Kerancuan Filsafat Ilahiyyah (Ketuhanan) Perspektif Imam Ghazali
7 mins read

Kerancuan Filsafat Ilahiyyah (Ketuhanan) Perspektif Imam Ghazali


sumber gambar: istimewa

Imam al-Ghazali, yang digelari Hujjatul Islam, bukanlah sosok yang anti dengan logika. Justru, beliau adalah pendekar bahasa yang meruntuhkan dominasi filsafat Aristotelian yang dibawa oleh Ibnu Sina dan Al-Farabi pada masanya. Karya monumentalnya, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf), itu menjadi bukti betapa intensifnya beliau mendalami filsafat sebelum akhirnya membongkar kelemahan argumentasi para filsuf dalam ranah metafisika (Ilahiyyah).

Baca Juga: Tips Mencapai Derajat Puasa Istimewa Menurut Imam Ghazali

Mengapa Filsafat Dikritik? Dalam kitab Munqidh min al Dholal, Al-Ghazali menegaskan bahwa alasan ketertarikannya mengkritik filsafat bukan didasari kebencian, melainkan karena para filsuf dianggap telah melampaui batas akal dalam masalah ketuhanan. Beliau menulis:

ففيها أكثر أغاليطهم، فما قدروا على الوفاء بالبراهين على ما شرطوه في المنطق، ولذلك كثر الاختلاف بينهم فيه

“Di dalam ruang lingkup ilmu ini (Ilahiyyah) terjadi banyak kesalahan yang diperbuat oleh kebanyakan para filosof. Mereka tidak mampu menepati dalil-dalil yang telah mereka syaratkan dalam ilmu mantik, sehingga dengan demikian banyak terjadi berbagai macam perselisihan di kalangan mereka sendiri mengenai ilmu ini”

Al-Ghazali berargumen bahwa dalam berfikir ilmu mantiq (logika) dan matematika (Riyadhiyyah), dalil-dalil para filsuf memang kuat. Namun, ketika bicara tentang Tuhan, mereka hanya berpegang pada dugaan (zhan) yang dibungkus dengan istilah-istilah mengagumkan sehingga orang mengira bahwasanya perkataan mereka benar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Mengenal Kitab Tanwīr al-Ḥawālik: Syarah atas al-Muwaṭṭa’ Karya Imam Mālik

Dalam Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali mencatat 20 poin kerancuan berpikir para filsuf. Dari 20 poin tersebut, 17 di antaranya dianggap sebagai bid’ah, namun ada 3 poin utama yang menurut Al-Ghazali telah keluar dari koridor Islam dan wajib mengkafirkan mereka. Beliau merangkumnya dalam penutup kitab tersebut:

قلنا: تكفيرهم لا بد منه في ثلث مسائل إحديها مسألة قدم العالم وقولهم إن الجواهر كلها قديمة والثانية قولهم إن الله لا يحيط علما بالجزئيات الحادثة من الأشخاص والثالثة في إنكارهم بعث الأجساد وحشرها

“Mengkafirkan para filsuf adalah sikap yang harus saya ambil, menyangkut tiga persoalan: Pertama, masalah tidak ada permulaan (qidam) alam, di mana mereka mengatakan bahwa semua substansi (jauhar) adalah kekal. Kedua, mereka mengatakan Sesungguhnya Allah tidak mengetahui secara detail peristiwa-peristiwa kecil yang baru terjadi pada diri setiap individu. Ketiga, Pengingkaran mereka akan kebangkitan bangkitnya jasad (hari kebangkitan) dan pengumpulan semua makhluk (hari pengumpulan).”

  1. Keazalian Alam (Qadimul Alam)

Para filsuf berpendapat bahwa alam semesta ini tidak ada permulaan. Mereka berargumen bahwa jika Tuhan adalah sebab yang azali, maka akibatnya (alam) juga harus azali. Al-Ghazali menolak keras masalah ini, baginya pendapat ini merusak konsep Iradah (Kehendak) Tuhan. Jika alam itu azali, maka Tuhan menciptakan alam bukan karena kehendaknya, melainkan karena keharusan sifat (seperti cahaya yang keluar dari matahari secara otomatis). Al-Ghazali menegaskan bahwa alam diciptakan dari ketiadaan (al hudust) oleh kehendak Tuhan yang azali untuk memunculkan sesuatu pada waktu yang ditentukan.

  1. Tuhan Tidak Mengetahui Hal-Hal secara detail (al Juz’iyyah)

Kerancuan kedua yang sangat fatal adalah klaim mereka bahwa Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang bersifat universal (kulliyah), tidak mengetahui secara detail peristiwa kecil yang terjadi pada makhluk-Nya (juz’iyyah). Para filsuf berpendapat begini: Jika Tuhan mengetahui setiap detik perubahan di dunia (misalnya: sekarang si A duduk, sedetik kemudian dia berdiri), berarti pengetahuan Tuhan ikut bergerak mengikuti perubahan itu.

Baca Juga: Mengenal Kitab Tafsir Kasyf Wa Al-Bayān Karya Al-Tha‘labī

Menurut mereka, kalau pengetahuan Tuhan berubah-ubah dari “tahu si A duduk” menjadi “tahu si A berdiri,” maka Zat Tuhan pun ikut berubah. Karena Tuhan itu Maha Tetap dan Tidak Berubah, mereka berkesimpulan bahwa Tuhan hanya tahu hal-hal yang bersifat umum dan abadi saja, bukan rincian receh yang terus berganti. Statement itu dipatahkan oleh Al-Ghazali, ringkasnya, bayangkan Anda sudah tahu jadwal kereta api mulai dari pagi sampai malam. Saat kereta itu lewat pada pukul 10:00, apakah pengetahuan Anda berubah? Tentu tidak karena Anda hanya melihat apa yang memang sudah Anda ketahui sebelumnya. Dan berfikirlah saat sehelai daun itu jatuh, itu bukan berita baru bagi Tuhan, melainkan bagian dari desain besar yang sudah diketahui-Nya sejak azali. Maka dari itu kalau kita bilang Tuhan tidak tahu rincian kecil (seperti siapa yang sedang menangis atau sehelai daun yang jatuh), itu justru menghina kesempurnaan Tuhan. 

Masa Tuhan yang menciptakan segalanya malah gak tahu apa yang terjadi pada ciptaan-Nya sendiri? Mengatakan Tuhan tidak tahu itu sama saja dengan menganggap ada batas dalam ilmu-Nya, padahal Tuhan itu Maha Mengetahui Segalanya.

  1. Pengingkaran terhadap Kebangkitan Jasmani (Hashr al Ajsad)

Para filsuf percaya bahwa di akhirat kelak, yang dibangkitkan hanyalah ruh, sementara jasad akan hancur selamanya. Mereka menganggap deskripsi surga dan neraka dalam Al-Qur’an hanyalah metafora untuk memudahkan pemahaman orang awam tentang kenikmatan atau penderitaan spiritual. Al-Ghazali menegaskan bahwa Allah Maha Kuasa untuk mengembalikan jasad yang telah hancur. Menganggap kebangkitan hanya bersifat ruhani adalah bentuk pengingkaran terhadap teks-teks qath’i (pasti) dalam wahyu yang menjelaskan tentang kenikmatan di surga dan di neraka.

Kritik Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah bukan bertujuan untuk membunuh nalar, melainkan untuk memberikan “porsi” yang tepat bagi akal. Beliau ingin menunjukkan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan dalam menjangkau hakikat ketuhanan tanpa bimbingan wahyu.

Baca Juga: Menggali Warisan Kiai Hasyim Melalui Lomba Baca Kitab Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim

Bagi Al-Ghazali, para filsuf telah terjebak dalam kesombongan intelektual sehingga mereka mencoba mengukur Tuhan dengan logika manusia yang terbatas. Beliau menutup argumentasinya dengan menyadarkan bahwa kebenaran hakiki tentang Tuhan hanya ditemukan melalui kasyf (penyingkaran ruhani) dan kepatuhan pada wahyu, bukan sekadar permainan silogisme yang kering.

Melalui karyanya, Al-Ghazali berhasil menjaga akidah umat dari sinkretisme pemikiran Yunani yang tidak sejalan dengan prinsip tauhid, sekaligus memantapkan posisi teologi Islam (Kalam) sebagai disiplin ilmu yang mandiri dan kokoh.

Judul kitab/buku: Terjemah Kitab Terjemah Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat)
Judul terjemah: Terjemah Kerancuan Filsafat (Tahafut al-Falasifah)
Judul asal dalam teks Arab: تهافت الفلاسفة
Judul bahasa Inggris: The Incoherence of the Philosophers
Penulis/pengarang: Imam Al-Ghazali
Bidang studi: Tasawuf, filsafat
Penerjemah:Achmad Maimun



Penulis: M. Iklil Farido Amirudin, Mahasantri Ma’had Aly Darussalam Blokagung 

 


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch