Setan Si Pemberi Nasihat – KonsultasiSyariah.com
10 mins read

Setan Si Pemberi Nasihat – KonsultasiSyariah.com

Oleh:

Dr. Basyuni Nahila

Mungkin ada sebagian orang yang heran terhadap setan yang menjadi pemberi nasihat, karena asal kata nasihat mengandung makna-makna ketulusan, kesucian, kejujuran, dan kebaikan. Dan ini menyelisihi tabiat setan dalam kelicikan, permainan, penipuan, dan godaannya. Dari sinilah urgensi artikel ini dalam menyingkap tipu daya setan dan bala tentaranya dalam menipu manusia dan menggiring mereka agar terjerumus ke dalam hal-hal terlarang dan membinasakan, melalui cara menyamar dalam peran-peran licik, menggunakan identitas-identitas palsu, dan menghiasi diri dengan ciri-ciri yang menipu.

Kita dapat mencari tahu peran tercela setan ini melalui apa yang tertulis dalam Al-Qur’an Al-Karim tentang aksi pertama setan dalam menggoda bapak manusia, Adam Alaihissalam. Setelah setan mengancam Nabi Adam dan keturunannya dengan godaan dan penyesatan, ia menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para pemberi nasihat, demi menjerumuskan Nabi Adam dan istrinya dari kubangan kemaksiatan dan keburukan dosa-dosa. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21).

Inilah momen pertama penggunaan kata nasihat dan turunannya dalam mengawali ucapan atau sebagai penutup dialog, dan ini tidak selalu menjadi tanda kebaikan, ketulusan, dan kebaikan batin, karena pemberi nasihat, rekam jejaknya, isi nasihat dan konteksnya, serta sebab dan tujuannya itulah yang menjadi tolok ukur apakah nasihat itu tulus dan suci, atau justru bersifat setan yang penuh kepura-puraan.

Karena berbahayanya nasihat jenis kedua ini dalam mengaburkan kebenaran dan menyesatkan khalayak umum —terlebih lagi di kehidupan zaman modern yang mengalami perkembangan luar biasa dalam media-media sosial dan jenis-jenis media model lama dan baru yang banyak orang berusaha mencapai akal dan hati manusia, terkadang dengan tujuan mengelabuhi dan menghiasi yang buruk dan terkadang untuk mengaburkan dan memalsukan yang baik— maka hadirlah artikel ini untuk meletakkan beberapa kaidah yang dapat membantu membedakan nasihat setan dan mengenali pengaruhnya, bahkan ketika nasihat itu berasal dari manusia, alat, organisasi, komunitas, atau pertemanan.

Ucapan yang paling sesuai dalam mencirikan setan yang memberi nasihat juga bala tentaranya adalah apa yang ditulis oleh Ahmad Syauqi dalam menyifati rubah yang suatu hari muncul dengan kostum pemberi nasihat, berpura-pura dengan segala tipu daya dan muslihat hingga mampu mewujudkan tujuan keji dan berhasil mendapat mangsa gemuknya. Di antara yang dikatakan Ahmad Syauqi adalah:

بَرَزَ الثَّعْلَبُ يَوْمًا فِي شِعَارِ الْوَاعِظِينَ

Suatu hari seekor rubah muncul. Dengan tampilan pakaian para pemberi nasihat.

فَمَشَى فِي الْأَرْضِ يَهْذِي وَيَسُبُّ الْمَاكِرِينَ

Ia berjalan di muka bumi sambil mengigau. Dan mencela orang-orang yang menipu.

وَيَقُولُ الْحَمْدُ لِلْـ هِ إِلَهِ الْعَالَمِينَ

Ia berkata: “Segala puji hanya bagi Allah. Tuhan semesta alam.

يَا عِبَادَ اللَّهِ تُوبُوا فَهُوَ كَهْفُ التَّائِبِينَ

Wahai para hamba Allah, bertaubatlah. Karena Dialah tempat berlindung orang-orang yang bertaubat.

Ini juga yang dilakukan oleh Iblis ketika suatu hari muncul dengan tampilan pemberi nasihat dengan tujuan mengelabuhi Adam dan mengeluarkannya dari surga, agar ia menjadi pelaku maksiat dengan berbuat kemaksiatan terbesar dan pertama sepanjang sejarah. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21).

Contoh lainnya juga: godaan yang dimasukkan setan ke dalam hati saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka menyusun tipu daya mereka dan bertekad untuk membuang saudara mereka, Yusuf ke dalam sumur akibat rasa dengki dari diri mereka. Demi mencapai apa yang mereka inginkan dan mencapai apa yang mereka cita-citakan, mereka menampakkan diri sebagai pemberi nasihat dan mengaku sebagai penjaga yang tulus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ

“Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?’” (QS. Yusuf: 11).

Dan yang mengherankan dari dua kisah ini adalah tipu daya setan sebagai pemberi nasihat Adam dan istrinya ini berhasil dan mencapai tujuannya, juga muslihat saudara-saudara Yusuf terhadap Nabi Ya’qub dan Yusuf dapat terlaksana dan mencapai targetnya, meskipun mereka sebagai Nabi-Nabi yang mulia, karena kata ‘penasihat’ dan metode nasihat tidak punya makna lain di dalam kamus para Nabi dan orang-orang saleh selain kehendak kebaikan yang tulus ikhlas, tapi pada hakikatnya terkadang menjadi racun mematikan, keburukan yang mengintai, dan kehancuran yang besar.

Nasihat-nasihat setan dan bala tentaranya selalu memiliki ciri khas yang terkadang dapat dikenali dari ucapan manis, dan terkadang melalui silat lidah. Berikut ini kami sebutkan beberapa ciri khas tersebut, agar orang-orang yang punya niat baik dari golongan orang-orang yang baik, tulus, dan jujur selalu waspada dari jeratan muslihatnya dalam berbagai bentuk dan istilahnya:

1. Kedustaan yang terencana

Setan pemberi nasihat dan bala tentaranya menyadari sepenuhnya hakikat keburukan dalam diri mereka, sehingga mereka berusaha membersihkan situasi di sekeliling mereka dari racun mereka. Itu mereka lakukan dengan cara mengulang-ulang penggunaan kata penegas yang berlapis, seperti dengan sumpah, dan huruf Nun dan Lam taukid (huruf yang digunakan sebagai penegas dalam bahasa Arab), seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua.’” (QS. Al-A‘raf: 21). Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan saudara-saudara Yusuf: 

وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ

“Padahal sungguh kami benar-benar adalah orang-orang yang memberi nasihat kepadanya?” (QS. Yusuf: 11).

2. Membangun nasihatnya dengan kata-kata yang menyilaukan

Juga dengan istilah-istilah yang menggiurkan, janji-janji yang melenakan, dan tawaran-tawaran yang menggoda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ

“Maka ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf: 22).

Demikian juga dengan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mengemukakan nasihat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka:

أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Kirimlah dia (Yusuf) bersama kami besok agar ia bersenang-senang dan bermain, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (QS. Yusuf: 12).

3. Tipu daya terencana dan bujukan yang tersusun rapi

Nasihat setan dan bala tentaranya tidak mengandung spontanitas dan keluguan, karena mereka menyampaikan nasihat dengan langkah-langkah yang terencana dan peran-peran yang telah tersusun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ

“Dan engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka merencanakan tipu daya mereka, sedangkan mereka sedang bersekongkol.” (QS. Yusuf: 102).

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Shad: 82).

Ini merupakan makar yang telah disusun siang dan malam, dan direncanakan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia.

4. Mereka tidak dikenal sebagai pemberi nasihat kecuali melalui klaim mereka

Dan mereka dikenal demikian oleh orang-orang yang lemah imannya, dan dangkal ilmu serta pengalamannya. Sedangkan bagi orang-orang beriman yang tulus keimanannya dan orang-orang yang punya pemahaman yang lurus, maka setan dan bala tentaranya hanyalah tukang tipu daya dan musuh yang hakiki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ

“Maka Kami berfirman: ‘Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, sehingga engkau menjadi sengsara.’” (QS. Thaha: 117).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang penyifatan Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya ketika berjumpa dengan mereka:

قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ

“Ia (Yusuf) berkata: ‘Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian katakan.’” (QS. Yusuf: 77).

5. Terungkapnya hakikat mereka, hancurnya reputasi mereka, dan lenyapnya pengaruh mereka

Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf yang pada awal cerita mereka menyatakan diri sebagai pemberi nasihat bagi Yusuf, tapi tidak berselang lama semua berubah, kisah ini tidak berakhir hingga mereka mengumumkan bahwa dulu mereka telah berbuat salah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ

“Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 91).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ

“Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS. Yusuf: 97). 

Demikian juga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Adam tentang hakikat nasihat setan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Dan Tuhan mereka menyeru keduanya: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan kepada kalian bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22).

Tujuan Al-Qur’an Al-Karim memaparkan beberapa contoh nasihat-nasihat setan untuk melindungi umat dari terjerumus menjadi mangsa dalam tipu daya dan rekayasa mereka, atau menjadi korban dari kalimat-kalimat kosong dan ungkapan-ungkapan tipuan yang mengintai orang-orang yang lemah hati, terombang-ambing dalam gelapnya kebodohan dan fitnah godaan, dan mabuk dalam kenikmatan dan syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi dari itu semua kecuali dengan kembalinya hati kepada penghayatan ayat-ayat ilahi, kesadaran akal dengan merenungi hikmah-hikmah Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29).

Sumber:

Sumber artikel PDF

🔍 Istri Durhaka Kepada Mertua, Tulisan Arab Allah Subhanahu Wa Ta Ala, Khutbah Idul Adha Singkat 2015, As Salaf, Kewajiban Setelah Nikah Siri

Visited 1 times, 1 visit(s) today


Post Views: 1

QRIS donasi Yufid

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch