Memahami Ketauhidan secara Bertahap | Tebuireng Online
7 mins read

Memahami Ketauhidan secara Bertahap | Tebuireng Online


ilustrasi tauhid

Ilmu tauhid yang kita fahami sampai dengan saat ini adalah hasil dari menghafal dari usia Taman Kanak-Kanak (TK), dengan nada/irama khas ke-NU-an, jika seseorang belum mempelajari lebih mendalam dan juga belum mempraktikkan (ilmu laku) maka yang terpikir adalah hafalan sifat-sifat Allah yang 50 termasuk mustahil-Nya (aqoid 50). Nah, untuk mendalami ilmu tauhid seseorang wajib berguru/mencari pembimbing rohani agar dalam memahami tidak terjadi bias,  

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari, dalam kitabnya yang berjudul Adab al ‘Alim wa al-Muta’alim, menyebutkan bahwa setiap murid hendaknya memulai pada pelajaran yang sifatnya fardlu ‘ain. Yaitu, belajar 3 jenis ilmu, yaitu: ilmu tauhid, ilmu fikih dan ilmu tasawuf, sebagaimana keterangan di bawah ini:

Pertama, murid harus mengetahui ilmu tauhid, ilmu yang membahas masalah ketuhanan. Sehingga, ia nanti akan berkeyakinan bahwa Allah SWT itu wujud, mempunyai sifat Qadim (Awal), yang akan selalu tetap ada sampai kapan pun dari awal diciptakannya manusia hingga kembali pulang menghadap Allah SWT, serta bersih dari sifat muhal (mustahil) dan mempunyai sifat sempurna (sempurnaning sempurno)

Seorang murid harus mengetahui sifat wajib Allah, bahwa Allah itu mempunyai sifat wajib dua puluh (20) sekaligus dapat membuktikan-Nya. Dalam hal ini, murid tahu yang Maha Tinggi itu mempunyai sifat  Kuasa (Qudrat), Berkehendak (Iradat), sifat Ilmu (Al-‘ilm), Hidup (Hayat), Mendengar (Sama’), Melihat (Bashar), dan Berbicara (Kalam). Pada perkembangannya, seandainya murid  bisa mengetahui/memahami dalil-dalil sifat wajib Allah lebih dari apa yang dijelaskan di dalam al-Quran atau sunnah, maka hal itu lebih sempurna seutuhnya.

Kedua, ilmu Fikih, ilmu untuk mengetahui dan mengantarkan ketaatan kepada Allah, seperti halnya cara-cara bersuci, sholat, dan puasa serta haji, atau yang disebut dalam rukun Islam. Apabila murid itu mempunyai harta melimpah, maka ia harus mempelajari ilmu yang berkaitan dengan harta tersebut. Ia tidak diperbolehkan mengamalkan suatu ilmu sebelum ia mengerti hukum-hukum Allah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketiga, ilmu tasawuf, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang berbagai keadaan, maqam, (tingkatan), akhlak, dan membahas kebimbangan dan tipu daya nafsu dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Menurut Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari, secara keseluruhan, hal-hal di atas telah dibahas oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayat al-Hidayah. Selain itu, juga Sayyid Abdullah bin Thahir dalam kitab Sullam at Taufiq.

Mempelajari lebih lanjut bahwa ilmu tauhid menurut beberapa ulama dibagi menjadi empat: ilmu syari’at, ilmu tariqah, ilmu hakekat, dan ilmu ma’rifat.

Ilmu Syari’at

Di zaman saat ini seorang muslim terkadang telah dipusingkan atau dikotak-kotakan dalam perbedaan antara syari’at, tarekat, hakikat, dan makrifat. Sebenarnya apa itu semua? Apakah itu sebuah kajian akademik ataukah sebuah dogma. Syari’at adalah ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), sebagaimna hadis:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ” (رواه البخاري ومسلم). 

Artinya: Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah), dan berpuasa Ramadhan”

Dari hadis di atas diketahui bahwa ilmu syariat mengajarkan hukum-hukum Allah yang menitikberatkan pada mengenal hukum-hukum Allah. Dalam kata lain rukun Islam tersebut masih pada tahapan ucapan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan (jasadiyah) sebatas pengamalan zahir belum menyentuh hati (qalbu), dengan begitu rukun Islam melahirkan dengan sebutan ilmu syari’at. 

Ilmu Tariqah

Tarekat (bahasa Arab: طرق, transliterasi: tariqah) berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme/ilmu tauhid adalah merupakan jalan (pengkajian) yang mengajak ke jalan illahiyah dengan cara suluk (taqarrub) yang biasanya dilakukan oleh salik/laku ati (bhs. Jawa). Jadi untuk ilmu tariqah, titik muaranya bersumber pada hati. Jika di rukun Islam melahirkan ilmu syari’at, maka pada rukun iman melahirkan ilmu tariqah.

Ilmu Hakikat  

Ilmu hakikat adalah pemahaman batiniah (keimanan) terdalam mengenai kebenaran sejati (al-Haqq) tentang Tuhan, alam, dan diri, yang dicapai melalui pengalaman spiritual (dzauq) roso (bhs. Jawa), bukan sekadar rasionalitas. Ini adalah inti dari syariat dan tariqah, berfokus pada penyucian hati (tazkiyatun nafs) untuk makrifatullah (mengenal Allah). Ilmu hakekat ini lahir dari ihsan yang punya kaidah berdasarkan Hadits Jibril: 

أن تعبد الله كأنك ترأه #  فان لم تكن تراه فانه يراك

̣Engkau beribadah kepada Allah sẹolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ilmu Makrifat

Ilmu makrifat adalah tingkat pengetahuan tertinggi dalam Islam, yang bermakna menyaksikan Allah SWT (مشاهدة) secara mendalam, langsung, dan sebenar-benarnya melalui mata hati (bashiroh). Ini adalah pengetahuan eksperensial (pengalaman spiritual) yang membuat seseorang merasa melihat kekuasan-Nya pada segala sesuatu, dan mencapai kedamaian rasa yang hakiki. Ilmu ma’rifat ini lahir dari Ihsan yang punya kaidah berdasarkan Hadits Jibril.

Kesimpulan

Ketahuilah Agar supaya keimanan menuju ihsan (ma’rifatullah) dengan metode yang dikenal dengan syari’at, thoriqah, hakikat dan ma’rifat itu sebagai tangga mengevaluasi dalam mengetahui diri yang sejati. Hendaknya sudah tidak membeda-bedakan dan sudah tidak mengatakan “Jangan belajar hakekat sebelum faham syari’at”.    

Untuk menjalani kehidupan sehari-hari, tentunya dengan melafadkan, mengingat, mengenal, dan menyaksikan, berarti kita selalu terhubungan dengan Allah kapan pun dan di mana pun (وهو معكم اينما كنتم ) artinya, Dia bersama Kamu di mana pun kamu berada. Di situlah berdirinya kita yang diri sejati.

Baca Juga: Kandungan Surah Al-Ikhlas; Inti Ajaran Tauhid dalam Al-Quran


Penulis: HM. Amiruddin Asyafi’ie, S.Ag. M.Pd.

Editor: Sutan


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch