Mengenal Kitab Tafsir Kasyf Wa Al-Bayān Karya Al-Tha‘labī
7 mins read

Mengenal Kitab Tafsir Kasyf Wa Al-Bayān Karya Al-Tha‘labī


Mengenal Kitab Tafsir Kasyf wa al-Bayān Karya Al-Tha‘labī

Di antara lautan karya tafsir klasik, Tafsir Kasyf wa al-Bayān karya al-Tha‘labī menempati ruang yang unik karena memadukan sejarah, hikmah, moralitas, hingga kisah-kisah menakjubkan yang hidup di tengah tradisi Islam klasik. Banyak pembaca modern mengenal tafsir sebagai teks ilmiah yang kering dan penuh istilah teknis. Namun, karya al-Tha‘labī justru menampilkan wajah penafsiran yang cair, naratif, dan dekat dengan imajinasi manusia.

Pada akhirnya, mempelajari Tafsir Kasyf wa al-Bayān berisi bagaimana kisah menjadi cara memahami wahyu. Artikel ini mencoba membuka tabir di balik teknik naratif al-Tha‘labī: bagaimana ia memilih, menyusun, dan menghidupkan cerita untuk menarik hati pembaca. Dengan menelusuri pendekatan naratifnya, kita dapat melihat bahwa tafsir tidak selalu harus rigid; ia bisa menjadi seni bercerita yang memancarkan keindahan warisan intelektual Islam.

Kisah Al-Tha‘labī

Al-Tha‘labī (w. 427 H/1035 M) adalah seorang ulama asal Nishapur yang dikenal luas sebagai ahli tafsir, ahli hadis, sekaligus perawi kisah-kisah keagamaan. Ia hidup dalam lingkungan intelektual Khurasan

Keistimewaan al-Tha‘labī terletak pada kemampuannya merangkai riwayat menjadi narasi yang hidup dengan menata ulang kisah para nabi atau umat terdahulu, sehingga membentuk sebuah alur yang utuh, mudah diikuti, dan memikat.

Meski demikian, al-Tha‘labī sering dikritik karena kurang ketat dalam menyaring sanad riwayat. Sebagian kisah yang ia masukkan berasal dari jalur Israiliyyat atau tradisi cerita Yahudi–Nasrani yang sudah beredar luas di masyarakat muslim awal. Namun, bagi banyak ulama klasik, hal ini bukanlah kelemahan sepenuhnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam catatan biografi klasik, seperti karya al-Dhahabī dan Ibnu ‘Asākir, al-Tha‘labī digambarkan sebagai sosok yang berpegang teguh pada tradisi naqli. Ia lebih memilih menjelaskan ayat melalui hadis, atsar sahabat, kisah-kisah nabi, dan riwayat sejarah ketimbang melakukan analisis rasional spekulatif. Karena itu, tafsirnya penuh dengan narasi moral, hikmah, dan perumpamaan yang dirancang untuk membantu pembaca memahami nilai-nilai Qur’ani secara konkret.

Karya terbesarnya, Kasyf wa al-Bayān, adalah contoh paling jelas dari perpaduan antara dunia ilmiah dan dunia cerita. Dalam tafsir ini, al-Tha‘labī menjelaskan makna ayat dengan lapisan kisah yang memberi konteks historis, psikologis, dan spiritual. Ia menghadirkan cerita nabi, dialog antara manusia dan malaikat, kisah jin, perjalanan umat terdahulu, hingga kisah simbolik tentang pahala dan siksa. Semua ini tidak hanya dimaksudkan untuk memperluas pemahaman teologis, tetapi juga untuk menyentuh sisi imajinatif sekaligus moral pembaca. Dengan warisan yang demikian kaya, al-Tha‘labī sering dipandang sebagai “seniman kisah” dalam tradisi tafsir klasik.

Corak Kisah dalam Kasyf wa al-Bayān

Salah satu ciri paling mencolok dari Kasyf wa al-Bayān adalah melimpahnya kisah yang menyertai penafsiran ayat. Kisah-kisah tersebut berasal dari berbagai sumber: riwayat para sahabat dan tabi‘in, tradisi kisah para nabi (qiṣaṣ al-anbiyā’), cerita-cerita Israiliyyat, hingga folklore keagamaan yang berkembang di masyarakat Islam masa awal. Al-Tha‘labī menyusun kisah dengan cara yang mudah diikuti oleh pembaca dari latar belakang apa pun. Ia menempatkan riwayat-riwayat tersebut sebagai bagian integral dari penafsiran. Pendekatan ini membuat Kasyf wa al-Bayān berbeda dari tafsir fikih atau tafsir teologis yang lebih kaku.

Al-Tha‘labī dikenal memiliki kemampuan naratif yang kuat, sehingga banyak kisah dalam Kasyf wa al-Bayān terasa hidup dan mengalir. Ia kerap menggunakan dialog, deskripsi visual, serta alur dramatik untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Dengan teknik ini, kisah tidak sekadar menjadi pelengkap ayat, tetapi membangun suasana yang memudahkan pembaca menangkap makna spiritual di baliknya.

Bagi al-Tha‘labī, cerita merupakan salah satu alat paling efektif untuk menjelaskan ayat. Banyak kisah yang ia hadirkan berfungsi sebagai ilustrasi moral: memperjelas sifat-sifat manusia, menegaskan ganjaran dan peringatan, atau menghidupkan nilai-nilai etis Al-Qur’an. Selain itu, cerita digunakan untuk menjelaskan konteks ayat, baik melalui asbāb al-nuzūl maupun riwayat sejarah umat terdahulu.

Salah satu aspek yang sering dibicarakan terkait Kasyf wa al-Bayān adalah keberadaan riwayat-riwayat Israiliyyat. Dalam tradisi tafsir klasik, kisah-kisah seperti ini tidak selalu dipandang negatif; banyak di antaranya digunakan sebagai bahan pembelajaran atau sebagai pengisi detail yang tidak disebutkan Al-Quran.

Karena itu, penting memahami bahwa dalam konteks sejarahnya, fungsi kisah sering kali lebih besar daripada tuntutan verifikasi ilmiah. Yang menjadi inti bukan apakah kisah itu sepenuhnya akurat, tetapi bagaimana ia membantu menggambarkan pesan moral dan spiritual yang terkandung dalam ayat.

Bagi pembaca modern, kelebihan Kasyf wa al-Bayān terletak pada kemampuannya memadukan wahyu dengan pengalaman manusia. Kisah-kisahnya memberikan ruang bagi pembaca untuk melihat Al-Qur’an bukan hanya sebagai teks hukum, tetapi juga sebagai sumber inspirasi emosional, moral, dan estetik—sebuah aspek yang sering terlupakan dalam pembacaan literal.

Penutup

Tafsir Kasyf wa al-Bayān memperlihatkan bagaimana sebuah tafsir dapat menjadi lebih dari sekadar penjelasan teks; ia dapat menjadi seni bercerita yang kaya makna. Al-Tha‘labī menunjukkan bahwa kisah bukan hanya alat retoris, melainkan sarana mendidik, menginspirasi, dan menghidupkan ayat-ayat Al-Qur’an bagi berbagai jenis pembaca. Pendekatan naratifnya mengajarkan bahwa pemahaman keagamaan tidak selalu harus disampaikan dalam format akademis yang kaku. Kadang, sebuah cerita sederhana justru meninggalkan jejak yang lebih mendalam.

Daftar Pustaka

Abdillah, Amiril Adawy, dan Zaky Muhammad Aqil. “Implikasi Al-Dakhil dalam Tafsir: Telaah Kisah Nabi Ayub dalam Al-Kasyf wa al-Bayān Tafsir al-Qur’an.” Canonia Religia: Jurnal Studi Teks Agama dan Sosial 2, no. 1 (2004): 74.

Fudhail, Ahmad. “Penyimpangan Penafsiran dalam Tafsīr Al-Tha’labī dan Al-Kashshāf Menurut Muḥammad Ḥusayn Al-Dhahabī.” Refleksi 19, no. 1 (April 2020): 33.

Hibatullah, Alif. “Telaah Kitab Al-Kasyf wa al-Bayān ‘An Tafsir Al-Qur’an Karya Imam al-Tha‘labī.” Hamalatul Qur’an: Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Qur’an 4 (2023): 128.

Abdullah, Ahmad Fariza. “Menalar Identitas Hārūt dan Mārūt: Studi Analisis Penafsiran al-Thaʿlabī dalam al-Kashf wa al-Bayān.” Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2025.

Amrulloh, Tri Febriandi. “Analysis of Al-IbrÄ«z Tafsir as Genotext in Al-MaḥallÄ«’s Tafsir: An Intertextuality Study on QS. Al-Fātiḥah.” QOF: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir 7, no. 1 (2023): 37.

Badrudin, Ujang. “Isrāiliyyāt dalam Tafsir al-Kasyf wa al-Bayān karya al-Tha‘labi.” Skripsi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, t.t.

Hamzah, Nur Asia. “Kedudukan Israiliyat Sebagai Salah Satu Sumber Tafsir.” Al-Urwatul Wutsqa 1, no. 1 (2021).

 


Penulis: Qoriatun Nafiah

Editor: Sutan


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film

Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.