Sunday, 25 Oct, 2026

Nukilan dari Firman Allah Ini Bukan Termasuk Doa – KonsultasiSyariah.com

Bismillahirrahmanirrahim 

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah, Yang Tidak Mempunyai Sekutu. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Semoga selawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Saya telah membaca selebaran yang dibagikan, tertulis di dalamnya dengan huruf yang besar, “Cukuplah Allah bagi kami! Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, “Demi Allah! Tidaklah aku berdoa dengan doa ini setelah tahiyat akhir saat mengalami perkara sulit, melainkan perkara itu menjadi mudah!!” Saya mendengar bahwa ucapan ini ada di dalam banyak website. Saya juga telah mendengar rekaman dari salah seorang Syaikh yang berkata:

“Jika kamu mengalami kesempitan rezeki, maka ucapkanlah:

حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ

‘Cukuplah Allah bagi kami! Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.’

Saya ulangi sekali lagi, jika kamu mengalami kesempitan rezeki, maka ucapkanlah:

حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ

‘Cukuplah Allah bagi kami! Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.’

Lalu jika ada orang yang berkata kepadamu, ‘Syaikh ini adalah pelaku bid’ah! Mana dalil yang menunjukkan amalan ini?’ Maka jawablah, ‘Allah Ta’ala telah berfirman tentang orang-orang munafik,

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا۟ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ

“Seandainya mereka (orang-orang munafik) itu rida dengan apa yang diberikan Allah dan rasul-Nya, dan berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami! Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 59).’

Adapun saat ini, Rasulullah telah wafat. Oleh karena itu, kita tidak mengucapkan:

حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ

‘Cukuplah Allah bagi kami! Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.’

Tetapi, jika kamu menghadapi urusan yang sulit, maka ucapkanlah ini (tanpa lafaz “Rasul-Nya”):

حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ

‘Cukuplah Allah bagi kami! Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.’

Ini adalah perkara yang diajarkan Allah kepada para hamba dan kekasih-Nya. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk dari mereka.”

Saya akan memberi komentar terhadap ucapan tersebut sebagai berikut:

  1. Ayat ini dan ayat sebelumnya ditujukan bagi segolongan dari orang-orang munafik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُواْ مِنْهَا رَضُواْ وَإِن لَّمْ يُعْطَوْاْ مِنهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوْاْ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.

Jikalau mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,’ (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At-Taubah: 58–59).

Dalam ayat-ayat ini tidak terdapat doa. Namun, yang ada di dalamnya adalah pengabaran tentang sebagian orang munafik yang hanya memiliki tujuan duniawi. Mereka merasa rida jika diberi zakat dan sebaliknya, mereka menjadi murka jika tidak mendapat bagian zakat.

Oleh sebab itu, mereka dianjurkan untuk merasa rida dengan apa yang telah Allah Ta’ala berikan kepada mereka dan yang telah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai perantara atas pemberian itu. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي

“Sesungguhnya aku hanyalah pembagi, sedangkan Allahlah yang memberi.” (HR. Imam al-Bukhari no. 71 dan Imam Muslim no. 2392).

Dalam ayat-ayat ini juga disebutkan anjuran bagi orang-orang munafik itu untuk bertawakal kepada Allah Ta’ala dengan mengucapkan, “Cukuplah Allah bagi kami!” Adapun ucapan mereka, “Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah” bukanlah doa, tetapi kabar tentang apa yang mereka harapkan dan karunia yang akan mereka dapatkan dari Allah dan Rasul-Nya di masa depan.

Hal itu sebagaimana yang telah mereka dapatkan di masa lalu yang disebutkan dalam firman-Nya, “Jikalau mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka…” Hasil dari perandaian ini tidak disebutkan. Namun, yang dimaksud adalah, “Niscaya itu lebih baik bagi mereka,” sebagaimana yang disebutkan oleh asy-Syaukani dalam tafsirnya.

Adapun Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata bahwa maksudnya adalah, “Niscaya mereka akan selamat dari sifat kemunafikan dan mendapat petunjuk menuju keimanan serta keadaan yang mulia.” 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab Majmu al-Fatawa, jilid 10, hlm. 36, “Allah telah menyebutkan kalimat, ‘حَسْبُنَا اللَّهُ’ (Cukuplah Allah bagi kami) terkadang dalam konteks untuk mengharapkan manfaat, terkadang dalam konteks untuk menghindari mudarat.

Dalam konteks pertama disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: 

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوْاْ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ

‘Jikalau mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya …”’ (QS. At-Taubah: 59).

Sedangkan dalam konteks kedua, disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

‘(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”’ (QS. Ali Imran: 173).

Juga disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

وَإِن يُرِيدُواْ أَن يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِيَ أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ

‘Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya …’ (QS. Al-Anfal: 62).

Dalam firman Allah Ta’ala, ‘Jikalau mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya …’ terdapat perintah untuk bersikap rida dan tawakal.”

Pengajaran yang disebutkan dalam ayat yang mulia ini sesungguhnya ditujukan kepada orang-orang munafik. Tidak ada pengajaran untuk berdoa dengan kalimat ini bagi para hamba dan kekasih Allah Ta’ala dengan menghapus kalimat “dan demikian (pula) Rasul-Nya”. Dalam perkataan Syaikhul Islam di atas juga tidak ada hal yang mengisyaratkan hal itu.

Saya juga tidak pernah menemukan penisbatan kepada salah satu ulama salaf yang berdoa dengan doa ini. Bahkan, Imam Ibnu Jarir berkata dalam tafsirnya, juga as-Suyuthi dalam kitab ad-Durr al-Mantsur—padahal kedua ulama ini sangat perhatian dalam menghimpun riwayat-riwayat dari para salaf—tidak menyebutkan apa pun tentang doa tersebut saat menafsirkan ayat ini.

Daripada memberi perhatian kepada doa yang tidak sahih ini dan menyibukkan orang lain dengan doa tersebut, lebih baik kita memperhatikan doa yang terdapat dalam Al-Qur’an al-Karim yang menghimpun kebaikan dunia dan akhirat, baik itu dalam urusan rezeki maupun lainnya, yaitu doa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dengan sanad yang bersambung kepada Abdul Aziz bin Shuhaib, ia berkata, “Qatadah pernah berkata kepada Anas radhiyallahu ‘anhu, ‘Doa apa yang dulu paling banyak diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Anas menjawab, ‘Doa yang paling banyak diucapkan Nabi adalah:

اللّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.’ Dahulu, jika Anas hendak berdoa dengan satu doa saja, maka dia akan membaca doa ini. Jika dia hendak berdoa dengan banyak doa, maka di antara doa yang dia baca adalah doa ini.” (HR. Imam Muslim no. 6840).

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Doa yang paling banyak diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

اللّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.’” (HR. Imam al-Bukhari no. 6389).

Doa ini juga di antara doa yang diriwayatkan dengan sahih untuk dibaca ketika tawaf mengelilingi Ka’bah. Diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dan Musnad Imam Ahmad dengan sanad yang hasan, dari Abdullah bin as-Saib, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan saat berada di antara dua rukun (Rukun Yamani dan Hajar Aswad):

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.’” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud no. 1892 dan Imam Ahmad no. 15398).

  1. Adapun penisbatan doa tersebut kepada Syaikh kami, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah untuk dibaca ketika tahiyat akhir dan sumpah beliau bahwa doa itu mendatangkan manfaat, maka penisbatan ini tidak benar. Penisbatan kepada beliau ini merupakan kesalahan yang jelas. Seandainya orang yang menisbatkan ini kepada beliau itu benar, niscaya dia akan menjelaskan landasannya, baik itu dari tulisan atau rekaman beliau. 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga tidak menyebutkan doa ini dalam buku beliau, Tuhfah al-Akhyar bi-Bayan Jumlah Nafi’ah Min Ma Warada fi al-Kitab wa as-Sunnah Min al-Ad’iyah wa al-Adzkar (Hadiah bagi orang-orang terbaik berupa penjelasan kalimat Penuh manfaat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah dari doa-doa dan zikir-zikir). Juga tidak beliau sebutkan dalam buku Kaifiyah Shalah an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (Tata Cara salat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Padahal dalam buku ini disebutkan pada bagian akhir salat, doa tasyahud, selawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, permohonan perlindungan dari azab neraka Jahannam, azab kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta fitnah Dajjal. Namun, beliau tidak menyebutkan doa ini. Beliau juga tidak menyebutkan doa ini dalam bab manasik haji untuk dibaca di padang Arafah dan tempat lainnya. 

Saya juga memiliki antusias besar untuk menghimpun doa-doa dan zikir-zikir yang disebutkan dalam Al-Qur’an al-Karim. Saya sebutkan dalam kitab Tabshir an-Nasik bi-Ahkam al-Manasik ‘ala Dhau-i al-Kitab wa as-Sunnah wa al-Ma’tsur ‘an ash-Shahabah pada bab “Doa-doa dan zikir-zikir dari Al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih yang dapat dibaca saat di Arafah dan lainnya” sebanyak 35 doa dan zikir.

Akan tetapi, tidak terlintas dalam pikiranku penyebutan doa ini karena bukan termasuk doa dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, lafaznya telah diubah dengan menghapus beberapa kata darinya, kecuali kalimat “حَسْبُنَا اللَّهُ”, ini adalah kalimat tawakal kepada Allah Ta’ala yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

  1. Semisal dengan doa yang diambil dari ayat yang ditujukan kepada orang-orang Munafik ini, beberapa orang juga berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُوا۟ ٱللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

“… jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul juga memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 64).

Lalu, mereka datang ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta agar beliau memohonkan ampunan untuk mereka. 

Tentu ini adalah bentuk penggunaan dalil yang tidak benar karena ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafik. Sebab, ayat sebelum dan setelahnya juga ditujukan kepada mereka. Maksudnya bukan datang ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kematian beliau, tetapi maksudnya adalah agar datang kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidup, sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Dahulu, para sahabat semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada beliau untuk meminta doa, lalu beliau mendoakan mereka. Adapun setelah beliau wafat dan hidup di alam barzakh, mereka tidak datang ke makam beliau untuk meminta doa. 

Oleh sebab itu, ketika terjadi kekeringan pada zaman Umar radhiyallahu ‘anhu, dia meminta hujan melalui Abbas radhiyallahu ‘anhu dan meminta kepadanya untuk berdoa agar diturunkan hujan. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dari Anas bin Malik bahwa ketika para sahabat mengalami kekeringan, Umar bin Khattab meminta hujan melalui wasilah Abbas bin Abdul Muttalib, dengan berdoa,

“Ya Allah! Dulu kami berwasilah dengan Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami berwasilah dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami juga!” Dan hujan pun turun kepada mereka. (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no. 1010).

Seandainya meminta doa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kematian beliau itu dibolehkan, niscaya Umar radhiyallahu ‘anhu tidak akan menggantinya dengan Abbas radhiyallahu ‘anhu saat berdoa meminta hujan.

Di antara dalil lain yang menunjukkan bahwa setelah kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak boleh dimintai doa dan permohonan ampunan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab ash-Shahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia pernah berkata, “Aduh kepalaku!” (mengeluhkan sakit kepalanya, hingga menyebutkan kematian).

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَاكِ لَوْ كَانَ وَأَنَا حَىٌّ فَأَسْتَغْفِرُ لَكِ وَأَدْعُو لَكِ

“Andai itu (kematian) benar terjadi dan aku masih hidup, maka aku akan memohon ampun dan berdoa untukmu.”

Aisyah menanggapi, “Ah celakalah! Sungguh aku mengira engkau suka kematianku …” (HR. Imam al-Bukhari no. 7217).

Seandainya beliau dapat memohonkan ampun dan berdoa untuk Aisyah setelah kematian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya tidak ada bedanya antara Aisyah meninggal terlebih dahulu atau sebaliknya. Hadis ini adalah penjelasan bagi ayat Al-Qur’an di atas, bahwa datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meminta doa dan permohonan ampun kepada beliau hanya boleh dilakukan pada masa hidup beliau, bukan setelah beliau wafat. Sunah adalah penjelas, penerang, dan penjabar bagi Al-Qur’an.

Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mengaruniakan taufik bagi kaum Muslimin untuk memahami agama dan teguh di atas kebenaran yang datang melalui Kitab Tuhan mereka dan sunah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga selawat, salam, dan keberkahan selalu tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga, dan seluruh sahabat beliau.

***

Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr

Sumber: 

PDF Sumber Artikel

🔍 Hukum Meninggalkan Sholat, Karma Membuang Kucing, Bentuk Sangkakala, Niat Solat Sunat Subuh, Shalat Hari Raya

Visited 3 times, 3 visit(s) today


Post Views: 2

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch