Mozaik Tradisi Maulid dari Sabang hingga Merauke
4 mins read

Mozaik Tradisi Maulid dari Sabang hingga Merauke


Ilustrasi pesona suasana maulid Nabi di Indonesia (sumber: beritantb)

Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, suasana masjid-masjid semakin ramai. Lantunan sholawat terdengar di setiap langgar hingga rumah-rumah warga, bahkan jalan-jalan pun kadang dihias dengan nuansa islami yang meriah. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya dipandang sebagai momen spiritual, tetapi juga sebagai pesta budaya yang mampu mengikat masyarakat dalam kebersamaan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya cinta umat kepada Nabi, sekaligus bukti bahwa agama dan budaya bisa berjalan beriringan.

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia sangat beragam. Hampir setiap daerah memiliki cara unik dalam memperingatinya. Ada yang menekankan sisi doa dan pengajian, ada pula yang merayakannya dengan arak-arakan, makanan besar, hingga simbol-simbol budaya lokal. Semua itu memperlihatkan wajah Islam Nusantara yang ramah, penuh warna, dan kaya makna.

Baca Juga: Perayaan Maulid Bukan Pasar Malam

Dari Sabang hingga Merauke, setiap tradisi menghadirkan pesan cinta, persaudaraan, dan penghormatan kepada Rasulullah. Berikut adalah sepuluh tradisi Maulid Nabi yang tersebar di berbagai daerah Indonesia:

  1. Sekaten & Grebeg Maulud (Yogyakarta & Surakarta)

Perayaan Sekaten sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Demak. Tradisi ini biasanya ditandai dengan tabuhan gamelan di Masjid Agung, pasar malam, hingga puncaknya berupa Grebeg Maulud. Pada momen itu, masyarakat berbondong-bondong mengikuti kirab gunungan hasil bumi yang kemudian diperebutkan sebagai berkah. Tradisi ini bukan hanya seremonial, tetapi juga cerminan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. (Khazanah-Republika)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  1. Muludan dan Panjang Jimat (Cirebon)

Di Cirebon, perayaan Maulid Nabi disebut Muludan. Salah satu tradisi utamanya adalah Panjang Jimat, yaitu pawai berisi makanan dan sesaji dari keraton yang kemudian diarak dan dibagikan. Prosesi ini diiringi doa dan sholawat, mencerminkan penghormatan kepada Nabi sekaligus kebersamaan masyarakat. (Metrotvnews)

  1. Walima (Gorontalo)

Tradisi Walima ditandai dengan arak-arakan tolangga, yaitu wadah berisi kue tradisional yang dihias indah. Tolangga diarak menuju masjid, lalu dibagikan kepada masyarakat. Filosofinya adalah kebersamaan dan berbagi rezeki sebagai wujud cinta kepada Nabi Muhammad SAW. (Kompas)

  1. Bungo Lado (Padang Pariaman, Sumatera Barat)

Masyarakat Padang Pariaman memiliki tradisi unik berupa Bungo Lado. Keluarga membuat “pohon” dari uang kertas, makanan, dan jajanan, yang kemudian disumbangkan untuk masjid atau panti asuhan. Tradisi ini melatih jiwa sosial dan menumbuhkan semangat berbagi. (Detik.com)

Baca Juga: Esensi Perayaan Maulid Nabi: Mewujudkan Refleksi dan Kesadaran

  1. Meuripee & Kuah Beulangong (Aceh)

Di Aceh, perayaan Maulid Nabi sering ditandai dengan kenduri besar. Masyarakat bersedekah sapi lalu memasak kuah beulangong, semacam gulai daging yang dimasak dalam jumlah besar. Setelah matang, makanan itu dinikmati bersama-sama di masjid. Tradisi ini menguatkan silaturahmi sekaligus menegaskan rasa syukur atas kelahiran Nabi. (Detik.com)

  1. Endog-endogan (Banyuwangi)

Tradisi Endog-endogan sudah berlangsung ratusan tahun. Masyarakat menancapkan telur rebus berwarna-warni di batang bambu, kemudian diarak keliling desa. Telur menjadi simbol lahirnya Nabi Muhammad SAW. Setelah prosesi selesai, telur dibagikan kepada anak-anak. (Liputan6)

  1. Keresen (Mojokerto)

Tradisi Keresen ditandai dengan pohon kersen yang dihiasi hasil bumi, makanan, dan kerajinan. Warga berebut mengambil isi pohon tersebut, mirip dengan tradisi panjat pinang. Filosofinya adalah berbagi rezeki dan mempererat hubungan sosial. (Detik.com)

  1. Rebu’en & Sebar Udikan (Probolinggo & Madiun)

Di Probolinggo ada Rebu’en, yaitu berebut hadiah berupa bahan makanan dan alat salat yang digantung di musala. Di Madiun, tradisi Sebar Udikan dilakukan dengan menyebarkan uang logam atau jajanan, terutama untuk anak-anak. Hal ini melatih kedermawanan sekaligus memeriahkan suasana Maulid Nabi. (Detik.com)

  1. Bale Saji (Bali)

Di Bali, umat Islam merayakan Maulid Nabi dengan tradisi Bale Saji. Hiasan berupa telur dan bunga dari kertas diarak keliling kampung. Filosofinya mirip dengan endog-endogan, yaitu simbol kelahiran Nabi dan rasa syukur masyarakat.

  1. Pembacaan Kitab Al-Barzanji (Jepara & Lombok)

Di Jepara dan Lombok, tradisi Maulid Nabi identik dengan pembacaan kitab Al-Barzanji yang berisi syair-syair tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini biasanya disertai doa, tausiyah, dan kadang dilanjutkan dengan lomba atau arak-arakan di kampung. (detikcom)

Baca Juga: Adakah Dalil Merayakan Maulid Nabi?

Tradisi-tradisi di atas memperlihatkan betapa kayanya ekspresi masyarakat Indonesia dalam merayakan Maulid Nabi, sebenarnya masih banyak tradisi yang ada di Indonesia, Ada yang penuh doa, ada yang sarat simbol, ada pula yang menekankan kebersamaan lewat makan bersama atau berbagi rezeki. Semua itu menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi bukan hanya bentuk kecintaan kepada Rasulullah, tetapi juga media menjaga persatuan, budaya, dan silaturahmi.

Nah, kalau di daerah kalian sendiri, ada tradisi Maulid Nabi yang khas juga tidak? Dan, bagaimana biasanya masyarakat setempat merayakannya?



Penulis: Albii


News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door