurungkannya.”

النُّوع الثَّانِي: مُحَاسَبَةٌ بَعْدَ العَمَلِ، وهو ثلاثَةُ أَنْوَاعٍ: أحدُهَا مُحَاسَبَتُهَا عَلَى طَاعَةٍ قَصَّرَتْ فِيهَا مِنْ حَقَّ اللهِ فَلَمْ تُوقِعْهَا عَلَى الوَجْهِ الذي يَنْبَغِي

وَحَقُّ اللهِ في الطَّاعاتِ بِمُرَاعات سِتَّةِ أُمُورٍ وهِيَ: الإخْلاصُ في العمل والنصيحةُ للهِ فيه وَمُتَابَعَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَشُهُودُهُ مَشْهَدَ الإحْسَانِ فيهِ، وَشُهُودُ مِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ فِيهِ، وَشُهُودُ تَقْصِيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ، فَيُحَاسِبُ نَفْسَهُ هَلْ وَفّى هَذِهِ الْمَقَامَاتِ حَقَّهَا، وَهَلْ أَتَى فِي هَذِهِ الطَّاعَاتِ، الثَّانِي: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ كَانَ تَركَهُ خَيرًا لَهُ مِن فعله. الثَّالث: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى أَمْرٍ مباحٍ أَوْ مُعْتَادٍ لَما فَعَلَهُ، وَهَلْ أَرَادَ بِهِ اللهِ والدَّارَ الآخِرةَ فَيَكُونُ رَابِحًا فِيهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ الدُّنْيَا وَعَاجِلَتَهَا فَيَخْسَرُ ذَلِكَ الرِّبْحَ وَيَفُوتُهُ الظَّفَرُ بِهِ.

Kedua:

Bermuhasabah setelah menjalankan amalan. Dan jenis ini terbagi lagi menjadi tiga:

1. Bermuhasabah atas hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan yang ia kerjakan ala kadarnya, sehingga tidak ia kerjakan sebagaimana yang seharusnya.

Adapun hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ketaatan harus ditegakkan di dalamnya 6 perkara, yaitu; (1) ikhlas dalam mengamalkannya, (2) tulus melaksanakannya karena Allah, (3) mengikuti tuntunan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengamalkannya, (4) menjalankannya seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala melihatnya (derajat ihsan), (5) bersaksi atas kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya dalam menjalankan amalan itu, (6) bersaksi atas ketidaksempurnaannya dalam menjalankan amalan itu setelah perkara-perkara tersebut.

Ia harus memuhasabah dirinya apakah telah menjalankan sepenuhnya tingkatan-tingkatan tersebut dan apakah itu telah tercapai dalam ketaatan tersebut?

2. Bermuhasabah diri atas amalan yang jika ditinggalkan lebih baik baginya daripada dijalankan.

3. Bermuhasabah diri atas perkara mubah atau kebiasaan yang ia kerjakan; mengapa ia mengerjakannya dan apakah ia mengerjakannya karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala di kehidupan akhirat, sehingga ia mendapat keuntungan dari amalan mubah itu? Atau justru ia hanya mencari kenikmatan dunia, sehingga ia melewatkan keuntungan darinya?

قَالَ: وَجِمَاعُ ذَلِكَ أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَه أولاً عَلَى الْفَرَائِضِ فَإِذَا تَذَكَّرَ فِيهَا نَقْصًا تَدَارَكَهُ إِما بِقَصَاءٍ أَوْ إِصْلاحٍ ثُمَّ يُحَاسِبُ عَلَى الْمَنَاهِي فَإنْ عَرَفَ أَنَّهُ ارْتَكَبَ مِنْهَا شَيْئًا تَدَارَكَهُ بالتَّوْبَةِ والاسْتِغْفَارِ والْحسناتِ الْمَاحِيةِ ثُمَّ يُحَاسِبُ نَفْسَه على الْغَفْلَةِ فإن كَانَ قَدْ غَفَلَ عَمَّا خُلِقَ لَهُ تَدَارَكَهُ بالذِّكْرِ والإِقْبَالِ على الله.

Inti dari ini semua adalah pertama-tama seorang hamba harus bermuhasabah diri atas kewajiban-kewajibannya. Apabila ia melihat ada kekurangan di dalamnya, hendaklah ia melakukan koreksi, entah itu dengan menggantinya atau memperbaikinya. Kemudian bermuhasabah diri atas larangan-larangan, apabila ia menyadari ada larangan yang ia langgar, hendaklah ia melakukan koreksi dengan bertobat, beristighfar, dan mengerjakan kebaikan-kebaikan yang dapat menggugurkan dosa.

Selain itu, ia juga harus bermuhasabah diri atas kelalaian, apabila ia lalai terhadap tujuan penciptaannya, ia segera memperbaikinya dengan kembali mengingat dan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ثُمَّ يُحَاسِبُهَا بِمَا تَكَلَّمَ به لِسَانُهُ أَوْ مَشَتْ بِهِ رِجْلاهُ أَوْ بَطَشَتْهُ يَدَاهُ أَوْ سَمِعَتْهُ أُذْنَاهُ مَاذَا أَرَدْتَ بِهَذَا، وَلِمَ فَعَلْتُ، وَعَلَى أَيْ وَجْهٍ فَعَلْتُهُ، وَيَعْلَمُ أنَّه لا بُدَّ أَنْ يُنْشَرَ لِكلَّ حَرَكةٍ وَكَلِمَةٍ مِنْه دِيوانٌ لِمَ فَعَلْتَهُ وَكَيْفَ فَعَلْتَهُ فَالأوَّلُ: سُؤالٌ عَنْ الإِخْلاصِ. والثَّانِي: سُؤالٌ عَنْ الْمُتَابَعَةِ: ﴿ فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾ [الحجر: 92، 93]، وقَالَ: ﴿ فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ ﴾ [الأعراف: 6، 7]، وقَالَ: ﴿ لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ ﴾ [الأحزاب: 8]، فَإِذَا سُئِلَ الصَّادِقونَ وحُوسِبُوا عَلَى صِدْقِهِمْ فَمَا الظَّنُ بالكَاذِبينَ؟ وقَالَ قَتَادة: كَلِمَتَانِ يُسئلُ عَنْهُمَا الأوَّلَونَ والآخِرونَ: مَاذَا كُنْتمُ تَعْبُدونَ؟ وماذا أجبْتمُ الْمُرَسلينَ، فَيُسألونَ عن الْمَعْبُودِ، وعَنِ العِبَادَةِ، وقَالَ تَعَالى: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر: 8].

تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا 

وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا 

إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا

Selanjutnya hendaklah ia bermuhasabah diri atas apa yang telah diucapkan lisannya, dituju oleh langkah kakinya, digenggam oleh kedua tangannya, atau didengar oleh kedua telinganya, apa yang kamu kehendaki pada hal tersebut, mengapa saya melakukannya, dan atas alasan apa saya mengerjakannya?

Ia harus mengetahui bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan yang datang darinya akan dicatat dan dipampang di hadapannya lalu ditanya, “Untuk apa kamu melakukannya?” dan “Bagaimana kamu mengerjakannya?”

Pertanyaan pertama tentang keikhlasan (untuk apa), dan pertanyaan kedua tentang mengikuti tuntunan Rasul (bagaimana). 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr: 92-93). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman:

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ * فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ

“Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka telah diutus para rasul. Pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul. Kemudian, pasti akan Kami kabarkan (hal itu) kepada mereka berdasarkan ilmu (Kami). Sedikit pun Kami tidak pernah gaib (jauh dari mereka).” (QS. Al-A’raf: 6-7). Allah Subhanahu wa Ta’ala Juga berfirman:

لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ

“Agar Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8).

Apabila orang-orang yang benar saja akan ditanya dan diberi perhitungan atas kebenaran mereka, lalu bagaimana menurutmu dengan orang-orang dusta?

Qatadah berkata, “Ada dua kalimat yang akan ditanyakan kepada setiap orang dari yang pertama hingga yang terakhir, yaitu, ‘Apa yang dulu kalian sembah?’ dan ‘Apa jawaban kalian terhadap para rasul?’ Mereka ditanya tentang yang mereka ibadahi dan ibadah mereka.” 

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8).

Dalam bait sair disebutkan:

تَصَاوَنْ عَن الأَنْذَالِ مَا عِشْتَ واكْتَسِبْ لِنَفْسِكَ كَسْبًا مِن خِلالٍ تَصُونُهَا

Jagalah dirimu dari kehinaan semasa hidup

Dan carilah bagi dirimu kehormatan diri yang selalu kamu jaga

وَمَا لِلْفَتَى بِرٌّ كَمِثلِ عَفَافِهِ إِذَا نَفْسُهُ اخْتَارَتْ لَهَا مَا يَزِينُهَا

Tidak ada kebaikan yang dimiliki seseorang yang seperti kehormatan diri

Jika dirinya memilih sifat itu sebagai penghias dirinya

إِذَا النَّفْسُ لَمْ تَقْنَعْ بِقَسْمِ مَلِيكِهَا عَلَى مَا أَتَى مِنْهُ فَمَا ثَمَّ دِينُهَا

Apabila diri ini tidak puas dengan pembagian Sang Kuasa

Atas rezeki yang datang dari-Nya, maka sebenarnya tidak tersisa lagi agamanya

قَالَ مُحَمَّدُ بنُ جَريرٍ: يَقُولُ الله تَعَالى: (لِيَسْألنَّكُم اللهُ عزَّ وَجلَّ عن النَّعيمِ الذِي كُنْتمْ فِيهِ فِي الدُّنْيَا: مَاذَا عَمِلتمُ فيهِ؟ وَمِنْ أَيْنَ وَصَلتُم إِليهِ؟ وَفِيمَ أصَبْتُمُوُه؟ وَمَاذَا عملتم بِهِ؟)، وقَالَ قَتَادَةَ: إِنَّ اللهَ سَائِلٌٌ كُلَّ عَبْدٍٍ عَمَّا اسْتَوْدَعهُ مِنْ نِعمَتِهِ وَحَقِّهِ، والنَّعِيمُ الْمَسْئُولُ عَنه نَوعانِ: نَوْعٌ أُخِذَ مِنْ حِلِّهِ وصُرفَ في حَقِّهِ فُيسَأل عَنْ شُكْرِهِ، ونَوْعُ أُخَذَ بِغيرِ حِلِّه وَصُرِف فِي غَيْرَ حَقَّه فُيسأَلُ عَن مُستَخرَجه وعن مَصرَفِهِ، وَقَدْ دَلَّ عَلَى وُجوبِ الْمُحَاسَبِةِ قَولهُ تَعَالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر: 18].

Muhammad bin Jarir mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada kalian tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah kalian nikmati di dunia, apa amalan yang telah kalian lakukan dengan nikmat itu, dari mana kalian dapat meraih nikmat itu, bagaimana kalian mendapatkannya, dan kalian gunakan untuk apa nikmat itu?”

Qatadah berkata, “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan kepada setiap hamba tentang kenikmatan dan kewajiban yang telah Dia berikan.

Kenikmatan yang akan ditanyakan ada dua bentuk, jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang halal dan disalurkan dengan benar, maka akan ditanya tentang syukurnya, dan jenis kenikmatan yang didapatkan dengan cara yang tidak halal dan disalurkan ke jalan yang tidak benar, maka akan ditanyakan tentang sumber dan penyaluran nikmat itu. Kewajiban bermuhasabah telah ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).”

اعْلم أَيَّها الإِنسان أن النفسَ الأمارةَ بالسُّوء عَدُوّةٌ لَكَ مَعَ إِبْلِيسَ لَعَنهُ الله، وإنما يَتَقَوَّى عَلَيْكَ الشَّيْطَانُ بِهَوَى النَّفْسِ وَشَهَواتِهَا، فَهِيَ سِلاحُه الذِي يَصِيدُ بِهِ وَهَلْ أَوْقَعَ إِبْلِيسَ فِي كَبْرِهِ وَمَعْصِيَتِهِ إلا نَفْسُهُ، قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلا وَتَقَدَّسَ: ﴿ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ ﴾ [يوسف: 53].

Ketahuilah, hai manusia! Hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan merupakan musuhmu selain Iblis –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya. Setan itu mendapat sokongan kekuatan dari hawa nafsu dan syahwat untuk menjerumuskanmu, sehingga itu merupakan senjata yang ia pakai untuk menjerat.

Dan bukankah Iblis itu terjerumus dalam kesombongan dan keangkuhannya karena hawa nafsunya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ 

“sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53).

فلا تَغُرَنَّكَ نَفْسُكَ بالأَمَانِي والغُرُورِ لأنَّ مِنْ طَبْعِ النَّفْسِ الأَمْنُ والغَفْلَة والرَّاحَةُ والفَتْرةُ والكَسَلُ والعَجْزُ فَدَعْواهَا بَاطِلٌ وَكُلُ شَيْءٍ مِنْهَا غُرورٌ وَإِنْ رَضِيتَ عنها واتَّبَعْتَ أَمْرَهَا هَلَكْتَ، وَإِنْ غَفَلْتَ عَنْ مُحَاسَبَتِها غِرَقْتَ، وإنْ عَجَزْتَ عن مُخَالَفَتِهَا واتَّبعتَ هَواهَا قَادَتْكَ إلى النَّارِ.

Oleh sebab itu, janganlah hawa nafsumu menghembuskan angan-angan dan tipu dayanya, karena sudah menjadi tabiat hawa nafsu selalu merasa aman, lalai, bersantai-santai, malas, dan tidak produktif.

Ajakannya itu sesat, dan segala hal yang berawal darinya adalah tipu daya. Apabila kamu rela dan mengikuti ajakannya, binasalah dirimu. Jika kamu lalai dalam memperhitungkannya, terjerumuslah kamu. Dan jika kamu enggan menyelisihinya dan justru menurutinya, ia pasti menggiringmu ke neraka.

Sumber:

محاسبة النفس

Sumber artikel PDF

🔍 Doa Mau Keluar Rumah, Shallallahu Alaihi Wa Sallam Artinya, Doa Witir Setelah Sholat Tahajud, Doa Nubuat, Hewan Pertama Di Bumi

Visited 57 times, 13 visit(s) today


Post Views: 13

QRIS donasi Yufid

News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door