KH. Hasyim Asy’ari dan Seni Menjaga Hati di Tengah Hiruk-Pikuk Digital
Kita hidup di sebuah zaman yang oleh Zygmunt Bauman disebut sebagai liquid modernity—era serba cair, cepat, dan tak menentu. Informasi datang bertubi-tubi, notifikasi tak pernah henti, dan jempol kita hampir selalu sibuk melakukan scrolling. Di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan sederhana tapi mendasar: di mana sebenarnya “jiwa” kita saat mata terpaku pada layar dan pikiran terseret arus linimasa?
Media sosial awalnya dijanjikan sebagai jembatan yang mendekatkan yang jauh. Namun perlahan, ia sering justru menjauhkan kita dari diri sendiri. Kita merasa terus terhubung, tetapi sekaligus hampa. Para psikolog menyebut gejala seperti ini sebagai kelelahan atau kekeringan batin; dalam tradisi keagamaan, sering disebut sebagai spiritual dryness—kekeringan spiritual yang membuat ibadah terasa kosong dan hidup kehilangan arah makna.
Fenomena ini bukan sekadar soal teknologi atau psikologi. Ini adalah masalah cara kita memaknai hidup, waktu, dan kehadiran diri di hadapan Tuhan dan sesama. Di titik inilah, menoleh kembali pada warisan intelektual Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menjadi relevan—bukan sebagai romantisasi masa lalu, tetapi sebagai cara menemukan kompas moral dan spiritual di tengah badai digital hari ini.
Melawan Berhala Baru Bernama “Engagement”
Salah satu kunci dalam karya KH. Hasyim Asy’ari, terutama dalam Adab al‑‘Alim wa al‑Muta‘allim, adalah pentingnya niat. Bagi beliau, amal tanpa niat yang lurus ibarat jasad tanpa ruh. Dalam hadis, prinsip ini dirumuskan secara tegas:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (Shahihain)
Di era media sosial, makna niat ini mengalami guncangan besar. Dulu, banyak orang berbuat baik diam-diam dengan harapan hanya Allah yang mengetahui. Kini, kebaikan sering terasa “kurang lengkap” kalau tidak diabadikan, diunggah, dan mendapat tanggapan. Algoritma media sosial menghadirkan berhala baru bernama engagement: jumlah likes, komentar, share, dan views yang seolah menjadi ukuran harga diri.
Tanpa disadari, niat kita bergeser dari mencari rida Ilahi menjadi mencari validasi insani. Kita mulai cemas ketika unggahan tak banyak disukai, sedih saat tak mendapat perhatian, dan terus memikirkan “konten apa lagi” yang bisa membuat kita tetap relevan. Kecemasan digital ini menggerus ketenangan batin dan menjadikan jiwa selalu gelisah menunggu pengakuan.
- Hasyim Asy’ari sangat menekankan bahaya riya’(pamer) dan sum‘ah(ingin didengar/dipuji). Riya’ adalah memperlihatkan amal saleh demi pandangan manusia; sum‘ah adalah upaya membangun citra agar kebaikan kita banyak dibicarakan. Di dunia digital, riya’ tampak ketika kita sengaja menampilkan foto, video, atau narasi tentang kebaikan diri untuk mendapat pujian publik. Sum‘ah muncul ketika kita merangkai cerita tentang diri—tanpa harus memperlihatkan gambar—agar nama kita ramai dibahas, dikutip, atau diviralkan sebagai sosok dermawan, alim, atau inspiratif. Al-Quran telah mengingatkan tentang orang yang beribadah karena riyā’:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ • الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ • الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (yaitu) orang-orang yang berbuat riya.” (QS. al-Mā‘ūn: 4–6)
Di dunia digital, riyā’ tampak ketika seseorang sengaja menampilkan foto, video, atau narasi tentang kebaikan diri demi pujian publik. Sum‘ah hadir ketika ia merangkai kisah amal agar namanya ramai dibahas, diviralkan sebagai sosok dermawan, religius, atau inspiratif. Padahal, banyak ulama mengingatkan:
مَنْ طَلَبَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ
“Barang siapa mencari ridha Allah dengan menanggung murka manusia, niscaya Allah akan ridha kepadanya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya.” ((HR. At-Tirmidzi)
Menurut perspektif ini, riyā’ dan sum‘ah dapat menghilangkan keberkahan amal yang tersisa tinggal kelelahan fisik dan kegaduhan batin. Di ranah digital, riyā’ dan sum‘ah membuat seseorang menjadi budak algoritma dan sandera komentar orang lain.
Tradisi pesantren menawarkan jalan alternatif melalui konsep zuhud: sikap batin yang merasa cukup dengan pengetahuan Allah atas amal kita, tanpa haus akan sorotan manusia. Dalam konteks media sosial, zuhud digital berarti tetap boleh berkarya, berbagi ilmu, dan memanfaatkan teknologi, tetapi tidak menggantungkan harga diri pada engagement. Kita mengunggah sesuatu sebagai ikhtiar kebaikan, bukan sebagai ajang pembuktian diri.
Melawan Arus “Fast Thinking” dan Budaya Serba Cepat
Platform video pendek dan linimasa yang terus mengulang konten baru melatih otak kita untuk hanya betah pada informasi singkat. Kita semakin sulit membaca teks panjang, apalagi merenungi makna di baliknya. Akibatnya, kemampuan berfikir mendalam dan reflektif perlahan tumpul.
Padahal, KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama pesantren adalah simbol kedalaman. Mereka menghabiskan bertahun-tahun mendalami satu cabang ilmu, menghafal kitab, berdiskusi, dan terutama, berlama-lama dalam munajat sebelum menetapkan sebuah fatwa. Setiap keputusan ilmiah lahir dari gabungan riset serius dan perenungan batin yang panjang.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ada nilai as‑sumt (diam) yang dipuji. Diam bukan pasif, tapi jeda yang memberi ruang bagi akal dan hati untuk mencerna. Dalam konteks digital, memilih “tidak langsung merespons”, menunda komentar, atau bahkan sengaja mengambil jeda dari media sosial dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya fast thinking.
Al-Qur’an pun mengajarkan etika berbicara yang sangat relevan untuk ruang digital, di antaranya perintah untuk berkata dengan:
قَوْلًا مَعْرُوفًا – perkataan yang baik (QS. al-Baqarah: 263), قَوْلًا كَرِيمًا – perkataan yang mulia (QS. al-Isrā’: 23), dan قَوْلًا بَلِيغًا – perkataan yang membekas (QS. an-Nisā’: 63)
Nilai-nilai ini dapat dibaca sebagai etika komentar dan posting di media sosial ialah tidak tergesa-gesa, tidak melukai, dan berusaha membawa manfaat. Dalam konteks digital, memilih “tidak langsung merespons”, menunda komentar, atau bahkan sengaja mengambil jeda dari media sosial dapat menjadi bentuk mujāhadah melawan budaya fast thinking. Ini sejalan dengan semangat adab yang ditekankan KH. Hasyim Asy’ari: berpikir jernih, menjaga lisan, dan menghubungkan ilmu dengan tanggung jawab moral.
Spiritualitas digital bukan berarti menolak gawai, keluar dari semua media sosial, atau kembali ke zaman tanpa internet. Ini soal bagaimana hadir secara utuh—fisik, mental, dan spiritual—di tengah ekosistem digital yang tak mungkin kita hindari. Kita tetap boleh hadir di media sosial, namun bukan sebagai budak algoritma, melainkan sebagai subjek merdeka yang membawa nilai, akhlak, dan visi spiritual dalam setiap klik.
Baca Juga: Fenomena Flexing: Antara Validasi Digital dan Keroposnya Spiritualitas
Penulis: Sya’ban Fadol. H
Editor: Sutan
Berita Terkini
Berita Terbaru
Daftar Terbaru
News
Jasa Impor China
Berita Terbaru
Flash News
RuangJP
Pemilu
Berita Terkini
Prediksi Bola
Technology
Otomotif
Berita Terbaru
Teknologi
Berita terkini
Berita Pemilu
Berita Teknologi
Hiburan
master Slote
Berita Terkini
Pendidikan
Resep
Jasa Backlink
Slot gacor terpercaya
Anime Batch