Mengapa Allah Tidak Segera Menyiksa Orang-Orang Kafir dan Zalim? – KonsultasiSyariah.com
Pendahuluan
Salah satu pertanyaan yang banyak membingungkan pikiran banyak orang adalah mengapa Allah membiarkan orang-orang kafir dan zalim tetap ada, dan tidak menghukum mereka segera? Al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyah telah menjelaskan pertanyaan ini dengan jawaban yang gamblang.
Penangguhan siksa Allah bagi mereka tidak menjadi tanda pengabaian atau kezaliman Allah. Na’udzubillah. Justru itu adalah bagian dari hikmah dan aturan-Nya dalam memberi ujian, rahmat-Nya dalam memberi manusia kesempatan untuk bertobat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, dan ketetapan-ketetapan-Nya berdiri di atas keadilan mutlak dan hikmah mendalam.
Definisi Penangguhan dan Istidraj
- Sunatullah dalam memberi penangguhan bagi para pelaku maksiat
Allah tidak terburu-buru menimpakan siksaan bagi setiap orang zalim begitu saja, tapi Dia memberinya kesempatan (penundaan) hingga batas waktu tertentu. Ini merupakan sunatullah yang disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
“Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)
Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Ayat ini memberi ketenangan bagi orang-orang beriman bahwa penangguhan siksaan bukan karena Allah lalai, tapi karena Dia telah menetapkan bagi setiap orang zalim waktu tertentu untuk kehancurannya, dan penundaan azab akan menambah dosa-dosa mereka, sehingga azab mereka akan semakin berat.” (Kitab Fath al-Qadir, jilid 3 hlm. 271)
Amir ash-Shan’ani berkata, “Sesungguhnya Allah tidak menyegerakan siksaan, tapi juga tidak melalaikannya. Namun, Allah memberi penangguhan agar pelaku maksiat bertobat, tapi jika ia terus melakukan kezalimannya, maka Allah akan menimpakannya dengan azab yang berat.” (Kitab Tathir al-I’tiqad, hlm. 42)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
“Sesungguhnya Allah benar-benar menangguhkan orang yang zalim. Namun, apabila Dia menghukumnya, Dia tidak akan membiarkannya lepas.” (HR. Al-Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583)
Ini menunjukkan bahwa penundaan siksaan bukan bentuk kelemahan atau kezaliman, tapi bagian dari pengaturan Allah Yang Maha Adil.
- Prinsip istidraj (siksaan bertahap melalui nikmat-nikmat)
Terkadang Allah Ta’ala memberi orang-orang kafir dan zalim penambahan nikmat duniawi sehingga mereka merasa aman, padahal sebenarnya itu adalah istidraj bagi mereka menuju kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَىٰ مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
“Jika engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia yang ia sukai, sementara ia terus melakukan kemaksiatan, maka sesungguhnya hal itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad no. 17311. Dinilai sahih oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami no. 602)
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Jenis siksaan terberat adalah ketika pelaku maksiat mengira sedang dalam keadaan aman dari makar Allah sehingga ia terus berlanjut dalam kezaliman dan kelalaiannya, hingga turun siksaan kepadanya secara tiba-tiba.” (Kitab I’lam al-Muwaqqi’in jilid 1 hlm. 134)
Dunia Adalah Negeri Ujian: Hikmah di Balik Adanya Orang-Orang Zalim
- Dunia adalah negeri ujian, bukan tempat keadilan mutlak
Allah menciptakan dunia ini agar menjadi tempat untuk ujian dan cobaan. Seandainya setiap orang zalim mendapat balasannya segera, niscaya maksud dari ujian itu tidak dapat terwujud. Allah Ta’ala berfirman,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dunia adalah medan ujian, sedangkan keadilan mutlak akan ditangguhkan hingga hari kiamat. Karena seandainya Allah membinasakan setiap pelaku dosa secara langsung, niscaya maksud dari tanggung jawab dan ujian tidak dapat terwujud.” (Kitab Majmu al-Fatawa jilid 14 hlm. 252)
Amir ash-Shan’ani menambahkan, “Kezaliman adalah bagian dari ujian. Dan adanya orang-orang zalim memberi orang-orang beriman kesempatan untuk bersikap tegar, sabar, dan berjihad di jalan Allah, dan ini termasuk hal yang meningkatkan derajat mereka di sisi Allah.” (Kitab Subul as-Salam jilid 4 hlm. 183)
- Penangguhan siksaan menjadi kesempatan untuk bertobat
Salah satu hikmah terbesar dari penangguhan siksaan adalah pemberian kesempatan untuk bertobat. Seandainya setiap pelaku maksiat disiksa begitu saja, niscaya tidak ada seorang pun yang mendapat kesempatan untuk kembali bertobat kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman,
وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ
“Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki rahmat. Sekiranya Dia menghukum mereka karena apa yang telah mereka perbuat, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka.” (QS. Al-Kahfi: 58)
Asy-Syaukani menjelaskan ayat ini dengan berkata, “Sesungguhnya penundaan siksaan bukan karena kelemahan, tapi karena rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya sehingga banyak pelaku maksiat dapat bertobat dan Allah selamatkan dari azab.”
Keadilan Mutlak akan Terwujud di Akhirat
- Siksaan terbesar akan diberikan di akhirat
Allah telah berjanji tidak akan ada orang zalim yang dapat terbebas tanpa mendapat perhitungan. Meskipun para pelaku kezaliman itu dapat selamat di dunia, tapi mereka tidak akan selamat dari keadilan Allah di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,
الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ghafir: 17)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Keadilan Allah itu mutlak, dan orang-orang zalim mungkin dapat menikmati arogansi mereka sementara waktu, tapi azab yang hakiki sedang menunggu mereka di akhirat. Dan itu adalah azab yang lebih berat dan kekal.” (Kitab Syarh Riyadh ash-Shalihin, jilid 3 hlm. 225)
- Beberapa contoh sejarah penundaan siksa dan pada akhirnya siksaan itu tiba
Sepanjang sejarah manusia, ada banyak contoh orang-orang yang diberi penangguhan oleh Allah, lalu pada akhirnya Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang berat.
- Fir’aun: Diberi kesempatan bertahun-tahun untuk bertobat, tapi ia justru terus menjalankan kezalimannya sehingga pada akhirnya ia ditenggelamkan. (Disebutkan dalam surat Yunus: 90)
- Kaum Ad dan Tsamud: Mereka mendustakan para rasul berkali-kali sehingga azab menimpa mereka. (Disebutkan dalam surat Hud: 59-68)
- Qarun: Dikaruniai kekayaan melimpah ruah, tapi ketika ia bersikap sombong terhadap manusia lainnya, Allah melenyapkannya bersama hartanya ke dalam tanah. (Disebutkan dalam surat al-Qasas: 81)
Ibnu Katsir mengatakan, “Penundaan siksa atas kaum-kaum itu bukan karena kelemahan dari Allah, tapi sebagai hikmah pemberian kesempatan. Namun, ketika mereka telah melampaui batas, mereka ditimpa azab yang keras.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3 hlm. 192)
Penutup: Keyakinan akan Keadilan Allah
- Penundaan siksaan adalah bagian dari hikmah Allah.
- Dunia adalah negeri ujian, sedangkan keadilan mutlak akan terwujud di akhirat.
- Penundaan siksaan adalah rahmat dan kesempatan untuk bertobat.
- Tidak ada satu pun orang zalim akan selamat dari keadilan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
“Sesungguhnya Allah benar-benar menangguhkan orang yang zalim. Namun, apabila Dia menghukumnya, Dia tidak akan membiarkannya lepas.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita kesabaran dan ketajaman hati dalam memahami keadilan dan hikmah-Nya. Amin.
***
Aqib Amin Ahangar Abu Yahya
Sumber:
PDF Sumber Artikel
🔍 Pahala Ibu Rumah Tangga, Jodoh Takdir, Cara Merangsang Istri Dalam Islam, Anal Enak, Tata Cara Sholat Jamak Qasar
Visited 1 times, 1 visit(s) today
Post Views: 0
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.