Bulan Muharram: Asal Penamaan dan Keistimewaannya Menurut Ulama
7 mins read

Bulan Muharram: Asal Penamaan dan Keistimewaannya Menurut Ulama


Penulis: Muhammad Fatkhun Niam*

Setiap memasuki tahun baru Hijriah, umat Islam menyambut datangnya bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam. Bagi sebagian orang, Muharram mungkin hanya dipahami sebagai penanda pergantian tahun. Padahal, bulan ini memiliki kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam dan sejak dahulu mendapat perhatian besar dari para ulama. Para Ulama tidak hanya menjelaskan asal-usul penamaannya, tetapi juga menguraikan berbagai keutamaan yang menjadikan Muharram sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam syariat.

Baca Juga: Kemuliaan Bulan Muharram dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Hadis

Ibn al-Jauzi menjelaskan bahwa Muharram merupakan bulan yang memiliki kedudukan agung dan dinamakan al-Muharram karena peperangan di dalamnya diharamkan. Beliau berkata:

أَنَّ شَهْرَ الْمُحَرَّمِ شَهْرٌ شَرِيفُ الْقَدْرِ، وَإِنَّمَا سُمِّيَ الْمُحَرَّمَ لأَنَّ الْقِتَالَ كَانَ يَحْرُمُ فِيهِ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُفَسِّرِينَ فِي قَوْلِهِ تعالى: ﴿والفجر وليال عشر﴾ أَنَّهَا الْعَشْرُ الأَوَائِلُ مِنَ الْمُحَرَّمِ وَقَالَ قَتَادَةُ: أراد بالفجر الفجر أَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ.¹

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan Muharram tidak hanya berkaitan dengan larangan peperangan, tetapi juga dihubungkan oleh sebagian mufasir dengan firman Allah Swt. dalam surah al-Fajr. Bahkan Qatadah menafsirkan kata al-fajr sebagai fajar pada hari pertama bulan Muharram. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa penafsiran ini merupakan salah satu pendapat di kalangan mufasir, sedangkan mayoritas ulama tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan surat awal Al fajar adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang telah ditetapkan Allah sejak penciptaan langit dan bumi. Ketetapan tersebut ditegaskan Rasulullah dalam hadis:

حدَّثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ: حدَّثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عن أَيُّوبَ، عن مُحَمَّدٍ، عن ابْنِ أَبِي بَكْرَةَ: عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عن النَّبِيِّ ﷺ قالَ: «إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، منها أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.

Diriwayatkan dari Abi Bakroh dari Rasulullah : Sesungguhnya zaman telah kembali berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (yang dimuliakan). Tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab  yang berada di antara dua Jumadil dan Sya’ban. (HR. Al-Bukhari).[1]

Baca Juga:10 Keutamaan Berpuasa di Bulan Muharram

Syaikh abd Al Muhsin Al- Abbad menjelaskan hadis tersebut:

الأشهر الحرم هي أربعة من أشهر السنة: ثلاثة متوالية وهي: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، وواحد منفرد في أثناء السنة وهو رجب …..وكان أهل الجاهلية يحرمون القتال فيها ويستعظمونه، وكانوا إذا أرادوا أن يقاتلوا في شهر حرام أخروا حرمة ذلك الشهر إلى غيره، فمثلًا: يستحلون القتال في شهر محرم ويحرمون صفر مكانه، وهذا الفعل كانوا يسمونه النسيء، يقول عز وجل: ﴿إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ﴾ [التوبة:٣٧] فكانوا يعظمون الأشهر الحرم، ولكنهم كان يحتالون فيها بتأخير حرمتها إلى غيرها، وقيل: إنه عند تغيرهم لها اختلطت عليهم  الشهور

 Syaikh Abd al-Muhsin al-‘Abbad menjelaskan bahwa empat bulan dalam setahun termasuk bulan haram yang dimuliakan. Tiga di antaranya berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, sedangkan satu bulan lainnya adalah Rajab yang terletak tersendiri di tengah tahun. Masyarakat Arab pada masa jahiliah sangat menghormati bulan-bulan haram dan tidak melakukan peperangan di dalamnya. Namun, ketika mereka ingin berperang, mereka mengubah aturan tersebut dengan memindahkan kehormatan bulan haram ke bulan lain. Misalnya, mereka membolehkan perang pada bulan Muharram lalu mengganti kedudukannya dengan bulan Shafar. Praktik yang dikenal sebagai an-Nasī’ (النسيء) ini kemudian dikecam oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

﴿إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ﴾ [التوبة: ٣٧]

“Sesungguhnya mengundur-undurkan (bulan haram) itu adalah suatu tambahan dalam kekafiranKarena itulah Nabi dalam Haji Wada’ menyatakan bahwa susunan waktu telah kembali seperti keadaan semula ketika Allah menciptakan langit dan bumi.

Dalam hadis riwayat Muslim juga disebutkan:

حَدَّثَنِي قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ. حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيِّ، عَنْ أبي هريرة  قال: قال رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ.[2]

Hadis ini menunjukkan puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan Muharram. Para ulama menganjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan ini.

Baca Juga: Sejarah Penanggalan Hijriyah dan Kemuliaan Muharram

Ibn Hubayrah menjelaskan hadis diatas:

«في هذا الحديث ما يدل على فضيلة شهر المحرم، من حيث إنه أول العام فيستقبله بالعبادة، فيرجى بذلك أن يكون مكفرا لباقي العام، كما ذكرنا في فضيلة الذكر في أول النهار

Menurut Ibnu hubayrah, hadis tersebut menunjukkan keutamaan Muharram sebagai awal tahun Hijriah. Seorang muslim dianjurkan menyambutnya dengan ibadah sehingga diharapkan menjadi sebab kebaikan bagi bulan-bulan berikutnya.[3]

Di antara keistimewaan Muharram adalah penyebutan bulan ini secara khusus oleh Nabi sebagai Syahrullah al-Muharram. Penyandaran nama Muharram kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan kedudukan istimewa yang dimiliki bulan ini. Menjelaskan hal tersebut, Ibn Rajab al-Hanbali berkata:

وقد سَمَّى النَّبيُّ – ﷺ – المُحَرَّمَ شهرَ اللهِ، وإضافتُهُ إلى اللهِ تَدُلُّ على شرفِهِ وفضلِهِ؛ فإنَّه تَعالى لا يُضيفُ إليهِ إلَّا خواصَّ مخلوقاتِهِ، كما نَسَبَ مُحَمَّدًا وإبْراهيمَ وإسْحاقَ ويَعْقوبَ وغيرَهُم مِن الأنبياءِ صلواتُ اللهِ وسلامُهُ عليهِم إلى عبوديَّتِهِ ونَسَبَ إليهِ بيتَهُ وناقتَهُ.[4]

Menurut Ibn Rajab, penyandaran Muharram kepada Allah merupakan tanda kemuliaan yang sangat tinggi. Sebab Allah hanya menyandarkan kepada diri-Nya perkara-perkara yang memiliki keistimewaan khusus. Karena itu, penyebutan “Syahrullah” menjadi salah satu dalil terkuat yang menunjukkan keagungan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Baca Juga: Amalan di Bulan Muharram, Termasuk Puasa Asyuro

Bahkan, sebagian ulama berpendapat bahwa Muharram merupakan bulan yang paling utama di antara empat bulan haram. Ibn Rajab al-Hanbali menukil pendapat al-Hasan al-Bashri yang menyatakan bahwa Muharram adalah bulan haram yang paling mulia. Beliau juga meriwayatkan perkataan al-Hasan:

وقدِ اخْتَلَفَ العلماءُ في أيِّ الأشهرِ الحرمِ أفضلُ: فقالَ الحَسَنُ وغيرُهُ: أفضلُها شهرُ اللهِ المحرَّمُ. ورَجَّحَهُ طائفةٌ مِن المتأخِّرينَ. ورَوى: وَهْبُ بنُ جَريرٍ، عن قُرَّةَ بن خالِدٍ، عن الحَسَنِ؛ قالَ: إنَّ الله افْتَتَحَ السَّنةَ بشهرٍ حرامٍ وخَتَمَها بشهرٍ حرامٍ، فليسَ شهرٌ في السَّنةِ بعدَ شهرِ رمضانَ أعظمَ عندَ اللهِ مِن المحرَّمِ، وكانَ يُسَمَّى شهرَ اللهِ الأصمَّ من شدَّةِ تحريمِهِ

Artinya:

Para ulama berbeda pendapat mengenai bulan haram yang paling utama. Al-Hasan al-Bashri dan beberapa ulama lainnya berpendapat bahwa yang paling utama adalah Bulan Allah, yaitu Muharram. Pendapat ini juga dipilih oleh sebagian ulama mutaakhkhirin. Al-Hasan berkata: ‘Allah membuka tahun dengan bulan haram dan menutupnya dengan bulan haram. Tidak ada bulan dalam setahun yang lebih agung di sisi Allah setelah Ramadan selain Muharram. Karena begitu kuat kehormatannya, Muharram dahulu disebut Syahrullah al-Aṣamm (Bulan Allah yang sangat dimuliakan).”

Keterangan ini menunjukkan bahwa Muharram memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Bahkan menurut sebagian ulama, setelah Ramadan tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Allah daripada Muharram. Oleh karena itu, bulan ini menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh sebagai pembuka tahun hijriyah.[5]

Selain hadis-hadis sahih tentang keutamaan puasa Muharram, terdapat pula riwayat yang menyebutkan besarnya pahala puasa pada bulan ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَزِينِ بْنِ جَامِعٍ الْمِصْرِيُّ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدِّلُ، حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ حَبِيبٍ، حَدَّثَنَا سَلَّامٌ الطَّوِيلُ، عَنْ حَمْزَةَ الزَّيَّاتِ، عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَانَ لَهُ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا.[6]

Baca Juga: Peristiwa Penting pada Bulan Muharram

Dengan demikian, Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun Hijriah. Ia adalah bulan yang dimuliakan Allah sejak penciptaan langit dan bumi, termasuk salah satu bulan haram yang dihormati, disebut sebagai “bulan Allah”, serta menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak puasa setelah Ramadan.

Oleh karena itu, datangnya Muharram hendaknya disambut dengan memperbanyak ibadah, muhasabah, zikir, puasa, dan amal-amal kebajikan sebagai bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah serta ikhtiar mengawali tahun dengan ketaatan.

 


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.


[1] Muḥammad ibn Ismā’īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī Damaskus: Dār Ibn Kathīr wa Dār al-Yamāmah, juz. 4, hlm. 1712)

[2] Abū al-Ḥusayn Muslim bin al-Ḥajjāj al-Qushayrī al-Naysābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, Maṭba’ah ‘Īsā al-Bābī al-Ḥalabī wa Syurakā’uh, al-Qāhirah (Kairo), juz 2, hlm. 821

[3] Yaḥyā bin (Hubayrah bin) Muḥammad bin Hubayrah al-Dhuhlī, al-Ifṣāḥ ‘an Ma’ānī al-Ṣiḥāḥ, Dār al-Waṭan

Juz 8, hlm. 217

[4] Ibn Rajab al-Ḥanbalī al-Dimashqī, Laṭā’if al-Ma’ārif fīmā li Mawāsim al-‘Ām min al-Waẓā’if, Dār Ibn Khuzaymah li al-Nashr wa al-Tawzī’ – al-Riyāḍ hlm 90

[5] Ibn Rajab al-Ḥanbalī al-Dimashqī, Laṭā’if al-Ma’ārif fīmā li Mawāsim al-‘Ām min al-Waẓā’if, Dār Ibn Khuzaymah li al-Nashr wa al-Tawzī’ – al-Riyāḍ hal 87

[6] Abū al-Qāsim al-Ṭabarānī, Al-Mu’jam al-Ṣaghīr (Beirut–Amman: al-Maktab al-Islāmī dan Dār ‘Ammār), juz 2, hlm. 1


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch