Jejak Jawa dalam Al-Qur’an Tertua di Bogor
8 mins read

Jejak Jawa dalam Al-Qur’an Tertua di Bogor


Fasad depan Masjid Al-Mustofa. (Astari Syahputri Anaf, 2023).

Hanya beberapa langkah dari Gang Al-Mustofa di Kampung Bantarjati Kaum, berdiri kokoh Masjid Al-Mustofa yang merupakan masjid tertua di Kota Bogor. Berdasarkan informasi dari plang yang terpasang di depan, masjid ini berdiri sekitar tahun 1728. Pendiri masjid ini adalah Tubagus Mustofa Bakri dan Raden Dita Manggala. Mengutip artikel unggahan Liputan6.com (2017), Tubagus Mustofa Bakri adalah ulama dari Banten yang masih keturunan dari Sunan Gunung Jati, sedangkan Raden Dita Manggala merupakan keturunan dari Kesultanan Cirebon.

Daya tarik masjid ini tidak hanya statusnya sebagai masjid tertua di Kota Bogor. Di dalamnya, kita juga dapat menjumpai satu-satunya Al-Qur’an kuno di Bogor yang diketahui sampai saat ini. Kini, Al-Qur’an kuno tersebut disimpan di dalam sebuah etalase kaca. Kondisinya telah lapuk dengan tanda-tanda kerusakan akibat air, seperti noda air, tulisan yang luntur, kertas bergelombang, lapisan kertas terkelupas, dan adanya jamur.

 

Al-Qur’an kuno di dalam Masjid Al-Mustofa. (Astari Syahputri Anaf, 2023).

Al-Qur’an Kuno dari Kertas Eropa

Al-Qur’an kuno ini berukuran panjang 30 cm, lebar 20 cm, dan tebal 7 cm. Sampul Al-Qur’an kuno ini berwarna hitam yang diduga terbuat dari kulit sapi. Uniknya, bagian dalam sampul kulit ini dilapisi dengan bekas naskah lain yang beraksara Arab supaya sampulnya lebih kaku. Al-Qur’an kuno ini terdiri dari 269 halaman dengan 15 baris ayat per halamannya. Ayat-ayat di dalamnya dituliskan dengan tinta berwarna hitam dan merah. Sayangnya, isi Al-Qur’an ini tidak lengkap karena tidak ada Surah Al-Fatihah dan halaman terakhirnya hanya sampai kepala Surah Al-Qariah. Kemungkinan halaman-halaman lainnya pun hilang. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa yang umum digunakan untuk menyalin Al-Qur’an kuno di Nusantara.

Menariknya, saat kertas Al-Qur’an ini diterawang, terlihat cap kertas dan cap tandingannya. Dalam Kajian Kondisi Fisik dan Seluk-Beluk Pernaskahan (2012), Eva Syarifah Wardah menjelaskan bahwa cap kertas adalah merek dagang yang menunjukkan logo pabrik tempat kertas Eropa diproduksi, sedangkan cap tandingan adalah cap yang biasanya terletak di halaman sebelah cap kertas. Cap kertas yang muncul pada Al-Qur’an kuno ini adalah Pro Patria. Cap kertas tersebut berpasangan dengan tiga cap tandingan pada halaman yang berbeda, yaitu Van der Ley, W W&H Pannekoek, dan GB Berrends.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Diduga Disalin di Jawa

Siapa penyalin Al-Qur’an kuno ini belum dapat dipastikan karena tidak ada kolofon (catatan penulis) di dalamnya. Beberapa Al-Qur’an kuno memiliki kolofon pada halaman terakhirnya yang memuat informasi tentang penyalin, waktu, dan tempat penyalinan Al-Qur’an. Tokoh masyarakat setempat memperkirakan penyalin Al-Qur’an kuno ini adalah Tubagus Mustofa Bakri atau putra sulungnya, Hasan Arya.

Pada tanggal 14 November 2023, saya bersama Ali Akbar, peneliti Al-Qur’an kuno Nusantara, mengamati Al-Qur’an kuno ini di Masjid Al-Mustofa. Menurut Ali Akbar, Al-Qur’an kuno ini diperkirakan disalin di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dugaan tersebut dilihat dari ornamen-ornamennya yang berciri khas penyalinan Jawa. Beberapa karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Hiasan iluminasi khas Jawa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata iluminasi memiliki arti penerangan. Namun, dalam tradisi penyalinan Al-Qur’an, iluminasi adalah ragam hias yang membingkai halaman Al-Qur’an. Menurut Fadhal A. R. Bafadal dan Rosehan Anwar dalam Mushaf-Mushaf Kuno Indonesia (2005), bagian Al-Qur’an yang lazim diberi iluminasi adalah halaman awal, tengah, dan akhir.

Dalam tradisi penyalinan Al-Qur’an kuno, daerah-daerah di Indonesia memiliki ciri khas iluminasinya. Annabel Teh Gallop dalam artikel The Art of the Qur’an in Java (2012), menyebutkan bahwa iluminasi khas Jawa memiliki bentuk persegi yang membingkai ayat-ayat dengan segitiga-segitiga di luar bingkai tersebut. Jejak iluminasi ini tampak pada Al-Qur’an kuno koleksi Masjid Al-Mustofa. Walaupun halaman depan Al-Qur’an kuno ini sudah rusak, tetapi Ali Akbar masih dapat mengenali corak iluminasinya dari bagian-bagian kertas yang masih tersisa.

  1. Ta’ marbutah yang berpilin-pilin pada kepala surah

Ciri khas ini juga disebutkan oleh Annabel Teh Gallop di dalam artikelnya. Dalam penyalinan Al-Qur’an kuno khas Jawa, biasanya ta’ marbutah pada kepala surah dituliskan secara berlebihan, yaitu berpilin-pilin.

Kepala Surah Al-An’am yang bertinta merah dengan ta’ marbutah berpilin khas Jawa. (Astari Syahputri Anaf, 2023).
  1. Huruf ain di tengah yang khas

Ciri khas ini dijelaskan oleh Ali Akbar ketika saya mewawancarai beliau pada tanggal 14 November 2023. Pada huruf ain khas Jawa, bentuk ain lebih besar daripada ain umumnya yang pipih. Cara penulisan ain keduanya pun berbeda. Pada ain khas Jawa, lengkungan dari bawah ditarik ke atas membentuk kepala huruf ain, lalu lengkungannya ditarik ke bawah dan dibuat berdempetan dengan lengkungan di sebelahnya, sedangkan huruf ain pada umumnya garisnya dibentuk bersilangan untuk membentuk huruf ain yang pipih.

 

Huruf ain di tengah khas Jawa pada Al-Qur’an kuno koleksi Masjid Al-Mustofa. (Astari Syahputri Anaf, 2023).

Bagaimana Bisa Sampai ke Bogor?

Tidak mengherankan jika Al-Qur’an kuno dari Jawa bisa sampai ke tanah Sunda. Kedua wilayah ini mudah ditempuh melalui jalur darat dan sejak dahulu pun sudah terjalin hubungan keilmuan Islam. Diperlukan pembuktian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana Al-Qur’an kuno ini bisa sampai ke Sunda. Namun, kita dapat membandingkannya dengan catatan sejarah untuk mengetahui pergerakan Al-Qur’an pada zaman dahulu.    

Dalam artikel Manuskrip Terjemahan Al-Qur’an Candi Cangkuang, Garut (2021), Jonni Syatri menyebutkan bahwa Al-Qur’an tersebut memuat terjemahan dalam bahasa Jawa dialek Muria dengan aksara Pegon. Al-Qur’an tersebut disalin oleh seorang ulama yang bernama Arif Muhammad, kemudian ia membawanya ke Garut, Jawa Barat.

Selain itu, dalam makalah Sundanization of Al-Qur’an (2011), Dadan Rusmana menyebutkan bahwa umat Muslim-Sunda pada zaman dahulu mempelajari Al-Qur’an melalui tafsir berbahasa Jawa. Baru pada abad ke-20, H. Hasan Mustapa mengagas penyusunan tafsir Al-Qur’an ke dalam bahasa Sunda. Maka, kemungkinan para ulama zaman dahulu belajar Islam di Jawa, kemudian mendakwahkannya ke tanah Sunda.

Dari kisah sejarah tersebut, kita dapat mengetahui bagaimana Al-Qur’an dari Jawa bisa berada di tanah Sunda. Beberapa di antaranya karena mobilitas ulama, pendidikan, dan lain-lain. Oleh karena itu, keberadaan Al-Qur’an kuno koleksi Masjid Al-Mustofa adalah warisan berharga dari leluhur kita. Terlebih lagi, Al-Qur’an kuno ini satu-satunya yang ada di Bogor. Pelestariannya menjadi perhatian yang penting untuk kita semua. Kita sebagai pengunjung masjid dapat melakukannya dengan cara menghindari kontak fisik dengan Al-Qur’an ini karena kondisinya sudah rapuh. Lalu, menjaga area masjid supaya tetap bersih dan kering sehingga menciptakan lingkungan yang optimal untuk keawetan Al-Qur’an ini. Upaya ini tentu memerlukan kesadaran dan kerja sama dari berbagai lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan.

Baca Juga: Tarikhul Auliya`Kiai Bisri Musthofa, Sejarah Wali Tanah Jawa


Penulis: Astari Syahputri Anaf

Editor: Sutan


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch