Tuntunan Mencari Harta Dunia dalam Lagu Dolanan âCublak-cublak Suwengâ Sunan Giri
Islam tidak pernah melarang manusia untuk memiliki harta dalam bentuk apa pun, sebab keinginan untuk memiliki harta merupakan fitrah manusia. Hal ini juga disebut dalam Al-Qurâan Surat Ali âImran ayat 14 yaitu, âDijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baikâ. Bahkan, dalam ajaran Islam manusia diwajibkan untuk bekerja, agar mendapatkan harta atau rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia.
Namun banyak terjadi kekeliruan bagi sebagian orang dalam memandang harta. Ada yang bersikap berlebihan mencari harta hingga menjadi budak harta. Dan ada pula yang beranggapan bahwa harta akan datang sendiri tanpa harus bekerja, sebab semua sudah ada jaminan rejeki tanpa harus bersusah payah mendapatkannya.
Menurut Islam, dalam mencari harta ada batasan-batasan tertentu yang harus diperhatikan, sebab harta bukanlah segala-galanya dan bukan tujuan utama dalam hidup ini. Meskipun kita dianjurkan untuk mencari harta, namun jangan sampai harta menjerumuskan kita dalam kesesatan, âDan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaanâ (Q.S. Al-Baqarah: 195).
Salah satu tokoh Wali Songo yaitu Syekh Maulana Ainul Yakin atau yang lebih dikenal dengan Sunan Giri, sekitar tahun 1442 M, menciptakan tembang atau lagu âCublak-cublak Suwengâ yang berbicara tentang bagaimana seharusnya manusia mencari harta di muka bumi. Lagu yang dulunya dijadikan sebagai metode dalam berdakwah Sunan Giri ini, kini menjadi sangat populer sebagai lagu pengiring permainan tradisional (tembang dolanan) anak-anak.
Meski terkesan sederhana, lirik lagu dolanan Cublak-cublak Suweng sesungguhnya memiliki filosofi dan makna kehidupan yang mendalam, khususnya tentang tuntunan mencari harta yang tersebar luas di muka bumi. Berikut adalah ulasan tentang bagaimana kedudukan harta, serta cara memperoleh harta yang baik dan benar seperti yang terdapat dalam lagu dolanan âCublak-cublak Suwengâ.

Mencari Harta dengan Tidak Menuruti Hawa Nafsu
Pada bagian awal lirik lagu âCublak-cublak Suwengâ, Sunan Giri menggambarkan keberadaan harta kekayaan yang diburu oleh setiap orang sebenarnya ada di mana-mana, dan bahkan dalam jumlah yang tidak terbatas, âcublak-cublak suweng, suwenge ting gelenterâ. Suweng yang berarti anting, merupakan simbol dari harta yang dicari manusia.
Oleh karena itu, Tuhan tidak melarang kita untuk mencari dan memiliki harta kekayaan sebagai penopang hidup di dunia. Namun hendaknya kita menyikapinya dengan cara yang tepat. Kita tidak bisa seenaknya menumpuk harta yang jumlahnya tidak terbatas di muka bumi ini. Ada batasnya. Namun batas inilah yang kadang-kadang hilang.
Apa yang kita saksikan saat ini adalah harta bukan lagi menjadi sarana, tetapi sudah menjadi tujuan hidup. Dan ketika harta sudah menjadi tujuan hidup, maka saat itu juga manusia jatuh di dalam genggaman nafsunya. Terlebih adanya worldview masyarakat yang menganggap harta sebagai barometer kesuksesan seseorang, membuat semakin banyak orang berlomba-lomba untuk mengupgrade nilai diri dengan cara menumpuk harta atau uang. Mereka pun diperbudak harta dan menjadi gelap mata.
Akibatnya terjadilah aksi penipuan, terlibat kasus perjudian, pesugihan, riba, pungli hingga korupsi demi meraup uang sebanyak-banyaknya. Mirisnya lagi, korupsi yang dulu dilakukan sembunyi-sembunyi, kini sudah dilakukan secara sistematis dan terang-terangan. Menggurita di hampir semua sendi kehidupan bernegara. Imbauan moral, bahkan dengan menyertakan wacana agama dan Tuhan sekalipun, tidak bisa mengubah perilaku para koruptor menjadi jujur dan baik kembali.
Tampilan orang-orang yang mencari harta dengan keserakahan dan penuh nafsu ini dalam lirik lagu âCublak-cublak Suwengâ diibaratkan sebagai âmambu kethundung gudelâ yang bermakna berbau anak kerbau yang terlepas. Gudel atau anak kerbau dalam hal ini memiliki image orang bodoh. Entah karena sudah menjadi generalisasi dari leluhur kita dahulu, bahwasanya orang bodoh itu sering diidentikkan dengan kerbau. Konon banyak orang tua yang berkali-kali menasehati anaknya jika malas belajar dengan kalimat âjangan bodoh seperti kerbauâ. Dalam budaya Jawa pun kita pernah mendengar unen-unen yang berbunyi âbodho longa-longo kaya keboâ yang berarti orang bodoh diibaratkan seperti kerbau yang hanya melongo.
Entah dari mana asalnya, persepsi kerbau yang dianggap bodoh mungkin juga didasari atas perilaku kerbau yang terbilang penurut dan lamban, mau melakukan apa saja yang diperintahkan tuannya tanpa membantah atau melawan. Akibatnya ia mudah ditipu atau dikelabui. Seumpama dalam mencari pakan, rumput kering yang kita berikan saja dipersangkakan kerbau sebagai rumput hijau. Hingga setiapkali musim kemarau, kerbau memamah jerami dan ilalang kering, tanpa pernah berusaha mencari cara untuk mengenal sumber pakannya yaitu rumput segar yang sejatinya berwarna hijau.
Oleh karena itu, orang yang kerap menjadi budak syahwat dan nafsunya dalam lirik lagu âCublak-cublak Suwengâ samalah kiranya seperti gudel (orang bodoh). Rasulullah Saw juga pernah bersabda, âOrang bodoh (dungu) adalah yang mengikuti hawa nafsunyaâ (Hadist diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, nomor 2459).
Dengan sifat serakah dan tunduk pada hawa nafsu yang menyesatkannya, orang bodoh tersebut seakan selalu tampak merasa bingung dan gelisah. Hal ini terlihat dalam lirik lagu âCublak-cublak Suwengâ berikutnya yaitu âPak empo lirak lirikâ dimana digambarkan orang tua ompong yang kebingungan dan gelisah karena dikuasai oleh keserakahannya sendiri.
Sifat tamak dan kurangnya rasa syukur sejatinya membuat batin seseorang tidak tenang. Ia hanya akan terjebak dalam rasa tidak pernah cukup, tidak puas, cemas, ingin selalu memperoleh harta, kekuasaan, atau kenikmatan duniawi tanpa mengenal batas. Akibatnya, harta yang mestinya jembatan untuk menghantar dia kepada akhirat malah menjadi jembatan untuk dia melakukan dosa. Dan mereka inilah golongan orang-orang yang sesat atau tertipu, âMaka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya.” (Q.S. Al-Jatsiyah Ayat 23).
Meraih Kekayaan Hakiki
Orang yang berhasil ditundukkan oleh hawa nafsunya, sesungguhnya hidupnya telah jauh dari kebahagiaan hakiki. Mungkin mereka tertawa di bibirnya karena masih punya harta dan segalanya, tetapi sebenarnya hati mereka suram.
Sebaliknya kekayaan hakiki adalah kekayaan jiwa, yaitu saat seorang hamba mampu menekan hawa nafsunya, mensyukuri apa yang diperolehnya, tidak tamak dalam mencari harta. Bukankah Rasulullah Saw pernah berpesan kepada kita semua bahwa orang kaya sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak harta, tetapi mereka yang memiliki kekayaan jiwa dengan merasa cukup dan mensyukuri apa yang ia miliki. Dalam salah satu haditsnya, Nabi bersabda, âBukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.â (H.R. Bukhari dan Muslim).
Lirik âsopo ngguyu ndhelikakeâ dalam tembang âCublak-cublak Suwengâ memiliki makna bahwa orang yang bijaksana adalah orang-orang yang tidak terbuai oleh hawa nafsu duniawi sehingga ia dapat menemukan ketenangan dan kebahagian abadi. Dan untuk menghindari kecintaan kepada duniawi dan melatih kepekaan jiwa, seseorang harus mengasah kecerdasan dan hati nuraninya (sir) seperti dalam penggalan lirik terakhir yang berbunyi âsir sir pong dele kopongâ (hati nurani yang kosong). Hal ini sejalan dengan Suseno (1991:138) bahwa kriterium keberhasilan pada akhirnya adalah suatu keadaan psikologis, yaitu keadaan slamet atau ketenteraman batin yang tenang.
Baca Juga: Lirik, Terjemah, dan Makna Syair Lir Ilir
Penulis: Dewi Ayu Larasati
Editor: Sutan
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.