Menjaga Lisan di Pesantren: Ketika Candaan Bisa Menjadi Dosa
6 mins read

Menjaga Lisan di Pesantren: Ketika Candaan Bisa Menjadi Dosa


Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, banyak orang berusaha menampilkan citra terbaik di hadapan orang lain. Penampilan dijaga agar selalu rapi, media sosial dibuat menarik, dan perilaku di depan umum diusahakan terlihat baik. Namun, sering kali perhatian terhadap penampilan tidak diimbangi dengan perhatian terhadap lisan.

Fenomena ini juga dapat ditemukan di lingkungan pesantren. Para santri dibiasakan hidup dengan adab dan kedisiplinan. Pakaian dijaga kerapihannya, kitab selalu dibawa ketika mengaji, dan sopan santun diajarkan dalam berbagai aktivitas. Semua itu merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Akan tetapi, ada satu hal yang terkadang luput dari perhatian, yaitu cara berbicara.

Saat ini, penggunaan kata-kata kasar dalam percakapan sehari-hari seolah menjadi hal yang biasa. Ejekan sering dianggap candaan, bahkan sebagian orang menganggap semakin kasar candaan, semakin akrab hubungan pertemanan mereka. Akibatnya, batas antara bercanda dan menyakiti perasaan orang lain menjadi semakin kabur.

Di pesantren pun fenomena seperti ini masih dapat dijumpai. Ada yang mengejek kekurangan temannya dengan alasan bercanda, ada yang melontarkan kalimat menyakitkan lalu menutupinya dengan tawa. Tidak jarang muncul pembelaan seperti, “Kan cuma bercanda,” atau “Namanya juga teman dekat.”

Padahal, sesuatu yang dianggap lucu oleh satu orang belum tentu terasa lucu bagi orang lain. Bisa jadi seseorang tertawa hanya untuk menutupi rasa sakit hatinya. Bisa jadi ia diam bukan karena tidak tersinggung, melainkan karena memilih menyimpan perasaannya sendiri. Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati dalam berbicara, terutama kepada orang-orang yang setiap hari hidup bersama kita.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebagai tempat yang dekat dengan nilai-nilai agama, pesantren mengajarkan Al-Qur’an, hadis, dan akhlak. Oleh sebab itu, menjaga lisan seharusnya menjadi salah satu prioritas utama bagi setiap santri. Tidak cukup hanya rajin mengaji atau banyak menghafal, tetapi juga harus diiringi kemampuan menjaga perkataan.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari seberapa aman orang lain dari gangguan yang berasal darinya. Jika ucapan kita masih membuat orang lain tidak nyaman atau terluka, berarti masih ada bagian dari diri kita yang perlu diperbaiki.

Hidup di pesantren membuat interaksi dengan teman berlangsung hampir sepanjang hari. Kedekatan ini sering kali membuat seseorang merasa terlalu nyaman hingga lupa menjaga batas dalam berbicara. Saat lelah, seseorang mudah emosi. Saat bercanda, seseorang bisa kebablasan. Justru dalam situasi seperti itulah kualitas akhlak seseorang sedang diuji.

Sering kali kita menganggap dosa besar hanya berasal dari tindakan yang terlihat nyata. Padahal, ucapan yang keluar dari mulut juga dapat menjadi sumber dosa yang tidak disadari. Kata-kata yang dianggap sepele bisa meninggalkan luka yang bertahan lama dalam hati seseorang.

Rasulullah SAW juga mengingatkan:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat. [HR Muslim, no. 2988].

Hadis tersebut menunjukkan bahwa tidak ada ucapan yang benar-benar sepele di hadapan Allah. Satu hinaan, satu ejekan, atau satu komentar yang menyakitkan dapat menjadi sebab datangnya dosa.

Di era media sosial, tantangan menjaga lisan semakin besar. Apa yang kita tulis dalam komentar, status, maupun pesan pribadi juga termasuk bagian dari ucapan yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)..” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia berada dalam pengawasan Allah. Kesadaran tersebut seharusnya membuat kita lebih berhati-hati sebelum berbicara maupun menulis.

Pada akhirnya, menjadi santri tidak hanya tentang banyaknya hafalan atau rajinnya menghadiri majelis ilmu. Menjadi santri juga berarti berusaha menghadirkan akhlak terbaik dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk akhlak tersebut adalah menjaga lisan.

Sebab, kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak hanya diukur dari apa yang tampak oleh manusia. Bisa jadi yang membuat seseorang mulia bukan karena pakaiannya paling rapi atau hafalannya paling banyak, melainkan karena lisannya paling lembut dan paling menenangkan. Santri sejati adalah mereka yang ketika berbicara membuat orang lain merasa dihargai, ketika bercanda tidak ada yang tersakiti, dan ketika hadir di tengah masyarakat membawa ketenangan melalui setiap kata yang keluar dari lisannya.

Baca Juga: Mengatasnamakan Bully sebagai Candaan? Jangan Ya Dek Ya…


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch