Hadis tentang Bau Mulut Orang Berpuasa dalam Perspektif Ulama
Saat bulan Ramadhan, seringkali kita disuguhkan dengan satu hadis yang menjelaskan bahwa bau mulut orang yang berpuasa, yang mana tidak sikat gigi atau bersiwak, memiliki aroma lebih wangi dari minyak wangi misk. Bagaimana memahami redaksi hadis tersebut, yang dalam kenyataannya tidak sedikit aroma bau mulut orang yang berpuasa, sejatinya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Pada tulisan ini, penulis mencoba memahami hadis tersebut dengan mengambil berbagai macam pendapat ulama.
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ، أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ، مَرَّتَيْنِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ، أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ، وَشَرَابَهُ، وَشَهْوَتَهُ، مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَ
Artinya: “Puasa adalah benteng penghalang, maka janganlah ia berucap dengam kalimat buruk, mencaci,dan menghina, jika ada yang mengganggunya atau mengumpatnya katakanlah aku puasa, aku puasa. Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya, sunnguh aroma tidak sedap di mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi misik, karena ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku (Allah SWT). Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang membalasnya, dan setiap pahala dibalas 10 kali lipat darinya.”
Imam Nawawi dalam mensyarahi kitab Shahih Muslim menjelaskan bahwa maksud dari Khulfah dalam sebuah riwayat tercantum adalah berubahnya aroma mulut (menjadin berbau tidak sedap). Kemudian beliau berkata, bahwasanya makna hadis tersebut, Al-Qadhi menyatakan bahwa menurut al-Maziri, redaksi hadis ini adalah berbentuk majaz dan isti’arah (makna kiasa dan perumpamaan). Karena pada dasarnya mencari wewangian suatu aroma itu termasuk salah satu sifat mahluk yang memiliki watak menyukai sesuatu wangi dan menjauh dari sesuatu yang jijik.
Al-Qadhi Iyadh berkata: ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa aroma bau ini akan mendapatkan balasan dari Allah di akhirat kelak. Maka bau mulutnya seseorang yang berpuasa tersebut akan beraroma wangi seperti minyak kasturi. Hal ini sebagaimana halnya darah orang yang mati syahid, aromanya nanti di akhirat seperti wangi kasturi.

Adapun pendapat yang paling shahih, berangkat dari salah satu ulama wilayah Maghrib, dan pendapat ini dikutip sebagaian ulama, bahwa bau aroma mulut orang yang berpuasa lebih baik banyak pahalanya daripada parfum kasturi yang dianjurkan digunakan pada setiap shalat Jumat, hari-hari raya, di majelis-majlis Hadis dan majlis-majlis lainnya.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani berkata; “al-Nawawi mengunggulkan pendapat terakhir ini. Kesimpulannya, beliau memahami makna thayyib (aroma wangi) sebagai penerimaan dan keridahaan Allah.”
Lalu apakah baunya berada di dunia atau di akhirat? Ada dua pendapat yang pertama oleh Ibn Abd al-Salam, bahwasanya baunya ini akan terjadi di akhirat sebagaimana darahnya orang yang mati syahid. Sedangkan Ibn al-Shalah berpendapat bahwa hal tersebut terjadi di dunia. Yang memiliki makna atas ridho dan penerimaan dari Allah. Pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama.
Akibat dari perbedaan ini, para ulama pun berbeda pendapat mengenai hukum bersiwak pada siang hari bagi orang yang berpuasa. Ulama yg berpendapat bahwa aroma wangi mulut orang yang berpuasa itu di akhirat, maka membolehkan bersiwak di siang hari. Adapun sebaliknya bagi ulama yang berpendapat bahwa aroma wangi mulut itu di dunia maka menghukum makruh bersiwak di siang hari.
Baca Juga: Penjelasan Soal Bau Mulut Orang Berpuasa
Sumber: Kitab Al-Turuq al-Shahihah fi Fahm al-Sunnah al-Nabawiyah
Penulis: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Sutan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.